Menuju konten utama

IHSG Naik 0,56 Persen pada Awal Perdagangan 25 Juni 2026

Pergerakan IHSG diwarnai oleh 321 saham menguat, 171 melemah, dan 165 saham stagnan atau belum mengalami perubahan.

IHSG Naik 0,56 Persen pada Awal Perdagangan 25 Juni 2026
Pengunjung melintas di depan layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (24/4/2026). IHSG pada Jumat (24/4) ditutup melemah 249,12 poin atau 3,38 persen ke posisi 7.129,49, sementara indeks LQ45 turun 25,12 poin atau 3,51 persen ke posisi 690,76. ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah ke level 5.916,731 pada pembukaan perdagangan Kamis (25/6/2026). Mengutip RTI Business pukul 09.08 WIB, indeks lalu menguat sebesar 32,8 poin atau sebesar 0,56 persen sesaat setelah dibuka.

Pergerakan IHSG diwarnai oleh 321 saham menguat, 171 melemah, dan 165 saham stagnan atau belum mengalami perubahan.

Gerak IHSG pada awal perdagangan sesi pertama terpantau berada pada rentang 5.864,004 hingga 5.918,112 sementara kapitalisasi pasar tercatat mencapai Rp10.386 triliun.

Volume transaksi mencapai 1,9 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp1,2 triliun dan frekuensi perdagangan sebanyak 147.590 kali.

Mengutip Antara, pada perdagangan kemarin Rabu (24/6/2026), IHSG ditutup melemah seiring investor global bersikap risk off (menghindari aset berisiko), termasuk di emerging market seperti Indonesia.

"Dari eksternal, pasar masih mencermati arah suku bunga global, pergerakan yield US Treasury, serta penguatan dolar AS yang mendorong investor lebih berhati-hati terhadap aset berisiko di emerging markets. Dari domestik, pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar AS turut menekan market sentiment dan memicu aksi profit taking," ujar Pengamat Pasar Modal Elandry Pratama.

Selain itu, Elandry menyebut investor masih menunggu kejelasan implementasi sejumlah kebijakan fiskal dan program prioritas pemerintah, agar dapat mengukur dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi, defisit anggaran, serta keberlanjutan fiskal ke depan.

"Hasil review MSCI yang belum membawa perubahan status Indonesia juga membuat pasar belum memperoleh katalis positif baru dalam jangka pendek," ujar Elandry.

Elandry menjelaskan, saat ini investor asing cenderung bersikap wait and see. Di satu sisi, fundamental ekonomi Indonesia dan valuasi pasar saham masih relatif menarik dibandingkan beberapa negara regional.

Di sisi lain, investor global masih menunggu kepastian terkait stabilitas nilai tukar, arah kebijakan moneter global, efektivitas kebijakan fiskal pemerintah, serta konsistensi pelaksanaan program-program ekonomi yang telah dicanangkan.

"Kondisi tersebut membuat aliran dana asing belum masuk secara agresif dan cenderung selektif pada saham-saham berfundamental kuat dan likuiditas tinggi," ujar Elandry.

Dalam jangka pendek, Elandry memproyeksikan IHSG berpotensi bergerak konsolidatif dengan volatilitas yang masih cukup tinggi.

Selama belum terdapat katalis positif yang kuat baik dari sisi global maupun domestik, menurutnya, pergerakan pasar kemungkinan masih akan cenderung sideways dengan bias hati-hati.

Selain itu, pelaku pasar juga akan mencermati realisasi kebijakan fiskal pemerintah dan dampaknya terhadap aktivitas ekonomi pada semester II-2026.

"Namun, apabila tekanan eksternal mulai mereda, rupiah kembali stabil, dan terdapat kejelasan arah kebijakan ekonomi pemerintah yang mampu meningkatkan kepercayaan pasar, peluang terjadinya technical rebound dan perbaikan market sentiment tetap terbuka," ujar Elandry.

Baca juga artikel terkait IHSG atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Anggun P Situmorang