tirto.id - Bank Dunia (World Bank) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen pada 2026. Angka ini lebih rendah dibanding ramalan sebelumnya yang dirilis pada Oktober 2025 yaitu mencapai 4,8 persen.
Menanggapi ramalan tersebut, Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan (DJSEF Kemenkeu), Febrio Kacaribu meyakini, ekonomi Indonesia untuk sepanjang tahun ini bisa tetap tumbuh di kisaran 5,4 persen, sesuai dengan asumsi yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
“Yakin (ekonomi Indonesia 2026 tumbuh 5,4 persen),” tegasnya, di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Jakarta Pusat, Kamis (9/4/2026).
Keyakinan Febrio ini berasal dari laju konsumsi masyarakat yang masih tinggi dan juga belanja negara yang kian terakselerasi. Pun, sumbangan investasi yang mencapai 30 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan juga ekspor sekitar 25 persen terhadap PDB juga bakal menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional di tahun ini.
“Pertama kan kita lihat dari pertumbuhan ekonomi kita itu kalau secara sumbang sihnya itu sekitar 50 persen lebih kan dari konsumsi. Lalu dari belanja pemerintah itu sekitar 8-9 persen. Lalu dari investasi itu biasanya sekitar 30-an persen. Dari ekspor sekitar 25 persen. Nah jadi kontribusi dari berbagai aspek tersebut,” tuturnya.
Dari sisi sektor industri, Febrio yakin, tahun ini sektor pertanian akan melaju lebih kencang seiring dengan kenaikan panen padi di awal tahun ini. “Untuk beras itu di atas 13-14 persen pertumbuhannya tahun lalu,” lanjut Febrio.
Di sisi lain, program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga telah terbukti mendorong permintaan terhadap produk pertanian sejak 2025. Dengan fokus pemerintah untuk merealisasikan program MBG lebih gencar di tahun ini, Febrio menilai, pertumbuhan sektor pertanian juga akan melaju semakin kencang.
“Yang juga menarik adalah sektor manufaktur. Tahun lalu itu tumbuhnya 5,4 sekian persen. Itu juga tinggi. Biasanya kita di bawah 5 persen. Nah, ini artinya perekonomian kita memang sangat dinamis. Dan kita terus akan melanjutkan ini untuk tahun 2026,” jelas dia.
Meski begitu, Indonesia harus menghadapi tantangan besar seiring dengan masih terus berlanjutnya perang Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran. Namun, di balik ketidakpastian yang timbul karena konflik Teluk ini, Indonesia juga berpotensi mendapat keuntungan dari lonjakan harga berbagai komoditas dunia alias windfall, termasuk mineral.
“Ada (potensi) kenaikan penerimaan karena memang kenaikan harga-harga (komoditas). Jadi, harga batu baranya meningkat, harga CPO-nya meningkat, harga nikel juga meningkat, tembaga juga meningkat. Tanpa ada perubahan kebijakan itu membuat penerimaan kita pasti akan meningkat,” beber dia.
“Tapi yang kedua kita juga ingin bahwa harga yang meningkat ini juga disertai dengan tambahan windfall,” tambah Febrio.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































