Menuju konten utama

Trump Tunda Serangan ke Iran, Harga Minyak Dunia Turun 2% Lebih

Kontrak berjangka Brent untuk pengiriman Juli turun 3,01 dolar AS per barel atau 2,7 persen sementara harga WTI turun 1,38 dolar AS atau 1,3 persen.

Trump Tunda Serangan ke Iran, Harga Minyak Dunia Turun 2% Lebih
Ilustrasi harga minyak. Seorang pejalan kaki memegang payung berjalan melewati pada papan elektronik yang menunjukkan indeks pasar saham dari berbagai negara di luar broker di Tokyo, Jepang, 18 Januari 2016. Indeks Nikkei Jepang menukik ke level terendah satu tahun pada Senin pagi setelah menjual besar -off di Wall Street pada hari Jumat setelah harga minyak anjlok dan ketakutan tumbuh sekitar masalah ekonomi di Cina, mengirimkan semua sektor ke merah. ANTARA FOTO/REUTERS/Yuya Shino

tirto.id - Harga minyak mentah dunia turun lebih dari 2 persen pada awal perdagangan Selasa (19/5/2025). Melandainya harga minyak dunia ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan penundaan rencana serangan terhadap Iran guna memberi ruang bagi perundingan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.

Kontrak berjangka Brent untuk pengiriman Juli turun 3,01 dolar AS per barel atau 2,7 persen menjadi 109,09 dolar AS per barel pada pukul 00.01 waktu setempat. Sementara itu, minyak mentah acuan AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni turun 1,38 dolar AS atau 1,3 persen ke posisi 107,28 dolar AS per barel. Kontrak WTI untuk pengiriman Juni akan berakhir pada hari ini sementara kontrak Juli yang paling aktif diperdagangkan turun 2,06 dolar AS atau 2 persen, menjadi 102,32 dolar AS per barel. Kedua acuan harga tersebut sempat mencapai level tertinggi masing-masing sejak 5 Mei dan 30 April 2026 pada sesi perdagangan sebelumnya.

Sebelumnya, pada Senin (18/5/2026), Donald Trump mengatakan bahwa terdapat “peluang yang sangat besar” bagi Washington untuk mencapai kesepakatan dengan Iran guna mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir. Pernyataan ini dirilisnya hanya beberapa jam setelah mengumumkan penundaan aksi militer untuk memberi ruang bagi perundingan.

“Sinyal dari Trump memang telah meredakan sebagian tekanan dalam jangka pendek, namun risiko fundamental masih tetap ada ... Pasar kini mencermati apakah pernyataan Trump benar-benar mencerminkan langkah menuju deeskalasi atau hanya sekadar jeda taktis,” kata kepala analis pasar di KCM Trade, Tim Waterer, dikutip Reuters.

“Selain itu, bagaimana respons Iran terhadap perkembangan terbaru, serta apa yang sebenarnya terjadi di jalur pelayaran tanker melalui Selat Hormuz, akan menjadi faktor utama yang menentukan arah harga minyak selanjutnya," lanjutnya.

Konflik di Timur Tengah secara efektif telah menutup Selat Hormuz, jalur perairan penting yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, pada Senin mengonfirmasi bahwa posisi Teheran telah disampaikan kepada Amerika Serikat melalui Pakistan. Sayangnya, ia tidak memberikan rincian lebih lanjut terkait hal ini.

Di sisi lain, seorang pejabat Pakistan yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan bahwa Islamabad telah menyampaikan proposal baru antara kedua pihak. Namun, kemajuan perundingan berjalan lambat.

Sementara itu, kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim News Agency, melaporkan bahwa Washington telah setuju untuk membebaskan sanksi terhadap ekspor minyak Teheran selama proses negosiasi berlangsung. Namun, seorang pejabat Amerika Serikat membantah klaim tersebut.

Secara terpisah, Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bassent, memperpanjang pengecualian sanksi selama 30 hari guna memungkinkan negara-negara yang “rentan terhadap energi” untuk tetap membeli minyak Rusia.

Sementara itu, Departemen Energi AS melaporkan sebanyak 9,9 juta barel minyak ditarik dari Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve/SPR) pekan lalu karena gangguan di Selat Hormuz. Penarikan tersebut membuat persediaan turun menjadi sekitar 374 juta barel, level terendah sejak Juli 2024.

Kepala International Energy Agency, Fatih Birol, mengatakan bahwa persediaan minyak komersial menurun dengan cepat, dengan sisa pasokan yang diperkirakan hanya cukup untuk beberapa pekan akibat konflik dan gangguan terhadap pengiriman.

Baca juga artikel terkait HARGA MINYAK DUNIA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Andrian Pratama Taher