Menuju konten utama

Apindo Soroti Ledakan Pekerja Informal dan Pengangguran Gen Z

Dia menyebut, 10 tahun lalu investasi Rp1 triliun berkontribusi pada penyerapan 4.000 tenaga kerja, saat ini hanya seribuan.

Apindo Soroti Ledakan Pekerja Informal dan Pengangguran Gen Z
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Shinta W. Kamdani menyampaikan paparan saat acara Media Briefing APINDO Indonesia Quarterly Update di Jakarta, Selasa (13/5/2025). ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, menilai Indonesia menghadapi tantangan serius dalam penciptaan lapangan kerja formal.

Menurutnya, hal ini terjadi akibat fenomena deindustrialisasi prematur, di mana investasi kini lebih banyak mengalir ke sektor padat modal dan jasa dibandingkan padat karya. Kondisi ini mengancam potensi bonus demografi yang bisa berubah menjadi beban.

"Ada premature deindustrialization. Kenapa? Karena kontribusi manufaktur terhadap PDB itu terus menurun. Dan ini yang saya rasa kita lihat selama satu dekade terakhir, 9 dari 15 subsektor manufaktur itu justru menyusut," ujarnya dalam acara Investortrust Economic Outlook 2026 di Jakarta, Rabu (5/11/2025).

Menurutnya, gejalanya tampak pada data kuartal II-2025. Sektor jasa tumbuh pesat di atas 8 persen, sementara sektor padat karya seperti tekstil hanya tumbuh 4,3 persen dan furniture bahkan mengalami kontraksi.

Pola investasi pun mengikuti tren ini dengan konsentrasi tertinggi pada mesin dan peralatan sebesar 28,8 persen serta pertambangan 10 persen.

"Nah, sektor manufaktur ini kan penyerap tenaga kerja terbesar ya, 61 persen. Itu untuk formal ya, saya gak bilang informal. Nah, jauh lebih tinggi dibandingkan pertanian cuma 12 persen atau akomodasi dan makanan itu cuma 29 persen," ujarnya.

Dampaknya terhadap penyerapan tenaga kerja sangat terasa. Dia menyebut, 10 tahun lalu investasi Rp1 triliun berkontribusi pada penyerapan 4.000 tenaga kerja, saat ini hanya seribuan.

"Kalau kita lihat dari investasi yang masuk, itu 10 tahun terakhir dari Rp1 triliun investasi, sekarang penyerapan tenaga kerjanya itu sudah turun hampir seperempatnya. Tadinya Rp1 triliun bisa menyerap 4 ribuan, sekarang Rp1 triliun cuma 1.200an,” jelasnya.

Akibatnya, terjadi lonjakan pekerja informal yang kini mencapai 60 persen tenaga kerja Indonesia.

“Makanya masalah kita ini sebenarnya bukan di bekerjanya saja, tapi jenis pekerjaannya. Karena kita sekarang sudah masuk yang besarnya itu 60 persen di industri, di informal," tandas Shinta.

Parahnya lagi, 67 persen pengangguran berasal dari Generasi Z. Data BPS menunjukkan persaingan memperebutkan lowongan kerja semakin ketat, di mana satu lowongan kini diperebutkan oleh 16 pencari kerja, jauh meningkat dari sebelumnya yang hanya 2 orang.

"Makanya kita selalu menggaungkan sekarang itu kalau demografi, bonus demografi ini bisa menjadi liability. Kenapa? Karena masalahnya kita gak bisa cukup menyiapkan lapangan kerja formal," ucapnya.

Untuk dapat menciptakan lapangan kerja yang lebih besar, menurut Shinta perlu menarik investasi yang lebih banyak, sembari membenahi industri padat karya nasional yang sedang terseok-seok.

“Bagaimana kita bisa menciptakan lebih banyak di formal? Nah, tadi dikatakan investasi, ya betul investasi memang harus lebih banyak masuk,” tuturnya.

Baca juga artikel terkait APINDO atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dwi Aditya Putra