Menuju konten utama

Apakah Koperasi Merah Putih Bisa Untung Rp1 Miliar per Tahun?

Apakah benar Koperasi Merah Putih bisa untung Rp1 miliar per tahun? Simak ulasannya pada artikel berikut.

Apakah Koperasi Merah Putih Bisa Untung Rp1 Miliar per Tahun?
Menteri Koperasi Budi Arie Setiadi (21/5/2025).ANTARA FOTO/Reno Esnir/sgd/Spt.

tirto.id - Pemerintah berencana memberikan plafon pinjaman sebesar Rp3 miliar kepada Koperasi Merah Putih sebagai modal awal. Hal ini disampaikan langsung oleh Zulkifli Hasan, Menteri Koordinator Bidang Pangan sekaligus ketua Satuan Tugas (Satgas) pembentukan Koperasi Merah Putih.

"Ini bukan hibah. Tahap awal, plafon pinjaman hingga Rp3 miliar per koperasi, dengan tenor enam tahun," ujar Zulkifli kepada Tirto, pada Sabtu (17/5/2025).

Pada kesempatan yang lain, Menteri Koperasi, Budi Arie Setiadi mengklaim, setiap Koperasi Merah Putih dapat meraup keuntungan hingga Rp1 miliar per tahun.

Kalkulasi itu katanya dihitung dari selisih harga dari petani ke harga jual konsumen, serta distribusi komoditas subsidi negara. Apakah Koperasi Merah Putih bisa untung Rp1 miliar per tahun?

Potensi Keuntungan Koperasi Merah Putih Rp1 Miliar per Tahun

Koperasi Merah Putih dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat di tingkat desa dengan cara memperhatikan potensi yang ada dan kesejahteraan anggota.

Guna mencapai tujuan, Koperasi Merah Putih dapat membuka sejumlah unit bisnis. Di antaranya seperti gerai sembako, gerai obat murah/apotek desa, kantor koperasi, koperasi simpan pinjam, klinik desa, pergudangan, dan logistik.

Pada tahap operasional, Koperasi Merah Putih perlu dikelola secara profesional, akuntabel, dan transparan. Artinya, motor penggerak Koperasi Merah Putih harus memiliki kompetensi dan kredibilitas yang baik.

Budi Arie menjelaskan dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR RI di Jakarta, Senin (26/5/2025), Koperasi Merah Putih dibilang berpotensi meraup keuntungan hingga Rp1 miliar per tahun atau Rp80 triliun untuk 80 ribu koperasi.

Keuntungan dihitung dari selisih harga atau ketimpangan antara harga di tingkat petani/produsen dan harga jual di perkotaan.

Peluncuran Koperasi Merah Putih di Palu

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Yandri Susanto (tengah) bersama Wamendes PDT Ahmad Riza Patria (kedua kanan), Gubernur Sulteng Anwar Hafid (ketiga kiri) dan Wagub Sultteng Reny A Lamdjido (kedua kiri) menekan tombol menandai peluncuran Koperasi Merah Putih di Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (22/5/2025). ANTARA FOTO/Basri Marzuki/YU

Pada forum tersebut, Budi Arie juga memaparkan data Kementerian Pertanian. Isinya menunjukkan bahwa para middleman, rentenir, dan tengkulak bisa mengantongi hingga Rp300 triliun dari desa. Ia memberi contoh wortel yang dibeli Rp500 dari petani bisa dijual Rp5.000 di kota.

“Nilai orang tengah ini terlalu besar. Jadi tidak adil buat masyarakat desa, tidak adil juga buat masyarakat kota,” ujar Budi Arie.

Koperasi Merah Putih disebut dapat memanfaatkan peluang untuk melakukan efisiensi jalur distribusi dari desa ke kota. Dirinya memperkirakan Rp90 triliun atau sekitar 30% dari total Rp300 triliun tersebut dapat diselamatkan dan dialirkan kembali ke desa.

Data ini kemudian menjadi telaah asal-usul perhitungan potensi keuntungan Rp1 miliar per unit koperasi.

Selain ketimpangan harga dari petani dan harga jual, Menteri Koperasi juga menyoroti efisiensi dalam penyaluran subsidi, seperti pupuk dan LPG. Masyarakat seringkali membeli pupuk dan barang subsidi lain di atas harga yang telah ditetapkan.

Ia mencontohkan subsidi pupuk sebesar Rp43 triliun. Harga pupuk dari pabrik sekitar Rp2.300 per kg dan ongkos angkut Rp300-Rp400. Harganya dibanderol menjadi Rp2.600. Namun, di pasaran harga pupuk bersubsidi bisa melonjak hingga Rp4.800 per kg.

"Delta-nya terlalu besar, dan itu sangat merugikan buat masyarakat, rakyat, atau petani yang seharusnya menikmati subsidi," ujar Budi Arie, pada Senin (26/5/2025).

Koperasi Merah Putih diklaim menjadi unit bisnis yang dapat memastikan barang-barang atau komoditas subsidi negara sampai ke masyarakat secara efektif, efisien, dan benar-benar dinikmati masyarakat.

Baca juga artikel terkait KOPERASI MERAH PUTIH atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - Edusains
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo