tirto.id - Viral di media sosial, fenomena langit merah saat senja pada Kamis (18/12) dan Jumat (19/12). Peristiwa ini terjadi di sejumlah wilayah di Provinsi Banten, di antaranya Kecamatan Panimbang, Labuan, Pagelaran, Cigeulis hingga Menes.
Fenomena langit merah ini direkam oleh masyarakat setempat saat senja sekitar pukul 17.40 WIB hingga 18.55 WIB. Masyarakat merekam momen langka ini lalu menyebarluaskan melalui media sosial maupun aplikasi pesan.
Fenomena Langit Merah Pertanda Apa?
Setelah video tersebut viral, beredar narasi soal langit merah merupakan tanda akan terjadi bencana di Banten.
Namun, hal ini sudah ditepis oleh Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah II, Hartanto.
Melalui keterangannya, Hartanto menjelaskan bahwa fenomena langit merah di Panimbang merupakan peristiwa alam yaitu Hamburan Rayleigh (Rayleigh Scattering).
Atmosfer menyaring warna bergelombang pendek seperti biru dan ungu sehingga warna bergelombang panjang seperti merah dan jingga lebih dominan terlihat.
Warna merah muncul akibat pembiasan cahaya matahari ketika posisi matahari berada rendah atau menjelang terbenam.
Hamburan Rayleigh ini merupakan kejadian alami, sehingga masyarakat tidak perlu panik. Kondisi ini terjadi saat cahaya matahari harus menempuh jarak lebih jauh melalui atmosfer sebelum mencapai mata manusia.
Warna merah yang tampak sangat pekat biasanya dipengaruhi oleh tingginya konsentrasi uap air, atau adanya partikel aerosol di udara.
Pada saat fenomena langit merah itu terjadi Pandeglang sedang diguyur hujan sehingga memperkuat efek pantulan warna merah tersebut pada awan-awan di sekitarnya.
Sebenarnya fenomena ini pun turut menjelaskan mengapa langit tampak biru di siang hari (cahaya biru tersebar di mana-mana) dan merah/oranye saat matahari terbit/terbenam (cahaya biru tersebar menjauh dari jalur.
Hamburan terjadi ketika partikel penghambur (seperti Nā dan Oā di udara) jauh lebih kecil daripada panjang gelombang cahaya. Cahaya yang tersebar memiliki panjang gelombang (energi) yang sama dengan cahaya datang.
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id






























