tirto.id - Sejak kecil kita dibiasakan untuk rajin menyikat gigi. Ketika bangun tidur, setelah makan, sebelum tidur, gigi harus senantiasa dibersihkan agar sisa-sisa makanan lenyap. Tujuannya jelas, dengan menyikat gigi yang rutin, kita bisa mencegah gigi berlubang, menghindari nyeri gigi yang mengganggu, menekan risiko gusi berdarah, dan menjaga napas tetap segar. Kebiasaan ini juga melindungi kita dari infeksi mulut yang bisa membuat makan dan berbicara terasa menyakitkan.
Akan tetapi, manfaat rajin menyikat gigi ternyata tidak berhenti di situ. Berbagai penelitian terbaru menunjukkan korelasi antara kesehatan mulut dengan kesehatan organ tubuh bagian dalam, khususnya jantung. Ya, kebiasaan yang tampak sederhana ini rupanya memiliki impak yang lebih besar bagi kesehatan tubuh secara umum.
Selama bertahun-tahun, para ilmuwan menemukan pola yang konsisten. Yakni, orang dengan penyakit gusi cenderung lebih sering mengalami penyakit jantung. Pada 2012, American Heart Association (AHA) meninjau bukti yang ada dan menyimpulkan bahwa memang ada hubungan kuat antara keduanya. Tetapi, mereka menekankan bahwa bukti saat itu belum cukup untuk menyebutnya sebab-akibat.
Sejak itu, bukti baru bermunculan. Sebuah tinjauan besar pada 2024 yang menggabungkan 41 ulasan sistematis juga menunjukkan temuan yang konsisten: penyakit gusi maupun kehilangan gigi berkaitan dengan meningkatnya risiko serangan jantung, stroke, hingga perubahan pada pembuluh darah.
Hasil serupa terlihat dalam penelitian populasi modern. Studi UK Biobank pada 2024, yang melibatkan hampir setengah juta orang, menemukan bahwa orang dengan penyakit gusi memiliki 9 persen risiko lebih tinggi terkena penyakit arteri koroner. Sementara itu, riset di Korea Selatan pada 2020, yang meneliti lebih dari 160 ribu orang, mendapati bahwa mereka yang menyikat gigi tiga kali atau lebih dalam sehari memiliki risiko lebih rendah terkena fibrilasi atrium sekitar 10 persen dan gagal jantung sekitar 12 persen.
Apa yang Terjadi dalam Tubuh?
Bagaimana mungkin masalah pada gusi bisa berdampak pada organ vital seperti jantung? Penjelasan sederhananya terletak pada peradangan kronis dan bakteri mulut.
Penyakit gusi atau periodontitis adalah kondisi radang yang berlangsung dalam waktu lama. Saat gusi meradang, tubuh menghasilkan molekul peradangan yang bisa menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Molekul-molekul inilah yang diyakini dapat mempercepat proses aterosklerosis, yaitu penumpukan plak di pembuluh darah yang menjadi penyebab utama serangan jantung dan stroke.

Selain itu, bakteri mulut bisa masuk ke aliran darah, bahkan melalui aktivitas sederhana seperti mengunyah atau menyikat gigi sekalipun. Penelitian di India ini telah menemukan DNA bakteri mulut di dalam plak aterosklerosis manusia, termasuk bakteri berbahaya bernama Porphyromonas gingivalis.
Ulasan lain di Frontiers in Immunology pada 2021 dan 2024 menegaskan bahwa Porphyromonas gingivalis mampu mengganggu fungsi dinding pembuluh darah dan memperburuk sistem kekebalan tubuh, sehingga menciptakan kondisi yang lebih rentan terhadap penyakit jantung.
Merawat Gusi = Merawat Jantung?
Dengan bukti-bukti yang sudah ditemukan, kita bisa ajukan pertanyaan baru: Apakah merawat gusi bisa memperbaiki kesehatan jantung? Ternyata, sejumlah penelitian memberi jawaban yang cukup optimistis.
Sebuah analisis pada 2024 menunjukkan bahwa perawatan periodontitis, seperti pembersihan mendalam pada gigi dan gusi, mampu memperbaiki fungsi pembuluh darah yang diukur melalui flow-mediated dilation (FMD). Selain itu, terapi gusi juga terbukti menurunkan kadar C-reactive protein (CRP), salah satu penanda peradangan yang sudah lama dikenal sebagai faktor risiko penyakit jantung, sebagaimana ditunjukkan dalam Journal of Periodontal Research.
Bahkan, studi lain melaporkan bahwa setelah perawatan gusi, tekanan darah sistolik dan molekul peradangan seperti interleukin-6 (IL-6) ikut menurun. Kendati demikian, semua penelitian ini baru menunjukkan perbaikan pada penanda biologis. Belum ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa terapi gusi benar-benar menurunkan angka kejadian serangan jantung atau stroke di populasi luas.
Pendapat Kelompok yang Skeptis
Meski hasil-hasil di atas menarik, ada juga suara skeptis dari penelitian genetika. Studi dengan pendekatan Mendelian randomization, yang memanfaatkan variasi genetik sebagai “percobaan alamiah”, mencoba melihat apakah penyakit gusi benar-benar menjadi penyebab langsung penyakit jantung.
Ternyata, penelitian besar yang dipublikasikan di Atherosclerosis dan International Dental Journal sama-sama tidak menemukan bukti kausal.
Artinya, meskipun studi observasional menunjukkan orang dengan penyakit gusi lebih sering mengalami serangan jantung atau stroke, analisis genetik tidak mendukung anggapan bahwa penyakit gusi adalah penyebab langsungnya. Dalam bahasa sederhana, punya gusi yang sakit tidak otomatis membuat jantung Anda rusak. Bisa saja ada faktor lain yang “menyamar” sebagai penyebab, padahal sebenarnya dialah yang memengaruhi keduanya sekaligus.

Contoh paling jelas adalah kebiasaan merokok. Merokok bisa merusak gusi serta memicu periodontitis, dan pada saat yang sama juga meningkatkan risiko penyakit jantung. Jika orang yang merokok sering terkena dua-duanya, maka akan tampak seolah-olah penyakit gusi dan penyakit jantung saling berhubungan, padahal penyebab utamanya adalah rokok. Hal serupa berlaku untuk diabetes yang tidak terkontrol, pola makan tinggi gula dan lemak, atau akses kesehatan yang terbatas. Semua itu bisa memperburuk kondisi mulut sekaligus jantung.
Namun, ketiadaan kausalitas ini bukan berarti kesehatan mulut tidak penting. Sebaliknya, penelitian ini memperjelas bahwa menjaga kebersihan mulut adalah salah satu bagian dari gaya hidup sehat secara menyeluruh. Namun, pesan utamanya adalah kita tidak boleh melebih-lebihkan manfaatnya: menyikat gigi memang bermanfaat luas, tetapi tidak bisa dianggap sebagai antidot yang otomatis mencegah serangan jantung.
Jadi, Kita Mesti Bagaimana?
Lalu, apa yang bisa kita lakukan dari semua temuan ini? Jawabannya sederhana saja, sebenarnya. Menyikat gigi setidaknya dua kali sehari, atau tiga kali kalau bisa, adalah langkah awal yang terbukti melindungi kesehatan mulut dan mungkin juga berpengaruh pada jantung. Membersihkan sela gigi dengan benang atau sikat interdental juga penting untuk menjangkau area yang tidak bisa dibersihkan sikat gigi biasa.
Pemeriksaan rutin ke dokter gigi pun tidak kalah penting, karena bisa mendeteksi tanda-tanda periodontitis sejak dini. Bagi orang yang sudah memiliki penyakit jantung, menjaga kebersihan mulut adalah bagian dari perawatan menyeluruh, meski tentu tidak bisa menggantikan obat dan terapi medis yang diberikan dokter.
Lalu, bagaimana dengan antibiotik sebelum cabut gigi atau prosedur lain? Menurut American Dental Association (ADA), antibiotik hanya diperlukan bagi pasien dengan kondisi jantung tertentu yang berisiko sangat tinggi terhadap infeksi, bukan untuk semua orang. Hal yang sama juga ditegaskan oleh American Heart Association (AHA).
Pada akhirnya, sains masih terus menggali apakah hubungan mulut dan jantung bersifat kausal atau tidak. Tetapi satu hal yang jelas: merawat gigi dan gusi tidak hanya memberi senyum sehat, melainkan juga berpotensi menjaga tubuh, termasuk jantung, tetap dalam kondisi terbaik.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id































