tirto.id - Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut kunjungan kerjanya ke Jepang menjadi momentum untuk mempercepat pengembangan proyek gas Lapangan Abadi di Blok Masela, Maluku, yang telah tertunda selama 27 tahun.
Percepatan tersebut, kata dia, didorong oleh kepastian investasi dari perusahaan eksplorasi dan produksi minyak dan gas (migas) terbesar di Jepang, Inpex Corporation.
Sebagai informasi, nilai dasar pengembangan proyek (DPOD) mencapai sekitar 20 miliar dolar AS atau setara Rp339,88 triliun (asumsi kurs Rp16.994 per dolar AS). Selain itu, terdapat tambahan sekitar 1 miliar dolar AS untuk penerapan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) agar proyek lebih ramah lingkungan.
“Atas arahan Bapak Presiden di tahun 2025, kami melakukan pertemuan intensif dan alhamdulillah sudah selesai, total project-nya 20,9 miliar US dolar karena dia tambah CCS 1 miliar, DPOD-nya itu 20 miliar. Tetapi dengan perkembangan geopolitik yang seperti ini kemungkinan besar akan nambah. Jadi total investasi kita kurang lebih sekitar 300 triliun (rupiah) lebih,” ungkapnya dalam keterangan pers di Tokyo seperti dikutip dari YoTube Sekretariat Presiden, Selasa (31/3/2026).
Lebih lanjut, Bahlil menegaskan Presiden Prabowo telah menginstruksikan percepatan implementasi proyek tersebut guna memperkuat ketahanan energi nasional. Ia bahkan meyakini, ketika proyek Blok Masela mulai beroperasi, Indonesia berpotensi menjadi salah satu pemain gas terbesar di dunia.
“Kalau ini mampu kita lakukan maka ketahanan energi kita di sektor migas itu akan semakin kuat dan sekaligus menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemain gas di dunia,” tegasnya.
Selain pengembangan Blok Masela, pemerintah juga memperkuat komitmen untuk mempercepat transisi menuju energi baru terbarukan. Bahlil menegaskan Indonesia akan mengoptimalkan seluruh potensi energi yang dimiliki di tengah ketidakpastian global.
“Memang kita lagi dorong untuk mempergunakan seluruh potensi energi lain selain fosil yang kita punya. Kenapa? Karena geopolitik ini kita gak pernah tahu kapan selesai. Jadi mau geotermal, mau air, mau matahari, mau angin, selama ada teknologi harganya efisien, kita akan dorong,” ujarnya.
Menurut Bahlil, capaian tersebut tidak lepas dari koordinasi solid antarkementerian dan lembaga selama kunjungan ke Jepang. “Ini adalah bagian daripada upaya untuk melakukan itu, dan semua ini sudah tentu bisa terjadi karena koordinasi yang baik yang dilakukan oleh Pak Seskab sebagai ketua kelas dalam mengoordinasi urusan-urusan ini di Jepang,” tuturnya.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































