tirto.id - Ega (22) adalah satu dari skitar 30 ribu orang yang terjun mengikuti Magang Merdeka dari Program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) angkatan ke-7. Ega bahkan telah mengalahkan 187 ribuan pendaftar MSIB di akhir tahun lalu, yang belakangan transisi menjadi “Magang Berdampak”.
Selama empat bulan, dari September sampai Desember 2024, Ega menjajal posisi content writer di salah satu perusahaan media Grup Bakrie di Jakarta Timur. Di posisi itu, per hari ia ditugasi menulis tiga artikel di kanal bisnis, gaya hidup, atau showbiz (budaya populer atau berita hiburan).
“Tapi misalnya liputan paling enggak sampai tiga gitu, atau boleh tiga tapi yang duanya artikel liputan, yang satunya boleh kanal lain gitu. Pokoknya tiga per hari,” kisahnya kepada jurnalis Tirto, Senin (6/10/2025).
Dari pekerjannya itu, sehari-hari Ega mesti menjahit sebanyak 3.000 kata untuk tiga artikel. Pengalamannya itu disebut sangat berarti dan membantu memperkenalkan dunia kerja yang sesungguhnya, setelah di kampus kebanyakan hanya diajarkan tentang hal-hal teoritis.
“Jadi kita pas magang ini tuh benar-benar dikasih kesempatan buat mempraktikkan apa yang kita udah dapet di kampus ke dunia kerja yang sebenarnya. Terus aku jadi lebih ngerti kayak gimana sih harus beradaptasi di lingkungan baru, terus dapet tanggung jawab profesional, terus sesuai deadline dan lain-lain,” kata Ega yang baru saja lulus dari D3 Penerbitan Politeknik Negeri Jakarta (PNJ).
Tak hanya pengalaman kerja, ia juga dapat uang saku dari pemerintah lantaran MSIB merupakan salah satu program kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek).
Oleh karenanya per dua bulan, Ega mengantongi Rp2,8 juta, uang itu ia manfaatkan sebagai biaya transportasi dan makan selama magang. “Kalau misalnya kita bukan anak beasiswa KIP (Kartu Indonesia Pintar Kuliah) itu dapat gajinya per dua bulan itu Rp5,6 juta. Tapi misalnya kita dapet beasiswa KIP itu dipotong jadi cuma setengahnya,” tuturnya sebagai penerima program Kartu Indonesia Pintar Kuliah.
Besaran cuan yang dianggap lebih besar di antara pilihan magang mandiri lain, jadi alasan utama Ega mendaftar program MSIB. Sebab selain untuk operasional magang, uang itu juga dia sisihkan untuk menabung.
Antusiasme terhadap MSIB memang tercermin dari ratusan ribu mahasiswa yang berbondong-bondong mendaftarkan diri. Jumlah pendaftar batch 7, tengah tahun 2024 lalu, mencapai 187 ribuan mahasiswa itu bahkan melesat ketimbang angkatan sebelumnya yang tercatat hanya 150 ribu orang.
Seiring dengan peningkatan jumlah mitra dan kuota yang terus ditambah, jumlah peserta yang diterima juga diketahui cenderung naik. Pada angkatan satu misalnya, pemerintah menetapkan kuota MSIB hanya sebanyak 12.084, dengan komposisi 6.434 kuota untuk magang dan 5.650 untuk studi independen (SI).
Kemudian pada MSIB 2, jumlahnya bertambah menjadi 23.039 orang, yang merupakan gabungan magang dan SI. Lalu pada MSIB 6 semakin melonjak, dengan komposisi kuota magang dan SI masing-masing sebanyak 21.950 orang dan 26.034 orang, dan pada MSIB 7 yakni berjumlah 33.610 orang untuk magang dan 16 ribu orang untuk studi independen.
Angka Pengangguran Terdidik Naik?
Program MSIB sendiri bernaung di bawah kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dan diluncurkan sejak 2021 lalu. Seperti disebut di laman Kemendikbud Ristek, esensi program ini yakni untuk mendekatkan semua pemangku kepentingan yaitu perguruan tinggi dengan dunia nyata termasuk dengan dunia industri, sehingga menghasilkan mahasiswa yang siap di dunia nyata setelah lulus nanti.
Dengan kata lain, program ini membantu menghasilkan mahasiswa yang siap terjun ke dunia kerja. MSIB dikatakan menjadi program paling favorit yang dipilih mahasiswa dengan lebih dari 70 persen mahasiswa memilih untuk mengikuti magang.
Kepala Program MSIB Kemendikbud Ristek, Wachyu Hari Haji, menyampaikan di tengah demografi dan visi Indonesia Emas 2045, Indonesia masih menghadapi masalah, yakni tingginya angka pengangguran terdidik, alias para alumni perguruan tinggi yang belum bekerja. MSIB diproyeksikan dapat membantu lulusan perguruan tinggi untuk mendapat pekerjaan.
"Ada sekitar 5,32 persen. Dan harapannya nanti di tahun 2045 pengangguran terbuka ini bisa turun menjadi 4 persen. Ini Bapak Ibu, perlu kami sampaikan kondisi di Indonesia dan tugas besar ini tentunya tidak hanya di Kementerian Pendidikan Kebudayaan dan Teknologi, tapi semua pihak untuk bersama-sama. Kami harapkan mahasiswa bisa ikut atau mengikuti program ini agar teman-teman segera nanti setelah lulus mendapatkan pekerjaan,” kata Wachyu saat sosialisasi MSIB Angkatan 7, April 2024 lalu.
Pertanyaannya, seberapa signifikan program magang akhirnya menjawab penyerapan tenaga kerja? Jika melongok data Badan Pusat Statistik (BPS), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di kalangan Diploma I/II/III pada 2024 mencapai 4,83 persen, sementara TPT Universitas berada di level 5,25 persen.
TPT di dua kelompok itu merangkak naik dari tahun sebelumnya yang hanya menyentuh 4,79 persen untuk Diploma dan 5,18 persen untuk kategori lulusan Universitas. Meski angka pengangguran terdidik sempat melorot pada tahun 2021 dan 2022, pada dua tahun setelahnya trennya cenderung meningkat.
Meski tak bisa menjamin angka pengangguran itu dipenuhi oleh mereka yang memiliki pengalaman magang, kenaikan TPT terdidik menunjukkan masih adanya masalah penyerapan tenaga kerja di Indonesia, termasuk mereka yang terdidik.
Pakar Ketenagakerjaan Timboel Siregar menilai, perlu adanya aksi konkret setelah magang. Dengan kata lain, pemerintah bisa menyalurkan daftar nama pemagang beserta keahlian dan keterampilannya kepada perusahaan yang membutuhkan, sehingga mereka yang pernah magang bisa dicarikan informasi pasar kerja.
“Jadi pemagangan ini enggak berhenti pada memagangkan orang, peserta-peserta magang ini sudah setelah dapat skill, enggak diminati oleh perusahaan atau perusahaan tidak membuka lowongan kerja kan? Nah, pemerintah ngapain dengan orang-orang yang sudah dididik ini,” kata Timboel saat berbincang lewat telepon, Senin (6/10/2025).
Menurutnya, produk dari MSIB bisa menghasilkan data yang bisa dikerjakan oleh pemerintah, sehingga mereka yang pernah magang tidak dilepas begitu saja.
Tersebab kegiatan magang juga menjadi bagian dari pelatihan, Timboel mendorong adanya satu badan khusus untuk mengorganisir persoalan magang dan pelatihan seperti Kartu Prakerja. Dengan begitu, kementerian atau lembaga yang mengurus pelatihan bagi calon tenaga kerja tak terpisah-pisah.

Minim Lapangan Kerja Jadi Masalah Utama
Menurut Timboel, minimnya pembukaan lapangan kerja menjadi hulu permasalahan tenaga kerja terdidik tidak terserap. Jadi, semakin banyak alumni perguruan tinggi tidak diiringi oleh jumlah lapangan kerja yang mumpuni.
“Kalaupun ada, dunia pendidikan belum mempersiapkan untuk me-linked-kan ke kebutuhan dunia usaha, dunia industri. Kalaupun dia buka, sekarang kecenderungannya padat modal dan padat teknologi. Jadi, satu yang pertama dan utama pembukaan lapangan kerja. Kedua, kalaupun dibuka, ada yang datang investor baik PMDN [Penanaman Modal dalam Negeri] maupun PMA [Penanaman Modal Asing], SDM-nya bisa gak?,” tutur Koordinator Advokasi BPJS Watch tersebut.

Hal itulah yang disebut bisa dijawab lewat kegiatan magang. Akan tetapi Timboel menekankan magang tidak otomatis membuka lapangan kerja. Sementara mereka yang membuka lapangan kerja butuh diyakinkan dengan kebijakan-kebijakan dalam negeri.
“Walaupun memang pemerintah bisa meyakinkan dunia usaha, investor gitu, 'eh gue punya SDM nih,' bisa juga. Tapi yang utama kan membuka lapangan kerja itu. Investor itu datang untuk diyakinin; korupsinya gak ada, biaya mahal gak ada, mengurus izin TKA (Tenaga Kerja Asing) mudah. Kemenaker mau buat sertifikat K3 gak dikorupsi, gak dipungli, dan sebagainya, kan itu aja,” kata Timboel.
Penciptaan lapangan kerja per Februari 2025 sendiri tercatat bertambah sebanyak 3,59 juta lapangan kerja. Sektor dengan kontribusi terbesar dalam penciptaan lapangan kerja adalah sektor perdagangan yaitu 980 ribu orang, sektor pertanian 890 ribu orang, serta sektor industri pengolahan 720 ribu orang.
Penulis: Fina Nailur Rohmah
Editor: Alfons Yoshio Hartanto
Masuk tirto.id
































