Menuju konten utama

Warga Bandung Teken Petisi Tolak Penggabungan Gedung Sate-Gasibu

Petisi berjudul 'Dedi, Jangan Rampas Jalan Umum Demi Ambisi Pribadi!' melalui laman Change.Org sudah mengumpulkan 2.955 tanda tangan.

Warga Bandung Teken Petisi Tolak Penggabungan Gedung Sate-Gasibu
Massa Aksi Kamisan Bandung ke-429 menggelar aksi damai di depan Gedung Sate, Kota Bandung, Kamis (23/4/2026). tirto.id/Muhamad Nizar.

tirto.id - Warga Kota Bandung membuat petisi berjudul 'Dedi, Jangan Rampas Jalan Umum Demi Ambisi Pribadi!' melalui laman petisi online Change.Org sejak tiga hari lalu. Petisi tersebut merupakan protes warga terhadap rencana Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) yang akan menggabungkan kawasan halaman Gedung Sate dan Lapangan Gasibu dengan anggaran mencapai Rp15 miliar.

Saat tirto.id mengakses petisi, Jumat (24/4/6) pukul 16.52 WIB, tanda tangan yang terverifikasi sudah mencapai 2.955. Inisiator petisi, Ricky N Sas, mengaku paham betul kondisi lalu lintas di kawasan itu. Menurutnya, penghapusan fungsi jalan berpotensi menimbulkan persoalan baru.

"Masalah revitalisasi Gedung Sate dan Lapang Gasibu yang akan menghilangkan fungsi Jalan Diponegoro. Itu yang membuat akhirnya, oke lah bikin petisi," sebut Ricky saat ditemui awak media di Bandung, Kamis (23/4/2026).

"Petisi itu lahir karena keresahan saya sebagai pengguna jalan, sebagai warga kota Bandung, saya lahir besar di sini, cukup tahu banyak lalu lintas di sekitar sini," sambungnya.

Ricky bilang, masih ada proyek pembangunan lain yang dianggap lebih penting, daripada sekadar menggabungkan kedua kawasan tersebut. Satu di antaranya perbaikan fasilitas publik dan lain-lain.

Massa Aksi Kamisan Bandung ke-429

Massa Aksi Kamisan Bandung ke-429 menggelar aksi damai di depan Gedung Sate, Kota Bandung, Kamis (23/4/2026). tirto.id/Muhamad Nizar.

"Misalnya Dedi [Gubernur Jawa Barat] ingin membuat sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat, ini ada legasi, banyak hal lain. Kan ada fasilitas umum," ucapnya.

Ricky lantas menyinggung perihal urgensi pembangunan pemerintah provinsi yang mesti dijadikan prioritas. Mengingat, saat ini wilayah Jabar dihadapkan dengan bencana iklim.

"Menghadapi bencana hidrometeorologi. Itu lebih penting tidak difokuskan ke sana. Edukasi masyarakat. Bisa dipakai untuk memberikan masyarakat pendidikan, kita menghadapi bencana yang besar. Itu salah satunya," imbuh Ricky.

Termasuk, lanjutnya, masalah fasilitas umum seperti transportasi dan alokasi anggaran ke sektor pendidikan. Ia lantas menyayangkan sikap abai pemerintah daerah dan wakil rakyat.

"Hampir semualah. DPRD, wali kota, mereka diam. Kalau saya sebut optimis [petisi berhasil], namanya orang berjuang, hari ini gagal, tidak apa-apa, akan ada yang melanjutkan kok," tegas Ricky.

Dalam pemberitaan tirto.id sebelumnya, Pemprov Jawa Barat Jabar berencana menggabungkan kawasan halaman Gedung Sate dengan Lapang Gasibu. Upaya tersebut sebagai bagian dari penataan ruang cegah kemacetan di pusat Kota Bandung.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, revitalisasi halaman Gedung Sate tersebut bakal menghabiskan anggaran sekira Rp15 miliar. Rencananya pengerjaan proyek ini dimulai pada April sampai Agustus 2026.

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi, menyebut dengan adanya pembangunan itu, pihaknya berharap mampu urai kemacetan yang kerap terjadi saat aksi unjuk rasa berlangsung di sekitar Gedung Sate.

Penataan itu juga bertujuan membuka akses yang lebih baik di kawasan tersebut. Menurutnya, kondisi yang selama ini terjadi ketika demonstrasi berlangsung, selalu berdampak pada lalu lintas di sekitarnya.

“Tujuannya agar akses halaman gedung sate terbangun dengan baik," jelas Dedi kepada awak media di Gedung Pakuan, Rabu (15/4/2026).

"Bayangin, bagaimana pun era demokratisasi melahirkan demonstrasi. Setiap terjadi unjuk rasa itu unjuk rasa Diponegoro ditutup akhirnya terjadi kemacetan di kota bandung yang parah,” sambungnya.

Menurutnya, penggabungan kawasan tersebut sekaligus menjaga agar Jalan Diponegoro tetap dapat dilalui pengendara, sekalipun ada kegiatan di depan Gedung Sate.

Ia memastikan, penataan ulang disebut akan mengubah pola sirkulasi kendaraan di area tersebut. Lantaran akses Jalan Diponegoro tetap terbuka dan terganggu massa aksi atau kegiatan apapun di halaman Gedung Sate.

“[Jalannya tidak ditutup]. Nanti jalannya melingkar, nanti muter ke depan [Hotel] Pullman belok kanan, dan sebagian gasibu digunakan jembatan di ujungnya,” kata dia.

Dedi juga menegaskan, elemen penting di kawasan tersebut tidak akan mengalami perubahan posisi. Ia menyebut prasasti yang ada akan tetap dipertahankan.

“Prasasti tetap tidak berubah. Prasasti tidak akan digeserkan, tetap di situ. Batu prasasti tetap di situ,” tegasnya.

Penataan yang dilakukan, fokus dalam perbaikan tampilan dan keselarasan antara dua kawasan tersebut. Halaman akan dibuat lebih terbuka dan memiliki ketinggian yang sejajar.

Ia juga menyebut, adanya persepsi publik terhadap Lapang Gasibu yang selama ini dinilai seperti menjadi bagian dari area hotel di sekitarnya. Penataan ini, menurutnya, sekaligus mengubah kesan tersebut.

“Dan Gasibu tidak menjadi halaman Pullman. Hari ini kan Gasibu kesannya menjadi halaman Pullman,” sebutnya.

Baca juga artikel terkait PETISI atau tulisan lainnya dari Muhammad Nizar

tirto.id - Flash News
Kontributor: Muhammad Nizar
Penulis: Muhammad Nizar
Editor: Siti Fatimah