tirto.id - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali memperketat pengawasan terhadap potensi penularan virus nipah melalui ternak babi dan pintu masuk internasional. Langkah antisipasi ini diambil menyusul laporan kejadian luar biasa (KLB) di beberapa negara tetangga guna melindungi masyarakat serta sektor pariwisata di Pulau Dewata.

Kepala Bidang Pelayanan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bali, I Gusti Ayu Raka Susanti, mengatakan bahwa virus nipah menular melalui air liur kelelawar dan dapat tertinggal pada buah yang dikonsumsi oleh kelelawar tersebut.
"Kemudian jika binatang lain seperti babi mengonsumsi [buah], itu bisa menginfeksi. Kalau kita lihat, kelelawar ini merupakan inangnya dan hewan lain seperti babi merupakan host yang bisa mereplikasi virus ini, sehingga bisa menular kepada manusia," urai Raka, diwawancarai di Kantor Dinkes Bali, Kamis (29/01/2026).
Raka membeberkan, virus nipah sebelumnya terkonfirmasi di India dengan masa inkubasi sekitar 4 hingga 14 hari, serta dapat ditularkan dari hewan (zoonosis). Sementara Bali, diketahui merupakan salah satu provinsi dengan produksi daging babi terbesar di Indonesia.
Oleh sebab itu, Dinkes Bali mengimbau peternak babi untuk mencuci tangan setelah kontak dengan babi. Peternak juga diminta menggunakan alat pelindung diri, serta rajin mencuci tangan. Sementara untuk masyarakat, diimbau untuk tidak mengonsumsi daging yang tidak matang.
"Dari fasilitas kesehatan, antisipasinya dari ruang isolasi, kemudian dokter yang merawat dan sarana prasarana, seperti obat-obatan. Orang yang terjangkit perlu diisolasi karena zoonosis, berpotensi juga menular dari manusia ke manusia melalui droplet," jelasnya.
Gejala Virus Nipah dan Risiko Kematian
Raka menjelaskan virus nipah memiliki gejala yang mirip dengan flu atau infeksi saluran pernapasan, serta dapat menyebabkan komplikasi berupa radang paru-paru (pneumonia) dan radang otak (encephalitis). Akibat komplikasi tersebut, angka kematian kasus (case fatality rate) dari virus nipah berada di angka 47 sampai 75 persen.
Namun, virus nipah tidak memiliki obat khusus. Raka mengatakan, pasien yang terjangkit virus nipah akan ditangani dan diberikan obat-obatan sesuai dengan gejala yang ada pada pasien tersebut. Swab juga akan dilakukan kepada pasien yang dicurigai mengidap virus nipah.
"Tidak semua yang demam, batuk, dan pilek kita ambil. Ada terduga, kemudian kita telusuri apakah dia pernah mengunjungi negara yang sedang kejadian luar biasa (KLB) dan apakah dia pernah kontak dengan hewan yang sakit, itu penyelidikan epidemiologinya oleh petugas surveilans. Jadi lihat faktor risikonya dulu," bebernya.
Dinkes Bali juga mewaspadai lima negara yang melaporkan KLB virus nipah, di antaranya adalah Malaysia, Singapura, India, Bangladesh, dan Thailand. Raka menyebut pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Balai Besar Karantina Kesehatan untuk menerapkan antisipasi di pintu-pintu masuk ke Bali.
"Kami meningkatkan kewaspadaan dan peran surveilans sampai di tingkat puskesmas untuk mewaspadai kasus ILI-SARI (Influenza Like Illness dan Severe Acute Respiratory Infection). Petugas surveilans adalah intelijen penyakit, sebab mereka yang paling tahu dan harus tahu apa yang terjadi di wilayahnya masing-masing," ungkap Raka.
Pengawasan Ketat di Bandara Ngurah Rai

Sementara itu, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali meningkatkan pengawasan di area kedatangan bandara akibat merebaknya virus nipah di luar negeri. Terdapat 2 unit thermal scanner (termografi) di terminal kedatangan internasional, 1 unit di terminal kedatangan domestik, serta 1 unit yang disiagakan di terminal VIP.
"Jika ditemukan penumpang yang menunjukkan gejala, maka akan ditindaklanjuti oleh pihak Balai Besar Karantina Kesehatan dengan merujuk penumpang tersebut ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof. Ngoerah Denpasar," kata Communication and Legal Division Head Bandara Ngurah Rai, Gede Eka Sandi Asmadi, dalam keterangannya.
Pihak bandara mengimbau penumpang yang akan terbang dari dan menuju Bali agar memantau perkembangan informasi terkini terkait virus nipah. Apabila terdapat penurunan kondisi kesehatan dan gejala awal virus nipah seperti demam, Bandara Ngurah Rai mengimbau agar penumpang segera menghubungi petugas bandara.
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id






























