Jangan Remehkan Polusi Suara

Polusi suara akibat kebisingan lalu lintas di Jakarta. TIRTO/Andrey Gromico.
Oleh: Wan Ulfa Nur Zuhra - 28 Maret 2017
Dibaca Normal 2 menit
Polusi suara bisa menyebabkan gangguan pendengaran dan kardiovaskular pada manusia, hingga merusak pola hidup hewan liar.
tirto.id - Sejak lahir, selama ia tak memiliki masalah pendengaran, manusia terbiasa mendengar suara-suara. Suara hewan peliharaan, tangisan dan jeritan anak, kendaraan, musik, televisi, hingga azan dari pengeras suara masjid. Manusia yang bisa mendengar, menjalani hidup dengan berbagai suara-suara yang mampu ditangkap telinganya.

Meski sudah terbiasa, belum tentu suara-suara itu tak mendatangkan masalah. Suara musik yang sangat keras bisa saja membangunkan manusia dari tidurnya yang lelap di malam hari, atau bising kendaraan yang memekakkan telinga. Ketika suara-suara ini mengganggu, maka ia disebut polusi suara.

Nur Azizah, perempuan asal Medan pernah punya pengalaman buruk tentang polusi suara. Pada hari Minggu di Januari 2014, Azizah memutuskan menghabiskan waktunya di rumah. Ia berniat menumpahkan penat dan lelah. Hari Minggu itu, dia berencana menghabiskan waktu dengan membaca, tidur siang, serta hal-hal lain yang membantu tubuh dan pikirannya untuk istirahat.

Semua rencananya berjalan lancar sampai jam 2 siang ia mendengar suara dentuman musik cukup keras dari ruangan bawah kamarnya. Kebetulan, kamar Azizah berada di lantai dua. Meski sedikit mengganggu, ia masih bisa berdamai dengan musik itu.

Tak lama kemudian, suara musik dan orang bernyanyi setengah teriak terdengar lebih kencang dari rumah tetangga. Konsentrasi membaca Azizah langsung pecah. Ia merasa sangat terganggu dan tak bisa berdamai dengan musik sekeras itu. Tak hanya keras, menurut Azizah, musik dan nyanyiannya juga sumbang, tak enak didengar. Akhirnya ia mengalah, dan memutuskan menghabiskan Minggu di luar rumah.

Apa yang dialami Azizah, mungkin kerap dialami oleh banyak orang. Saat Bandara Polonia masih beroperasi di Medan, desing pesawat terbang menjadi suara yang sehari-hari akrab di telinga warga sekitar bandara.

Conserve Energy Future menyebutkan beberapa sumber polusi suara dalam kehidupan sehari-hari. Di antaranya industrialisasi, tata kota yang buruk, kegiatan sosial, transportasi, aktivitas konstruksi, hingga peralatan rumah tangga.

Di pabrik-pabrik dengan mesin kompresor, generator, hingga kipas penyaring udara yang besar, polusi suara sudah menjadi keniscayaan. Oleh sebab itu, para pekerja pabrik biasanya memakai penutup telinga untuk meminimalkan efek buruk dari polusi suara itu.

Perencanaan tata kota yang buruk juga bisa menjadi sumber polusi suara. Ini biasanya terjadi di negara berkembang. Di India, polusi suara adalah masalah besar. Suara klakson kendaraan, hingga musik dengan pengeras suara memberi sumbangan bagi polusi suara di kota-kota di India. Pemerintah India telah mengeluarkan aturan tentang petasan dan pengeras suara, namun penegakan hukum atas aturan tersebut sangat lemah.

Di kota-kota besar di Indonesia, suara klakson dan mesin kendaraan juga menjadi hal yang kerap menganggu. Tak hanya itu, pengeras suara di tempat ibadah pernah juga menjadi masalah.

Tentang pengeras suara di mesjid, Direktorat Jenderal Bidang Masyarakat Islam, Kementerian Agama, sebenarnya telah mengeluarkan Instruksi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor Kep/D/101/1978 tentang Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, Langgar, dan Musala.

Dalam beleid itu, termaktub sejumlah batasan-batasan penggunaan pengeras suara di rumah ibadah, dalam hal ini, mesjid. Disebutkan bahwa pada dasarnya, suara yang boleh disalurkan ke luar masjid hanyalah suara adzan, sebagai penanda telah tiba waktu salat. Namun, ada kondisi-kondisi lain yang diperbolehkan menyalurkan suara ke luar. Waktu penggunaan pengeras suara pun dibatasi, maksimal 15 menit setiap tiba waktu salat.

Sementara itu, pelaksanaan pengajian rutin di mesjid hanya boleh menggunakan pengeras suara yang diarahkan ke dalam untuk bisa didengar peserta pengajian, bukan ke luar mesjid. Pengeras suara boleh diarahkan ke luar jika memperingati hari besar Islam. Hanya saja, sejumlah mesjid tak benar-benar mematuhi aturan itu.



Polusi suara, bukan hanya mengganggu ketenangan dan komunikasi antarmanusia, tetapi juga bisa berdampak buruk bagi kesehatan manusia itu sendiri. Menurut Conserve Energy Future, kebisingan yang terus menerus dan konstan dapat mengakibatkan kerusakan gendang telinga. Ia bahkan bisa membuat manusia kehilangan indera pendengarannya.

Masalah kesehatan jiwa juga menjadi ancaman dari polusi suara. Suara yang berlebihan di wilayah kerja seperti kantor, lokasi konstruksi, bar, atau bahkan di rumah, bisa memengaruhi kesehatan psikologis. Ia memicu perilaku agresif, gangguan tidur, stres, kelelahan, hingga hipertensi.

Kebisingan dengan intensitas tinggi juga bisa menyebabkan tekanan darah tinggi dan meningkatnya denyut jantung. Ini karena polusi suara bisa mengganggu aliran darah normal.

Tak hanya pada manusia, kehidupan hewan pun kerap mendapat masalah karena polusi suara. Suara yang terlalu bising bisa memicu kematian beberapa spesies. Ikan paus salah satunya. Kebisingan, mengganggu reproduksi dan navigasi beberapa spesies saat mereka sedang migrasi.

Suara bising yang dihasilkan kapal membuat invertebrata laut, seperti kepiting stres. Hal itu dijelaskan dalam laporan berjudul Size-Dependent Physiological Responses of Shore Crabs to Single and Repeated Playback of Ship Noise, yang terbit Februari 2013 lalu. Dijelaskan bahwa saat mendengar suara kapal, konsumsi oksigen kepiting pantai lebih besar dari biasanya. Dengan kata lain, suara kapal membuat kepiting menjadi lebih pemarah.

Polusi suara yang dihasilkan aktivitas manusia, tentu hanya bisa diminimalkan oleh manusia. Ia bisa dimulai dengan mengurangi produksi suara dalam rumah tangga. Tidak menyalakan televisi dan musik terlalu keras yang mengganggu tetangga. Atau mengurangi memencet klakson jika tak begitu diperlukan. Aturan tegas dari pemerintah juga sangat diperlukan.

Polusi suara tak bisa diremehkan!

Baca juga artikel terkait LINGKUNGAN atau tulisan menarik lainnya Wan Ulfa Nur Zuhra
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Wan Ulfa Nur Zuhra
Penulis: Wan Ulfa Nur Zuhra
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight