Menuju konten utama

Ada Program MBG, Sari Roti Perluas Bisnis ke Sektor Pakan Ternak

Sari Roti menilai pasar pakan ternak akan didorong implementasi MBG yang diramal mengerek permintaan telur dan daging ayam sebesar 2-3 persen per tahun.

Ada Program MBG, Sari Roti Perluas Bisnis ke Sektor Pakan Ternak
Sejumlah produksi Sari Roti yang dijual hampir diseluruh mini market, Jakarta (28/11/18). tirto.id/Hafitz Maulana
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Produsen Sari Roti, PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI), berencana memperluas lini bisnisnya ke sektor pakan ternak melalui penambahan kegiatan usaha Industri Ransum Pakan Hewan dengan klasifikasi KBLI 10801.

Rencana tersebut disampaikan perseroan dalam dokumen keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Jumat (27/1/2026).

Manajemen menyebutkan, penambahan kegiatan usaha dilakukan sebagai upaya meningkatkan kinerja perseroan melalui diversifikasi bisnis di luar industri roti dan kue. Dalam pengembangannya, perseroan akan memproduksi sendiri produk tepung pakan ternak dengan memanfaatkan investasi pabrik ransum pakan hewan serta dukungan tenaga kerja yang kompeten.

Rencana ekspansi ini juga telah melalui studi kelayakan yang disusun oleh penilai independen Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Rengganis, Hamid & Rekan, sesuai ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Studi kelayakan tersebut disusun berdasarkan analisis per 31 Desember 2025 dan dituangkan dalam laporan tertanggal 23 Februari 2026.

Dalam kajian pasar, penilai mencatat industri pakan ternak nasional sempat mengalami tekanan pada 2020 akibat pandemi COVID-19. Namun, sejak 2021 hingga 2023, sektor ini kembali pulih seiring meningkatnya konsumsi daging ayam dan telur yang didukung program ketahanan pangan nasional.

Apalagi, ke depan pasar pakan ternak diproyeksikan terus tumbuh, antara lain didorong oleh pertumbuhan populasi ayam petelur sekitar 7 persen per tahun serta implementasi program Makan Bergizi Gratis yang diperkirakan meningkatkan permintaan telur dan daging ayam sebesar 2-3 persen per tahun.

Produksi pakan nasional juga diperkirakan meningkat sekitar 6 persen per tahun hingga mencapai sekitar 22,8 juta ton pada 2026, seiring kebijakan swasembada pakan dan insentif PPN nol persen untuk bahan baku domestik.

"Berdasarkan prospek pasar produk tepung pakan ternak, pengembangan usaha ini adalah layak secara pasar," tulis laporan KJPP Rengganis, Hamid & Rekan, dalam laporan studi kelayakan tersebut.

Dari aspek teknis dan pola bisnis, penilai menilai perseroan memiliki fasilitas produksi, sumber daya manusia, serta pasokan bahan baku yang memadai. Pemanfaatan sisa atau produk gagal dari proses produksi roti sebagai bahan baku pakan ternak juga dinilai mampu menekan limbah, memperpanjang umur simpan produk, serta menciptakan nilai tambah baru bagi perseroan.

Secara finansial, rencana penambahan kegiatan usaha ini mencatatkan proyeksi Net Present Value (NPV) positif sebesar Rp55,5 miliar, Internal Rate of Return (IRR) 26,44 persen, serta periode pengembalian modal sekitar 5 tahun 7 bulan. Dengan parameter tersebut, penilai menyimpulkan rencana pengembangan bisnis industri ransum pakan hewan layak untuk dilaksanakan.

Untuk merealisasikan rencana tersebut, perseroan akan meminta persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan berlangsung pada 7 April 2026, dengan pengumuman hasil pada 9 April 2026.

"Perseroan akan meminta persetujuan RUPSLB dengan memperhatikan ketentuan yang diatur dalam POJK 17/2020 dan Peraturan OJK Nomor 16/POJK.04/2020 tentang Pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Perusahaan Publik Secara Elektronik," jelas manajamen ROTI.

Baca juga artikel terkait SARI ROTI atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Flash News
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana