tirto.id - Hari Raya Idul Adha menjadi salah satu momentum penting bagi umat Islam di seluruh dunia. Bersamaan dengan Idul Adha juga dilaksanakan penyembelihan hewan kurban hingga hari tasyrik berakhir.
Umat Islam yang mampu melaksanakan ibadah kurban akan menyerahkan hewan kurban untuk disembelih oleh panitia pelaksana kurban. Ibadah kurban menjadi bentuk ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah Swt.
Niat tulus ikhlas ibadah kurban telah sampai pada Allah Swt. bahkan sebelum darah hewan kurban menetes di tanah. Darah atau daging kurban tidaklah sampai pada Allah Swt., tetapi Allah Swt. melihat ketakwaan hamba-Nya melalui ibadah kurban.
Pelaksanaan kurban mempunyai makna spiritual yang mendalam. Umat Islam di seluruh dunia meneladani kisah Nabi Ibrahim as. yang ikhlas mengorbankan putranya demi melaksanakan perintah Allah Swt.
Allah Swt. kemudian menggantinya dengan seekor domba. Kisah sejarah inilah yang menjadi bagian dari pelaksanaan ibadah kurban bagi umat Islam.
Apa Itu Ibadah Kurban?

Umat Islam akan berlomba-lomba untuk melaksanakan ibadah kurban setiap tahunnya. Menurut syariah sendiri, kurban adalah ibadah yang dilaksanakan dengan menyembelih hewan tertentu pada waktu tertentu, sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah Swt.
Melansir laman Muhammadiyah, kata ‘qurban’ berasal dari 'qaruba-yaqrubu-qurbanan' yang berarti ‘hampir, dekat, atau mendekati’. Kata ‘qurban’ dalam bahasa Arab disebut ‘udhhiyyah’.
Kata ‘udhhiyyah’ merupakan bentuk jama’ dari kata dlahiyah yang berarti binatang sembelihan, disebut juga nahr (ibadah qurban). Dalil pelaksanaan ibadah kurban bisa ditemukan dalam Al-Qur’an. Salah satunya dalam QS. Al-Kautsar ayat 2:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ ٢
Fa shalli lirabbika wan-ḫar
“Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!”
Kandungan makna dari ayat ini menegaskan perintah Allah Swt. kepada umat Islam untuk melaksanakan kurban sebagai bagian dari ketundukan kepada-Nya. Hewan yang boleh dikurbankan pun diatur dengan ketat sesuai syariat, yakni unta, sapi, kambing, atau domba yang sehat dan telah cukup umur.
Hukum pelaksanaan ibadah kurban adalah wajib bagi yang mampu. Melansir laman Muhammadiyah, Rasulullah saw. melarang mendekati tempat salatnya menunjukkan bahwa dia (yang tidak berkurban padahal ia mampu) meninggalkan kewajiban.
Penggambaran ini seakan-akan Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah salat yang dilaksanakan berfaedah, karena meninggalkan kewajiban ini (berkurban) karena firman Allah Swt.: “maka salatlah karena Tuhan kamu dan berkurbanlah” dan hadis Nabi saw. “Wajib bagi penghuni rumah berkurban dalam setiap tahun”.
Hukum Selfie dengan Hewan Kurban

Pelaksanaan ibadah kurban kini tak hanya tentang membeli hewan kurban dan menyerahkannya kepada panitia. Kini banyak orang yang berkurban ingin mengabadikan momen bersama hewan kurban melalui foto dan video.
Setelah itu, dokumentasi tersebut diunggah ke media sosial. Lantas, apa hukum selfie dengan hewan kurban menurut Islam?
Secara hukum, tidak ada larangan eksplisit yang mengharamkan selfie dengan hewan kurban. Selfie dengan hewan kurban boleh saja dilakukan dengan adab dan tidak melanggar nilai kesantunan dan tidak merendahkan ibadah kurban itu sendiri.
Hukum selfie dengan hewan kurban adalah mubah atau boleh selama tidak disertai niat riya atau pamer. Dalam Islam, niat memegang peran penting dalam setiap amalan. Nabi Muhammad saw. bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
"Sesungguhnya segala perbuatan itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya,” (HR Bukhari dan Muslim).
Hadis di atas menjelaskan bahwa segala sesuatu amalan tergantung pada niatnya. Jika dibawa pada konteks selfie dengan hewan kurban, maka perlu kembali dipastikan niatnya.
Foto hewan kurban selfie untuk tujuan dokumentasi, edukasi, dakwah semangat beribadah, niat tersebut diperbolehkan. Namun, kalau tujuannya untuk pamer riya’, mempermalukan hewan, seperti berpose tak pantas atau mempermalukan hewan secara kasar demi konten, hal ini bisa masuk ranah tidak etis hingga berdosa.
Umat Islam juga wajib memperhatikan adab terhadap hewan kurban. Islam mengajarkan umatnya untuk menyembelih hewan kurban dengan cara yang baik dan tidak menyakiti hewan kurban.
Memperlakukan hewan kurban sebagai objek hiburan demi konten bisa dianggap tidak menghormati makna ibadah tersebut. Dengan demikian, perlu dipertegas dan diperjelas terlebih dahulu apa sebenarnya niat yang dimiliki saat hendak berselfie foto hewan kurban.
Hikmah Ibadah Kurban

Ibadah kurban mengandung nilai-nilai kebaikan yang sarat akan makna. Ini terangkum dalam berbagai hikmah pelaksanaan ibadah kurban. Apa saja hikmah syariat kurban? Melansir laman Muhammadiyah, berikut hikmah pelaksanaan ibadah kurban:
1. Sebagai Ungkapan Syukur kepada Allah Swt.
Kurban merupakan wujud ungkapan syukur kepada Allah Swt. yang sudah mencurahkan banyak nikmat kepada hamba-Nya. Pelajaran penting tentang ini dapat diambil dari kisah keluarga Nabi Ibrahim as.Kesabaran, ketakwaan, dan keimanan Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. menjadi wujus rasa syukur keduanya terhadap nikmat Allah Swt. Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. mengajarkan nilai kecintaan kepada Allah Swt. di atas segalanya.
2. Wujud Takwa kepada Alah Swt.
Hikmah ibadah kurban selanjutnya ialah sebagai wujud takwa kepada Allah Swt. Kurban dapat membina ketakwaan dan keimanan kepada Allah Swt.Ibadah kurban mengajarkan untuk mengimani dan menaati perintah Allah Swt. Terlebih lagi, kurban diniatkan hanya untuk Allah Swt. Ibadah ini mengajarkan makna untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.
3. Peduli Sesama
Ibadah kurban memiliki hikmah penting tentang kepedulian terhadap sesama. Kurban dapat membangun kesadaran terkait kepedulian terhadap sesama, terutama terhadap orang miskin.وَالْبُدْنَ جَعَلْنٰهَا لَكُمْ مِّنْ شَعَاۤىِٕرِ اللّٰهِ لَكُمْ فِيْهَا خَيْرٌۖ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ عَلَيْهَا صَوَاۤفَّۚ فَاِذَا وَجَبَتْ جُنُوْبُهَا فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّۗ كَذٰلِكَ سَخَّرْنٰهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ٣٦
Wal-budna ja‘alnâhâ lakum min sya‘â'irillâhi lakum fîhâ khairun fadzkurusmallâhi ‘alaihâ shawâff, fa idzâ wajabat junûbuhâ fa kulû min-hâ wa ath‘imul-qâni‘a wal-mu‘tarr, kadzâlika sakhkharnâhâ lakum la‘allakum tasykurûn
“Unta-unta itu Kami jadikan untukmu sebagai bagian dari syiar agama Allah. Bagimu terdapat kebaikan padanya. Maka, sebutlah nama Allah (ketika kamu akan menyembelihnya, sedangkan unta itu) dalam keadaan berdiri (dan kaki-kaki telah terikat). Lalu, apabila telah rebah (mati), makanlah sebagiannya dan berilah makan orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta-minta. Demikianlah Kami telah menundukkannya (unta-unta itu) untukmu agar kamu bersyukur.”
Etika yang Perlu Diperhatikan saat Foto Hewan Kurban

Foto bersama hewan kurban boleh dilakukan asal tidak salah niatnya. Selain itu, perlu diperhatikan juga etika-etika penting saat selfie bersama hewan kurban. Apa saja?
- Hindari berfoto dengan ekspresi berlebihan sehingga bisa menimbulkan kesan tidak menghormati ibadah kurban
- Hindari unggah foto atau video penyembelihan hewan kurban secara vulgar. Tindakan ini bisa memicu ketidaknyamanan bagi orang lain
- Pastikan dulu bahwa hewan kurban dalam keadaan tenang dan tidak stres saat akan berfoto selfie dengan hewan kurban
Secara hukum, selfie dengan hewan kurban dibolehkan atau mubah selama tidak mengandung unsur pamer, tidak menyakiti hewan kurban, dan tetap menjaga nilai ibadah kurban. Islam mengajak umatnya untuk selalu bertindak dengan niat yang baik.
Perhatikan adab dalam setiap tindakan, termasuk saat akan mengambil foto hewan kurban. Pahami terlebih dahulu niat yang ada dalam hati saat akan berfoto bersama hewan kurban.
Memuliakan ibadah kurban lebih daripada sekadar berfoto bersama hewan kurban. Utamakan untuk menjadikan media sosial sebagai media berdakwah.
Jangan malah menjadikan media sosial sebagai ladang untuk pamer dan mencari validasi. Mari menjadikan momentum Idul Adha sebagai waktu untuk memperkuat keimanan dan meneguhkan kepedulian sosial.
Penulis: Nurul Azizah
Editor: Nurul Azizah & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id






































