tirto.id - World Bank (Bank Dunia) mengungkapkan sejumlah faktor yang menjadi penyebab pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa bulan terakhir.
Lead Economist World Bank untuk Indonesia dan Timor Leste, Habib Rab, menjelaskan depresiasi tersebut telah berlangsung secara konsisten sejak pertengahan 2024. Ini dipicu oleh arus keluar modal yang meningkat seiring kebijakan bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka panjang.
Rab menjelaskan bahwa rupiah mengalami tekanan signifikan, terutama pada April 2025, ketika aksi jual aset ekuitas oleh investor asing meningkat. Fenomena ini juga terjadi di sejumlah negara berkembang lainnya seiring meningkatnya ketidakpastian global.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah sempat mencapai level terendah pada 24 April 2025, yaitu Rp15.865 per dolar AS.
"Meskipun arus keluar modal dari Indonesia relatif rendah, tekanan terhadap rupiah tetap kuat. Ini disebabkan oleh pasar keuangan Indonesia yang masih dangkal," ujar Rab dalam acara People-First Housing: A Roadmap From Homes to Jobs to Prosperity in Indonesia di Soehanna Hall, Jakarta, Senin (23/6/2025).
Rab mengilustrasikan kondisi pasar keuangan Indonesia seperti dua ember berisi air. "Bayangkan satu ember penuh dan satu lagi hanya terisi seperempat. Jika keduanya diguncang dengan kekuatan sama, ember yang lebih sedikit airnya akan menghasilkan riak lebih besar," katanya.
Artinya, meskipun guncangan eksternal yang dialami Indonesia tidak berbeda dengan negara lain, dampaknya lebih terasa karena pasar keuangan domestik yang belum mendalam.
Rab menambahkan, pada awal 2025, arus modal keluar semakin cepat. Investor asing tercatat menjual sekitar 0,3 persen dari aset rupiah yang tercatat dalam PDB, sementara investasi langsung (FDI) turun 3 persen.
Namun, ada sedikit pemulihan pada Maret 2025 ketika terjadi peningkatan aliran masuk ke obligasi pemerintah, yang membantu mengurangi net outflow.
"Yang perlu digarisbawahi adalah, meskipun net outflow Indonesia relatif kecil (0,3 persen dari PDB), depresiasi rupiah tetap tajam. Ini kembali menegaskan betapa pasar keuangan yang dangkal memperbesar dampak gejolak eksternal," ujar Rab.
Dia menekankan, secara keseluruhan volatilitas rupiah sebenarnya lebih rendah dibandingkan mata uang negara berkembang lain. Namun, struktur pasar yang terbatas membuatnya lebih rentan terhadap fluktuasi.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id






































