tirto.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah ke level 5.883,881 pada perdagangan, Rabu (24/6/2026). Mengutip RTI Business, indeks anjlok 217,4 poin atau sebesar 3,56 persen pada penutupan perdagangan.
Pergerakan IHSG sepanjang hari ini diwarnai oleh 98 saham menguat, 611 melemah dan 104 saham stagnan atau belum mengalami perubahan. Kapitalisasi pasar BEI tercatat sebesar Rp10.338 triliun.
Aktivitas perdagangan di bursa tercatat cukup aktif dengan 26,6 miliar saham berpindah tangan melalui 2.033.150 kali transaksi. Sementara nilai jual-beli saham tersebut tercatat mencapai Rp15 triliun.
Penurunan IHSG hari ini ditengarai oleh munculnya pengumuman hasil review indeks Indonesia oleh lembaga-lembaga pemeringkat global—Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Meski mempertahankan status Indonesia ke dalam emerging market atau pasar berkembang di dalam MSCI 2026 Market Classification Review, MSCI memberikan peringatan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI).
Jika reformasi transparansi dan tata kelola pasar tidak menunjukkan kemajuan dalam lima bulan ke depan, Indonesia berpotensi kehilangan status Emerging Market dan diturunkan ke Frontier Market. MSCI secara tegas menyebutkan tenggat November 2026 sebagai batas akhir penilaian.
"Jika kemajuan yang cukup tidak terlihat pada saat Tinjauan Indeks MSCI November 2026, MSCI akan mempertimbangkan serangkaian opsi untuk perlakuan yang tepat bagi pasar Indonesia, yang berpotensi mencakup konsultasi mengenai reklasifikasi Indonesia dari emerging market ke frontier market," demikian bunyi pengumuman resmi MSCI.
MSCI mengungkapkan investor institusi internasional berulang kali mengeluhkan dua masalah mendasar di pasar modal Indonesia: opasitas struktur kepemilikan saham dan dugaan perdagangan terkoordinasi.
Kedua persoalan ini dinilai secara material membatasi kemampuan investor asing untuk menilai free float atau saham beredar yang sebenarnya dan mengandalkan harga pasar untuk konstruksi portofolio serta replikasi indeks.
"Investor institusi internasional sering menyampaikan kekhawatiran kepada MSCI ketika mereka mengalami opasitas yang terus-menerus dalam struktur kepemilikan saham dan mencurigai adanya perilaku perdagangan terkoordinasi," tulis MSCI.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id


































