Menuju konten utama

Alasan Pemprov Jabar Gabungkan Halaman Gedung Sate dan Gasibu

Penggabungan kawasan sekaligus menjaga agar Jalan Diponegoro tak macet dan  tetap dapat dilalui pengendara, sekalipun ada kegiatan di depan Gedung Sate.

Alasan Pemprov Jabar Gabungkan Halaman Gedung Sate dan Gasibu
Petugas mengoperasikan alat berat menyelesaikan proyek revitalisasi halaman Gedung Sate, Kota Bandung, Kamis (16/4/2026). tirto.id/Muhamad Nizar.

tirto.id - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) berencana menggabungkan kawasan halaman Gedung Sate dengan Lapang Gasibu. Upaya tersebut dilakukan sebagai bagian dari penataan ruang cegah kemacetan di pusat Kota Bandung.

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi, menyatakan, pihaknya diharapkan mampu mengurai kemacetan yang kerap terjadi saat aksi unjuk rasa berlangsung di sekitar Gedung Sate dengan adanya pembangunan tersebut.

Politikus Partai Gerindra ini menjelaskan, penataan ini juga bertujuan membuka akses yang lebih baik di kawasan tersebut. Menurut Dedi, kondisi yang selama ini terjadi ketika demonstrasi berlangsung, selalu berdampak pada lalu lintas di sekitarnya.

“Tujuannya agar akses halaman Gedung Sate terbangun dengan baik," jelas Dedi kepada awak media di Gedung Pakuan, Jawa Barat, Rabu (15/4/2026).

"Bayangin, bagaimana pun era demokratisasi melahirkan demontrasi. Setiap terjadi unjuk rasa itu unjuk rasa Diponegoro ditutup akhirnya terjadi kemacetan di Kota Bandung yang parah,” sambungnya.

Menurutnya, penggabungan kawasan tersebut sekaligus menjaga agar Jalan Diponegoro tetap dapat dilalui pengendara, sekalipun ada kegiatan di depan Gedung Sate.

Berdasarkan informasi yang dihimpun tirto, revitalisasi halaman Gedung Sate tersebut bakal menghabiskan anggaran sekira Rp15 milliar. Rencananya pengerjaan proyek ini dimulai pada April sampai Agustus 2026.

Ia memastikan, penataan ulang disebut akan mengubah pola sirkulasi kendaraan di area tersebut. Lantaran akses Jalan Diponegoro tetap terbuka dan terganggu massa aksi atau kegiatan apapun di halaman Gedung Sate.

“[Jalannya tidak ditutup]. Nanti jalannya melingkar, nanti muter ke depan [Hotel] Pullman belok kanan, dan sebagian gasibu digunakan jembatan di ujungnya,” kata dia.

Dedi juga menegaskan, elemen penting di kawasan tersebut tidak akan mengalami perubahan posisi. Ia menyebut prasasti yang ada akan tetap dipertahankan.

“Prasasti tetap tidak berubah. Prasasti tidak akan digeserkan, tetap di situ. Batu prasasti tetap di situ,” tegasnya.

Penataan yang dilakukan, lanjut Dedi, akan difokuskan pada perbaikan tampilan dan keselarasan antara dua kawasan tersebut. Halaman akan dibuat lebih terbuka dan memiliki ketinggian yang sejajar.

“Yang ada penataan halaman jauh lebih bagus, sehingga nanti tinggi halaman gasibu sama dengan halaman Gedung Sate. Halamannya nanti terbuka lebih luas dan lebar,” ucapnya.

Ia juga menyinggung persepsi publik terhadap Lapang Gasibu yang selama ini dinilai seperti menjadi bagian dari area hotel di sekitarnya. Penataan ini, menurutnya, sekaligus mengubah kesan tersebut.

“Dan Gasibu tidak menjadi halaman Pullman. Hari ini kan Gasibu kesannya menjadi halaman Pullman,” singgungnya.

Baca juga artikel terkait PEMPROV JABAR atau tulisan lainnya dari Muhammad Nizar

tirto.id - Flash News
Kontributor: Muhammad Nizar
Penulis: Muhammad Nizar
Editor: Andrian Pratama Taher