Menuju konten utama

Apa Kesulitan Penggunaan Angin Sebagai Sumber Energi Alternatif?

Angin merupakan salah satu sumber energi yang bisa dimanfaatkan sebagai energi alternatif. Namun, ada beberapa kesulitan dalam pemanfaatan energi angin.

Apa Kesulitan Penggunaan Angin Sebagai Sumber Energi Alternatif?
Seorang pria berselancar layang-layang di depan kincir angin Burbo Bank di New Brighton, Inggris, Senin (3/9/2018). ANTARA FOTO/REUTERS/Phil Noble

tirto.id - Energi angin adalah energi yang dihasilkan dari pergerakan udara. Karena udara yang bergerak ini selalu ada dan menjadi fenomena alam sehari-hari, angin dapat menjadi salah satu sumber energi alternatif.

Apa keuntungan dari penggunaan energi angin sebagai sumber energi alternatif? Angin dikenal sebagai sumber energi alternatif terbesar di dunia. Energi angin juga dikenal sebagai energi yang bersih dan ramah lingkungan karena tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca. Selain itu, tidak memerlukan bahan bakar fosil dalam proses pemanfaatan energi angin.

Akan tetapi, terdapat sejumlah kesulitan atau tantangan dalam penggunaan energi angin sebagai sumber alternatif. Lantas, apa saja kesulitan dari penggunaan angin sebagai sumber energi alternatif?

Kesulitan Penggunaan Angin Sebagai Sumber Energi Alternatif

Terdapat beberapa kesulitan dalam penggunaan angin sebagai sumber energi alternatif. Salah satu kesulitan dalam pemanfaatan energi alternatif angin ialah sulit diprediksi datangnya. Hal ini karena angin bergantung pada cuaca.

Pusat Data dan Teknologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengulas masalah tersebut dalam buku Perkiraan Penyediaan dan Pemanfaatan Energi Skenario Optimalisasi EBT Daerah (2016). Dalam buku tersebut dijelaskan, rendahnya kecepatan angin menjadi masalah utama yang menyebabkan energi angin kurang diminati di Indonesia.

Seperti di daerah tropis pada umumnya, angin yang terjadi di wilayah Indonesia cenderung bersifat lokal. Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan tekanan antarwilayah serta variasi suhu akibat pemanasan matahari.

Dalam buku tersebut juga dijelaskan, kecepatan angin rata-rata yang terukur di Indonesia berkisar antara 2,5-5,5 meter/detik pada ketinggian 24 meter di atas permukaan tanah. Namun, teknologi yang memanfaatkan angin umumnya dirancang untuk kecepatan angin yang lebih tinggi dari itu.

Hal serupa juga dibahas dalam penelitian yang diterbitkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional. Tulisan yang ditulis oleh Taufal Hidayat itu berjudul Wind Power in Indonesia: Potential, Challenges, and Current Technology Overview (2022).

Taufal Hidayat memaparkan, kecepatan angin minimum yang diperlukan untuk memutar bilah turbin angin ialah 5 meter/detik. Sementara itu, wilayah Indonesia memiliki kecepatan angin tahunan yang rendah, antara 3-6 meter/detik. Dengan kecepatan angin tahunan rata-rata di Indonesia, potensi energi angin di Indonesia terbilang rendah.

Berdasarkan laporan dari Institute for Essential Services Reform yang dikutip oleh Taufal Hidayat, terdapat perbedaan yang signifikan antara potensi tenaga angin dan surya fotovoltaik.

Potensi tenaga surya fotovoltaik mencapai 7.714,6 GW, sementara potensi tenaga angin hanya sebesar 194 GW, baik di darat maupun di lepas pantai. Hal ini menunjukkan, di Indonesia, tenaga surya fotovoltaik memiliki potensi yang jauh lebih besar dibandingkan tenaga angin

Penelitian itu juga menjelaskan bahwa investasi awal untuk pembangunan ladang angin baru cukup tinggi. Pada 2017, investasi awal untuk ladang angin sekitar USD 0,02/kWh (Lee & Zhao, 2021). Investasi utama berasal dari biaya area dan turbin.

Oleh karena itu, untuk mengoptimalkan potensi energi angin, diperlukan penelitian lebih lanjut, terutama mengenai jenis bilah yang dapat berputar pada kecepatan angin yang lebih rendah. Selain itu, penelitian lebih lanjut juga sangat penting dilakukan untuk mengurangi biaya energi ladang angin.

Apa Kekurangan Penggunaan Sumber Energi Angin?

Meskipun potensi energi angin sebagai sumber energi terbarukan di Indonesia terus berkembang, terdapat beberapa masalah yang muncul setelah pemasangan dan pengembangan energi angin.

Masalah-masalah yang muncul itu menjadi kekurangan dalam penggunaan sumber daya angin. Namun, kekurangan penggunaan sumber energi angin tentu tidak sebanyak dampak negatif sumber daya fosil.

Lalu, apa kekurangan dari sumber energi angin? Masih dalam penelitian Wind Power in Indonesia: Potential, Challenges, and Current Technology Overview (2022), Taufal Hidayat menjelaskan kekurangan sumber energi angin sebagai berikut.

1. Kebisingan

Ladang angin dapat menyebabkan kebisingan mekanis dan elektrik. Beberapa laporan dan studi penelitian menunjukkan bahwa ladang angin dapat menghasilkan polusi suara hingga menyebabkan emosi negatif, insomnia, dan berbagai gejala lainnya. Menurut ISO, tingkat kebisingan yang diizinkan di daerah pemukiman adalah 45 dB, dan untuk daerah industri hingga 50 dB.

Kebisingan aerodinamis ini terjadi dari banyak faktor seperti desain baling-baling, kecepatan rotasi, kecepatan angin, dan turbulensi aliran. Selain itu, kebisingan aerodinamis juga menjadi masalah utama yang disebabkan oleh ladang angin.

Beberapa ilmuwan berpendapat, energi kinetik angin dari ladang angin berskala besar dapat mempengaruhi perubahan iklim lokal dan global. Oleh karena itu, penting untuk membatasi kecepatan rotor turbin angin di bawah 70 m/s.

2. Masalah ekologis

Kekurangan dari sumber energi angin juga berkaitan dengan masalah ekologis. Ladang angin berpotensi memengaruhi populasi hewan, terutama populasi burung dan kelelawar.

Beberapa studi mengungkapkan bahwa ladang angin dapat mengganggu migrasi burung dan kelelawar. Selain itu, pembangunan ladang angin juga berpotensi memengaruhi kualitas tanah sekitarnya.

3. Memerlukan area pemasangan yang luas

Ladang angin memerlukan area pemasangan yang luas dan tidak mungkin disembunyikan. Jarak minimum ladang angin adalah lima kali diameter rotor, artinya untuk turbin angin standar 2 MW dengan diameter baling-baling 40 m, area yang dibutuhkan adalah 40 kilometer persegi untuk satu turbin. Hal tersebut dapat mengganggu pemandangan sekaligus mengurangi lahan pertanian.

Baca juga artikel terkait EDUKASI DAN AGAMA atau tulisan lainnya dari Umi Zuhriyah

tirto.id - Pendidikan
Kontributor: Umi Zuhriyah
Penulis: Umi Zuhriyah
Editor: Fadli Nasrudin