Menuju konten utama
Byte

World Monitor, Saat Semua Orang Bisa Menjadi Intelijen

Pelantar gratis ini berbasis peta tiga dimensi yang datanya diperbarui secara real-time, juga menyerap lebih dari 100 aliran data secara bersamaan.

World Monitor, Saat Semua Orang Bisa Menjadi Intelijen
Lobby kantor pusat CIA. FOTO/REUTERS
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Bayangkan sebuah pelantar atau platform, di mana pengguna bisa memantau sejumlah pergerakan, mulai dari serangan rudal, perpindahan posisi kapal perang, pemadaman listrik, hingga terputusnya jaringan internet, semuanya dalam satu layar. Hebatnya lagi, pelantar ini gratis dan bisa digunakan oleh siapa pun.

Pelantar seperti itu sungguh-sungguh ada dan ia diciptakan oleh salah satu pendiri sekaligus Chief Technology Officer (CTO) Anghami, Elie Habib. Anghami merupakan pelantar streaming musik terbesar di wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara dengan pengguna lebih dari 70 juta, dan sejak 2022 telah melantai di pasar bursa NASDAQ.

Ide membangun pelantar untuk memonitor situasi keamanan itu lahir dari rasa frustrasi Habib. Dalam wawancara dengan Wired, ia menyebut banyaknya berita tentang segala hal justru membuatnya kesulitan mencerna segala informasi.

"Saya butuh sesuatu yang menunjukkan bagaimana peristiwa-peristiwa ini saling terhubung satu sama lain secara nyata. Sementara, alat OSINT (Open Source Intelligence) yang bisa melakukan itu harganya sangat mahal dan biasanya cuma dipakai pemerintah atau perusahaan besar," keluhnya.

OSINT merujuk pada praktik mengumpulkan dan menganalisis informasi dari sumber terbuka seperti berita, data satelit, dan sinyal transponder pesawat. Ketiadaan alat OSINT yang aksesibel pun menggugah Habib. Ia melihat sebuah celah di pasar dan memutuskan untuk mengisinya sendiri.

Hasilnya adalah sebuah pelantar bernama World Monitor. Bagi Habib, ini adalah sebuah proyek sampingan yang digarapnya pada akhir pekan. Akan tetapi, sesuatu yang lahir dari keisengan di waktu luang tersebut kini sudah menjadi sebuah pelantar penting di tengah berkecamuknya konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.

World Monitor adalah sebuah dasbor intelijen global berbasis peta tiga dimensi yang memperbarui datanya secara real-time. Platform ini menyerap lebih dari 100 aliran data secara bersamaan, mulai dari pesawat militer yang menyiarkan posisinya lewat transponder ADS-B, pergerakan kapal yang dilacak melalui sinyal AIS, instalasi nuklir, kabel bawah laut, pemadaman internet, hingga deteksi kebakaran via satelit. Semua data itu dinormalisasi, dilokalisasi secara geografis, dan ditampilkan di atas globe WebGL yang mampu menampilkan ribuan penanda sekaligus tanpa lag.

Namun World Monitor bukan sekadar peta. Platform ini dilengkapi lebih dari 40 lapisan data yang bisa diaktifkan atau dinonaktifkan sesuai kebutuhan pengguna.

Ada lapisan geopolitik mencakup zona konflik aktif dari database UCDP dan ACLED, titik-titik panas intelijen, peristiwa kerusuhan sosial, bencana alam, dan zona gangguan GPS. Lapisan militer dan strategis mencakup lebih dari 220 pangkalan militer dari sembilan operator, pelacakan penerbangan militer secara langsung, pemantauan kapal perang, fasilitas nuklir, dan pusat peluncuran luar angkasa. Di sisi infrastruktur, tersedia peta kabel bawah laut, jaringan pipa minyak dan gas, 111 kluster pusat data AI besar, dan data keterlambatan bandara di 128 bandara yang dipantau.

Selain lapisan peta, platform ini memiliki sistem kecerdasan buatan yang tidak sekadar berfungsi sebagai chatbot. Sistem AI-nya mampu menghasilkan ringkasan naratif situasi global secara berkala, serta menghitung Country Instability Index (CII), yakni skor komposit untuk setiap negara di dunia yang menggabungkan komponen kerusuhan (40 persen), keamanan (30 persen), dan informasi (30 persen).

Selain itu, tersedia juga deteksi anomali yang memantau 12 jenis sinyal berbeda, mulai dari lonjakan penyebutan topik tertentu di media, pergerakan pasar yang tidak biasa, hingga aktivitas militer yang melampaui rata-rata regional. Semua ini tersedia dalam empat varian platform: World Monitor untuk geopolitik dan konflik, Tech Monitor untuk startup dan keamanan siber, Finance Monitor untuk pasar dan kebijakan perdagangan, serta Happy Monitor yang khusus menyajikan berita-berita positif.

Bagaimana sistem ini memverifikasi informasi? Habib memilih untuk tidak melibatkan editor manusia sama sekali. Meski demikian, Habib menerapkan standar hierarki sumber yang ketat: layanan kawat dan saluran resmi seperti Reuters, AP, Pentagon, dan PBB berada di tingkat teratas, diikuti media besar macam BBC dan Al Jazeera serta outlet investigatif spesialis seperti Bellingcat. Secara keseluruhan, sistem World Monitor memproses sekitar 190 sumber sebelum menghasilkan sebuah output.

Selain itu, platform mengandalkan apa yang disebut Habib sebagai "algoritma konvergensi". Artinya, sistem akan memeriksa seberapa banyak jenis sinyal berbeda yang aktif di geografi yang sama secara bersamaan. Menurut Habib, "Satu sinyal adalah kebisingan biasa, tetapi tiga atau empat yang berkonvergensi di lokasi yang sama adalah sinyal yang layak dimunculkan." Semakin banyak sinyal, kemungkinan terjadinya sesuatu semakin besar di suatu titik.

Latar belakang Habib sebagai insinyur sistem streaming ternyata sangat relevan dalam pengembangan World Monitor. Sebab, apa yang digunakannya saat membangun sistem data Anghami serta OSN+ (pelantar streaming video), menurutnya banyak terpakai dalam proyek akhir pekannya ini. Kesamaan utamanya adalah bagaimana cara menciptakan sistem yang dapat menyerap serta memproses informasi dalam skala besar.

Elie Habib

Elie Habib. instagram/eliehabib

Damai dan Perang

World Monitor awalnya lebih banyak digunakan untuk keperluan yang relatif damai. Para saudagar melacak kapal kargo untuk memantau rantai pasokan, sementara para insinyur memantau jaringan listrik dan infrastruktur. Bahkan, kata Habib, World Monitor pernah "ditayangkan" sebuah bar olahraga ketika sedang tidak ada pertandingan.

Namun, konflik AS dan Israel versus Iran mengubah peruntukan World Monitor. Seketika, jumlah penggunanya melonjak drastis. Hingga akhirnya, pada 3 Maret 2026, angka pengguna pelantar mencapai dua juta orang, dengan puncaknya ketika ada 216.000 pengunjung unik (unique visitors) yang mampir ke pelantar tersebut.

Lantas, siapa saja yang mengakses pelantar World Monitor ini?

Jika ditilik dari tempat asalnya, Asia menyumbang sekitar 35 persen pengguna, Eropa sekitar 20 persen, Timur Tengah dan Afrika Utara berkontribusi 18 persen, sementara Amerika Serikat mencakup sekitar 10 persen.

Konsentrasi pengguna tampaknya berada di wilayah-wilayah tempat konsekuensi konflik paling langsung dirasakan, dan di mana kepercayaan terhadap framing media Barat atas konflik tersebut paling rendah. Pengguna platform ini, secara efektif, adalah peta tentang siapa yang merasa tidak terlayani oleh sistem informasi yang ada.

Adapun untuk profesi dan latar belakang, sebenarnya tidak tersedia data resmi. Akan tetapi, di World Monitor, tersedia fitur-fitur khusus untuk menarik berbagai jenis profesi. Jurnalis dan analis media, misalnya, mendapat satu panel untuk memantau berita terkini lintas wilayah, lengkap dengan tanda peringatan khusus untuk outlet media milik negara seperti TASS, Xinhua, dan RT agar pembaca bisa langsung mengontekstualisasikan sumber suatu klaim.

Kemudian, peneliti OSINT dan profesional bidang keamanan mendapat akses ke pelacakan penerbangan ADS-B, pemantauan kapal AIS, dan visualisasi zona gangguan GPS dalam satu antarmuka. Analis keuangan dan manajer risiko bisa memanfaatkan sinyal Silent Divergence yang mendeteksi pergerakan pasar sebelum ada berita yang menjelaskannya. Organisasi kemanusiaan mendapat data akses kemanusiaan dari UN OCHA, data pengungsi UNHCR, serta estimasi populasi sipil yang terdampak dalam radius tertentu dari suatu peristiwa.

Platform ini juga bersifat open-source dan dapat di-self-host. Artinya, siapa pun bisa mengunduh kode sumbernya dan menjalankannya di server mereka sendiri. Fitur AI-nya bahkan bisa beroperasi sepenuhnya secara lokal lewat Ollama, tanpa mengirim data ke mana pun, sehingga jadi pilihan menarik bagi pengguna yang sadar privasi. Berbeda dengan platform OSINT komersial yang biayanya bisa mencapai ratusan hingga ribuan dolar per bulan, World Monitor tersedia sepenuhnya gratis.

Serangan Israel di Lebanon

Asap mengepul dari lokasi serangan udara Israel di desa Abbasiyeh di Lebanon selatan pada 10 Maret 2026. AFP/KAWNAT HAJU

Demokratisasi Intelijen Keamanan?

Dari sini, bisa dilihat betapa besar potensi World Monitor. Apalagi, platform ini belum berhenti berkembang. Habib mengatakan bahwa arah pengembangannya kini bergeser dari sekadar melacak konflik menuju sesuatu yang lebih ambisius: deteksi dini.

"Arsitektur pelantar ini bergerak ke arah memprediksi di mana sinyal-sinyal akan berkonvergensi sebelum peristiwa menjadi berita," kata Habib.

Kemampuan prediktif semacam ini jelas bukan hal sepele. Selama ini, intelijen prediktif, atau kemampuan mengantisipasi eskalasi sebelum ia terjadi, adalah wilayah eksklusif aktor negara, kontraktor pertahanan, dan konsultan premium yang menarik bayaran ratusan ribu dolar per tahun. World Monitor, secara tidak langsung, membuka akses itu untuk semua orang.

Di sisi lain, dunia militer dan pertahanan pun tengah berpacu untuk memanfaatkan AI dalam konteks yang jauh lebih serius. Pertempuran modern kini sangat bergantung pada kecepatan informasi dan kecepatan mengambil keputusan. Inilah yang disebut sebagai Decision Dominance, yaitu kemampuan menganalisis data sensor dalam jumlah luar biasa secara real-time, lalu mengonversinya menjadi keputusan yang tepat lebih cepat dari lawan.

Namun, para ahli mengingatkan bahwa AI generalis, seperti model-model besar yang digunakan publik umum, tidak serta-merta cocok untuk kebutuhan militer. Model-model seperti itu dirancang untuk menjawab jutaan jenis pertanyaan bagi miliaran pengguna. Sementara organisasi militer sering membutuhkan sesuatu yang berbeda. Mereka butuh sistem yang disetel untuk tugas operasional spesifik seperti perencanaan logistik, analisis intelijen, atau dukungan keputusan operasional.

Itulah mengapa, kini bermunculan pemain-pemain niche seperti Smack Technologies, sebuah startup AI yang didirikan oleh dua veteran pasukan khusus Marinir AS. Smack baru-baru ini mengumumkan pendanaan sebesar 32 juta dolar AS untuk membangun apa yang mereka sebut sebagai "frontier AI lab pertama untuk keamanan nasional", dengan kontrak yang sudah ditandatangani bersama sejumlah cabang militer AS.

"Tidak cukup banyak yang berubah dalam cara kita menjalankan proses pengambilan keputusan dalam lebih dari satu dekade. Di era AI dan sistem otonom, itu adalah masalah serius," kata Andrew Markoff, salah satu pendiri sekaligus CEO Smack.

Di sinilah letak perbedaan mendasar antara Smack dan World Monitor. Smack membangun AI yang dirancang untuk menggerakkan mesin perang. Output-nya digunakan untuk mengoptimalkan target dan memandu serangan. World Monitor, di sisi lain, hanya menyajikan gambaran dunia apa adanya, tanpa merekomendasikan tindakan apa pun. Namun, keduanya mencerminkan tren yang sama. Yakni, dalam konflik modern, siapa yang lebih dulu memahami situasi, dan siapa yang lebih cepat bertindak berdasarkan pemahaman itu, bakal berada di atas angin.

Satu hal yang pasti, Habib tidak berencana memonetisasi World Monitor. Di satu sisi, hal ini berpotensi mendemokratisasi intelijen keamanan. Namun, di sisi lain, Habib bisa jadi bakal kewalahan ke depannya, apalagi jika jumlah pengguna pelantar semakin banyak. Belum lagi kita menghitung soal potensi aktor jahat yang memanfaatkan pelantar ini untuk kepentingan mereka sendiri.

Untuk saat ini, Habib dan World Monitor-nya masih berada di sisi sejarah yang benar, di mana kebutuhan akan informasi secara real-time memang prevalen. Namun, tak menutup kemungkinan bahwa, di kemudian hari, Habib harus menentukan keberpihakan. Semua, tentunya, tak bisa dilepaskan dari betapa besarnya potensi dari World Monitor.

Baca juga artikel terkait INTELIJEN atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Byte
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Irfan Teguh Pribadi