Menuju konten utama

Harga Minyak Dunia Hari Ini Naik, Pasokan Belum Stabil

Harga minyak dunia hari ini mengalami kenaikan seiring dengan masih rapuhnya negosiasi AS-Iran untuk mengakhiri perang yang tengah terjadi.

Harga Minyak Dunia Hari Ini Naik, Pasokan Belum Stabil
Tugboat menarik kapal tanker Fortune Pacifik XLIX bermuatan bahan bakar minyak (BBM) saat tiba di Pelabuhan Malahayati, Krueng Raya, Aceh Besar, Aceh, Sabtu (29/12/2018). ANTARA FOTO/Ampelsa/kye.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Harga minyak dunia naik pada awal perdagangan Asia. Pada Selasa (12/5/2025), kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 30 sen atau 0,29 persen, menjadi 104,51 dolar AS per barel.

Adapun minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 31 sen atau 0,32 persen, menjadi 98,38 dolar AS per barel pada pukul 00.02 waktu setempat. Kedua minyak mentah acuan tersebut sebelumnya telah melonjak hampir 2,8 persen pada perdagangan Senin (11/5/2026).

Kenaikan ini mengiringi rapuhnya negosiasi untuk mengakhiri perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Tanggapan Teheran terhadap proposal perdamaian dari AS menunjukkan masih adanya perbedaan besar di antara kedua negara. Dari situ muncul kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak.

Sementara itu, pada Senin, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran “berada di ujung tanduk”, seraya menyoroti masih adanya perbedaan pendapat terkait sejumlah tuntutan. Tuntutan tersebut mencakup penghentian konflik di semua wilayah, pencabutan blokade angkatan laut AS, dimulainya kembali penjualan minyak Iran, serta kompensasi atas kerusakan akibat perang.

Teheran juga menegaskan kedaulatannya atas Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar seperlima aliran minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

“Selama negosiasi antara AS dan Iran masih belum menghasilkan kepastian, dan arus pengiriman energi melalui Selat Hormuz tetap terbatas, harga minyak kemungkinan akan bertahan di atas 100 dolar AS per barel,” kata kepala analis pasar di KCM Trade, Tim Waterer dalam sebuah email, dikutip Reuters.

“Terobosan nyata menuju kesepakatan damai bisa memicu koreksi tajam sebesar 8–12 dolar AS per barel. Namun, jika ketegangan kembali meningkat atau muncul ancaman blokade baru, harga Brent dapat dengan cepat melonjak kembali menuju level di atas 115 dolar AS per barel,” lanjutnya.

Produsen Kurangi Ekspor Minyak Karena Gangguan di Selat Hormuz

Gangguan di Selat Hormuz telah mendorong para produsen untuk mengurangi ekspor minyak. Survei Reuters pada Senin menunjukkan bahwa produksi minyak OPEC pada April turun ke level terendah dalam lebih dari dua dekade.

CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, pada Senin memperingatkan bahwa gangguan ekspor minyak melalui selat tersebut dapat menunda kembalinya stabilitas pasar hingga tahun 2027. Ia menyebut sekitar 100 juta barel minyak per pekan berpotensi hilang dari pasar akibat gangguan tersebut.

Sementara itu, pemerintahan Donald Trump pada Senin mengumumkan rencana untuk meminjamkan 53,3 juta barel minyak mentah dari Cadangan Minyak Strategis AS (Strategic Petroleum Reserve/SPR) sebagai bagian dari upaya meredam gejolak pasar minyak.

Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa pengiriman minyak mentah dari SPR AS sedang dalam perjalanan menuju Turkey. Hal ini menandai pengiriman pertama semacam itu ke negara kawasan Mediterania tersebut.

Di saat yang sama, hanya beberapa hari menjelang rencana pertemuan Trump dengan Presiden Cina Xi Jinping, Washington menjatuhkan sanksi terhadap tiga individu dan 9 perusahaan. Di dalamnya termasuk perusahaan yang berbasis di Hong Kong, Uni Emirat Arab, dan Oman, karena membantu pengiriman minyak Iran ke Cina.

Baca juga artikel terkait HARGA MINYAK MENTAH atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Ilham Choirul Anwar