tirto.id - Aksi Kamisan Bandung ke-429 berlangsung di depan Gedung Sate, Kota Bandung, Kamis (23/4/2026). Massa aksi hari ini, turut menyoroti program Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar).
Pantauan kontributor Tirto di lokasi, massa tampak menyuarakan aspirasi tepat di depan papan pemberitahuan bertuliskan 'Mohon maaf perjalanan anda terganggu sedang ada pekerjaan Plaza Area Depan Gedung Sate-Gasibu'.
Keputusan Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (Demul) itu dinilai tidak berlandaskan kepentingan masyarakat. Seorang peserta aksi, Tata, melihat dari skala umum dan luas, proyek tersebut tidak 'urgent-urgent amat'.
Tata menyebut alasan Demul untuk melancarkan proyek ini sebagai omong kosong. "Itu [alasan Demul] sebenarnya omong kosong doang. Selama ini saya melihat tiap ada aksi pun, lalu lintas tetap lancar-lancar saja," ujar Tata kepada awak media sesuai aksi di Gedung Sate, Kamis (23/4/2025).
Daripada pembangunan proyek, kata Tata, anggaran tersebut lebih baik dialokasikan untuk program lain. Misalnya, untuk kebutuhan honor tenaga pendidikan di Jabar.
"Misalnya kayak guru-guru P3K di Jawa Barat [masih banyak] belum dapat gajinya itu, itu kan ironis banget ya," imbuhnya.

Melalui Aksi Kamisan hari ini, Tata beserta massa aksi lain menginginkan, masyarakat sadar terhadap proyek penggabungan halaman Gedung Sate dan Lapangan Gasibu.
"Sadar dan bersuara bahwa Jalan Diponegoro, Gasibu, dan Gedung Sate itu sebuah cagar budaya yang harusnya dirindungi, nggak diubah-ubah, nggak ada pengubahan jalan dan lain-lain," tegasnya.
"Kita yang udah bertahun-tahun hidup ngelewatin jalan Diponegoro, jalan di gasibu, masa pengen berubah seketika cuma karena kemauan gubernur doang, itu sih dasarnya," lanjut Tata.
Ia menyayangkan proyek yang berjalan di tengah masa efisiensi anggaran itu, seharusnya digunakan untuk kebutuhan masyarakat yang lebih penting. Terlebih saat ini sejumlah masalah belum tuntas di wilayah Jabar.
"Banyak kondisi-kondisi lainnya yang memang perlu diperhatikan, kayak warga kebanjiran, dapet bencana dan lain-lain, mereka juga kurang perhatian [pemerintah]," sesalnya.
"Ataupun ruas-ruas jalan yang belum ada lampu lalu lintasnya yang buat bahaya dan lain-lain. Kan itu juga lebih urgent daripada penggabungan Gedung Sate dengan Gasibu jadi plaza," cetus Tata.
Sebagai informasi, revitalisasi halaman Gedung Sate bakal menghabiskan anggaran sekira Rp15 milliar. Rencananya pengerjaan proyek ini dimulai pada April sampai Agustus 2026.
Penulis: Muhammad Nizar
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id


































