Menuju konten utama
Byte

UpScrolled, Platform Resistensi yang Lahir Karena Sensor

Selalu ada alternatif medium perlawanan di sela-sela pembungkaman. Hal sama berlaku ketika sensor lahir dari pangkal platform media sosial.

UpScrolled, Platform Resistensi yang Lahir Karena Sensor
UpScrolled. FOTO/UpScrolled
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Siang di Minneapolis begitu mencekam ketika Alex Pretti, perawat berusia 37 tahun, ditembak mati oleh Agen Imigrasi Federal (ICE) Amerika Serikat dalam operasi penangkapan. Saksi mata menyebut, Pretti sempat berusaha menolong seorang perempuan, sebelum ditembak berulang kali hingga tewas di tempat.

Pemerintah federal menyebut Pretti sebagai “teroris domestik". Namun, rekaman video memperlihatkan ia tidak mengancam dengan senjata. Fakta ini pun menyulut gelombang protes warga, menuntut transparansi tindakan aparat yang dianggap brutal di siang bolong.

Gelombang kemarahan makin besar ketika video asli peristiwa itu dihapus (atau disembunyikan) oleh TikTok, yang baru saja diakuisisi oleh konglomerat pro-Israel. Tagar terkait Alex Pretti dan kritik terhadap ICE pun hilang dari konten For You.

Akibatnya, pengguna media sosial muak dan mulai mencari media alternatif. Pada titik itu, UpScrolled, media sosial yang diinisiasi diaspora Palestina-Australia, menemukan momennya.

UpScrolled menjadi satu-satunya ruang aman bagi rekaman peristiwa tersebut; bisa dibagikan bebas tanpa ancaman pemblokiran. Ia menawarkan ruang alternatif lebih etis, terbuka, dan berpihak pada suara-suara terpinggirkan.

Genesis Perlawanan terhadap Sensor Big Tech

Eksistensi UpScrolled tak bisa dilepaskan dari sosok pendirinya, Issam Hijazi, yang lahir di Yordania dari keluarga Palestina dan kini menetap di Australia. Dua dekade kariernya di IBM dan Oracle memberinya pemahaman tentang arsitektur sistem informasi global.

Ketika genosida di Gaza memuncak, Hijazi kehilangan 60 anggota keluarga dalam serangan militer Israel. Sejak itulah ia menyadari, algoritma perusahaan tempatnya bekerja ikut membungkam suara melalui shadow-banning, praktik blokir tanpa sepengetahuan pengguna. Hal itu mendorongnya mundur, lalu mendirikan Recursive Methods Pty Ltd di Surry Hills, New South Wales.

Hijazi merancang UpScrolled sebagai ruang digital yang menolak logika keuntungan di atas kemanusiaan. Dukungan pun datang dari Tech for Palestine pimpinan Paul Biggar.

Diluncurkan pada Juni 2025, UpScrolled merespons kritik terhadap kebijakan moderasi konten TikTok, Meta, dan TikTok, sejak 2023.

Penelitian yang dipublikasikan Middle East Institute (2023), misalnya, mencatat pola mengkhawatirkan: konten pro-Palestina kerap dibatasi jangkauannya tanpa alasan teknis jelas. AI Meta menghasilkan gambar stereotip; pencarian “anak laki-laki Palestina” menampilkan senjata, sementara “anak laki-laki Israel” menampilkan anak-anak bermain. Bahkan, pencarian terkait militer Israel tidak menampilkan adanya senjata.

Studi lain bertajuk “Orientalisme Digital:#SaveSheikhJarrah and Arabic Content Moderation” (2021) memperlihatkan bias sistemik; simbol perlawanan atau dokumentasi kekerasan terhadap warga sipil dianggap melanggar standar komunitas.

Shadow-banning menjadi titik kemarahan Hijazi saat menceritakan unggahannya tentang Gaza tak pernah muncul di layar rekan-rekannya di Eropa dan AS, tanpa pemberitahuan pelanggaran resmi.

Situasi itu menciptakan ilusi kebebasan berbicara. Pengguna merasa telah bersuara, padahal suaranya terkurung dalam ruang hampa digital.

UpScrolled lahir untuk menghancurkan ruang hampa itu. Platform tersebut menjanjikan feed kronologis sepenuhnya dan moderasi konten yang dijalankan manusia dengan transparansi penuh. Bagi Hijazi, langkah ini merupakan upaya membangun ruang komunikasi yang jujur, ketika suara tak lagi ditenggelamkan algoritma.

UpScrolled

Tampilan beranda UpScrolled mirip dengan Instagram, serta X. Screenshot/UpScrolled/Business Insider

Pada 22 Januari, kesepakatan senilai 14 miliar dolar, yang difasilitasi rezim Trump, resmi memisahkan operasional TikTok di AS dari ByteDance. Konsorsium baru menempatkan Larry Ellison dari Oracle sebagai pengendali utama algoritma dan data pengguna.

Kedekatan Ellison dan Presiden Trump, juga rekam jejak dukungannya terhadap kebijakan luar negeri Israel, segera menimbulkan kecurigaan. TikTok berisiko berubah menjadi instrumen propaganda dan sensor.

Kekhawatiran tersebut terbukti. Laporan sensor terhadap video kritis muncul segera setelah akuisisi. Konten yang sebelumnya viral, mulai dari kritik kebijakan imigrasi hingga dokumentasi pelanggaran HAM, mendadak kehilangan jangkauan.

Tagar #TikTokCensorship pun meledak sebagai bentuk protes. Lebih-lebih saat ajakan bermigrasi ke UpScrolled dari pemengaruh besar, misalnya Guy Christensen, mendapat sambutan luas.

Jumlah pengguna UpScrolled pun melonjak. Pada 26 Januari, jumlah unduhannya mencapai 400 ribu di AS dan 700 ribu secara global, menjadi nomor satu di kategori sosial di beberapa pasar. Tiga hari kemudian, dikutip dari Forbes, jumlah penggunanya melampaui satu juta, mendekati rekor unduhan ChatGPT. Hal itu sempat menyebabkan gangguan aplikasi karena banyaknya pengguna baru.

Popularitas UpScrolled juga dipicu tragedi Minneapolis sebagaimana disinggung di atas. Bagi jutaan pengguna, tindakan aparat di Minneapolis dan sensor TikTok adalah penindasan kebenaran demi stabilitas kekuasaan.

Lain itu, merujuk laporan Human Rights Watch (2023), Meta milik Mark Zuckerberg dengan Facebook dan Instagramnya, kerap melakukan sensor sistematis pada isu-isu terkait Palestina; akses informasi digital ditentukan oleh kepentingan keamanan Israel yang didukung AS. Begitu juga X di bawah Elon Musk, yang kebijakan moderasinya sering kali tampak arbitrer dan berubah-ubah.

Bedah Fitur UpScrolled

Salah satu alasan utama UpScrolled mampu menyerap pengguna TikTok berjumlah besar terletak pada kecerdasan desain antarmuka. Aplikasi ini meramu fitur-fitur yang sudah akrab di platform lain, lalu menyingkirkan elemen toksik dan manipulatif. Begitu membuka aplikasi, pengguna merasakan keakraban visual ala Instagram, kecepatan interaksi seperti X, dan dinamika video pendek yang mengingatkan pada TikTok.

Pengguna diberikan dua fitur utama, yakni Following dan Discover. Umpan Following berprinsip kronologis murni, tanpa algoritma yang menebak-nebak preferensi. Semua unggahan muncul sesuai urutan waktu dari akun yang dipilih secara sadar. Sementara itu, Discover menggabungkan popularitas dengan sentuhan keacakan, memberi kesempatan bagi akun kecil untuk tampil di hadapan audiens global tanpa harus membayar promosi.

UpScrolled juga menyediakan 25 kategori konten, dari politik hingga mode, sebagai cara memecah gelembung filter yang biasanya diciptakan AI. Pengguna bebas memilih kategori. Berbeda dari TikTok yang mendorong scrolling tanpa henti, UpScrolled mengusung konsep kesejahteraan digital; pengguna bisa merasa cukup setelah mengonsumsi informasi relevan.

Fitur-fitur seperti Feed mengingatkan pada Instagram lama dan X, video pendek hadir dengan alat penyuntingan berlatensi rendah, teks dan tagar memungkinkan navigasi tren real-time, stories mendokumentasikan momen harian, sementara kategori konten memberi ruang kurasi mandiri ala Reddit atau Twitter List.

Respons pengguna terlihat jelas dari rating tinggi di Play Store maupun App Store, yaitu 4,9 dari 5. Banyak yang memuji kemudahan navigasi, juga desain jernih tanpa iklan invasif dan rekomendasi konten tak relevan.

Dengan server inti di Dublin, Irlandia, UpScrolled menegaskan komitmen pada perlindungan data sesuai standar Regulasi Perlindungan Data (GDPR) Eropa. Itu menjadi daya tarik tambahan bagi pengguna yang khawatir data privasinya jatuh ke tangan perusahaan AS atau Tiongkok.

Klaim Anti-sensor

Selama bertahun-tahun, algoritma dan infrastruktur internet dunia dikendalikan perusahaan berbasis di AS. Dengan begitu, pemerintah berpotensi punya keleluasaan memantau dan membentuk opini publik.

Penelitian terbaru (2026) menunjukkan, algoritma rekomendasi sering berperan sebagai “agen keamanan” yang membentuk persepsi ancaman dan agenda politik pengguna. Dalam perang narasi, media sosial dianggap aktor aktif penentu arah gerakan sosial melalui amplifikasi.

Aksi menolak ICE

Orang-orang berpartisipasi dalam protes 'Penutupan Nasional' terhadap Badan Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) di Minneapolis, Minnesota, pada 30 Januari 2026. Kepala perbatasan Donald Trump mengatakan pada 29 Januari 2026 bahwa beberapa agen federal dapat ditarik dari Minneapolis, kota di utara AS yang telah menjadi titik fokus penindakan imigrasi presiden. (Foto oleh CHARLY TRIBALLEAU / AFP)

Di situasi rentan itu, UpScrolled memasarkan dirinya dengan slogan "Your voice, amplified! (Suaramu, diamplifikasi/didengungkan!)". Mereka berusaha meniadakan manipulasi algoritma, yang biasa ditemukan di platform lain. Mereka ingin mengembalikan platform sebagai alat komunikasi murni. Suara tidak lagi ditentukan oleh kepentingan modal atau negara hegemonik. Algoritma dijalankan secara terbuka dan dapat dijelaskan, bukan kotak hitam rahasia dagang. Hubungan dengan pemerintah dibatasi pada kepatuhan hukum, bukan kerja sama intelijen atau lobi.

Dengan moderasi berbasis manusia, sistem UpScrolled memang lebih lambat dan mahal. Namun bagi Hijazi, ketepatan etis lebih penting daripada kecepatan algoritmik.

Komitmen itu diuji saat terjadi lonjakan pengguna di akhir Januari 2026, yang membuat tim moderasi kewalahan. Hal tersebut membuat konten bermasalah, seperti ujaran kebencian dan antisemitisme, sempat lolos.

Salah satu kritik datang dari Jewish Telegraphic Agency (JTA), yang menilai moderasinya terlalu longgar. UpScrolled menanggapi dengan tidak menoleransi kebencian, tetapi juga tidak akan menyensor diam-diam. Setiap akun yang ditangguhkan akan menerima alasan transparan.

Upscrolled juga berencana menghadirkan fitur monetisasi yang tidak bergantung pada algoritma manipulatif (tracking-based ads). Modelnya mencakup pembayaran langsung dari komunitas kepada kreator favorit serta pembagian pendapatan iklan yang lebih adil dan transparan. Dengan beralih ke iklan kontekstual, mereka mencoba membuktikan bahwa privasi pengguna bisa berjalan seiring dengan profitabilitas perusahaan.

Selain itu, UpScrolled mulai menarik perhatian pengembang perangkat lunak pihak ketiga. Berbeda dari walled gardens (taman bertembok) ala Big Tech, UpScrolled berniat mendukung protokol terbuka, yang memungkinkan pengguna tidak lagi disandera oleh satu penyedia layanan tunggal.

Keputusan UpScrolled menolak pendanaan dari modal ventura besar atau campur tangan pemerintah menjadi langkah strategis. Dengan begitu, kebijakan moderasi tidak akan digeser demi kepentingan pemegang saham atau tekanan diplomatik.

Baca juga artikel terkait KAMPANYE MEDIA SOSIAL atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Byte
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin