Menuju konten utama

Perjanjian Perdamaian AS-Iran Gagal Bikin Harga Minyak Meroket

Gangguan pada Selat Hormuz bikin dunia kehilangan sekitar 1 miliar barel minyak dalam 2 bulan terakhir.

Perjanjian Perdamaian AS-Iran Gagal Bikin Harga Minyak Meroket
harga minyak naik. foto/shutterstock
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Harga minyak melonjak lebih dari 3 dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (11/5/2026) karena AS dan Iran gagal menyepakati perjanjian perdamaian yang dibuat Washington. Tidak hanya itu, seiring dengan berlanjutnya perang antara AS-Israel dan Iran, Selat Hormuz yang merupakan jalur penting pelayaran minyak dan gas dunia juga masih terganggu.

Minyak mentah berjangka Brent tercatat naik 3,18 dolar AS atau 3,14 persen, menjadi 104,47 dolar AS per barel pada pukul 23.36 waktu setempat. Kondisi ini memperpanjang kenaikan Brent sebesar 1,23 persen pada Jumat (8/5/2026).

Sementara itu, minyak acuan AS West Texas Intermediate (WTI) tercatat mengalami kenaikan hingga 3,09 dolar atau 3,24 persen, menjadi 98,51 dolar AS per barel setelah menetap lebih tinggi 0,64 persen pada sesi perdagangan sebelumnya.

Harapan akan segera berakhirnya konflik Amerika Serikat-Iran yang telah berlangsung selama 10 minggu — yang diharapkan dapat membuka kembali jalur pengiriman minyak melalui Selat Hormuz — pupus setelah Iran mengatakan "tidak dapat menerima" usulan perundingan damai dari AS. Kemudian, pada Minggu (10/5/2026) Presiden AS Donald Trump pada Minggu (10/5/2026) menolak respons penolakan Iran terhadap tersebut.

Di tengah penolakan itu, Trump tetap dijadwalkan tiba di Beijing pada Rabu (13/5/2026) dan diperkirakan akan membahas isu Iran bersama sejumlah topik lainnya dengan Presiden Cina Xi Jinping.

"Perhatian pasar kini sepenuhnya tertuju pada kunjungan Presiden Trump ke China pekan ini,” kata analis pasar IG, Tony Sycamore, dalam sebuah catatan, dikutip Reuters.

“Ada harapan bahwa ia dapat meyakinkan Beijing untuk memanfaatkan pengaruhnya terhadap Iran guna mendorong tercapainya gencatan senjata menyeluruh serta penyelesaian atas gangguan yang masih berlangsung di Selat Hormuz," tambahnya.

Di sisi lain, menurut CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, karena gangguan pada Selat Hormuz dunia telah kehilangan sekitar 1 miliar barel minyak selama dua bulan terakhir. Imbasnya, pasar energi diperkirakan membutuhkan waktu untuk kembali stabil meskipun arus pasokan kembali normal.

Sementara itu, menurut data pelayaran dari Kpler, dua kapal tanker lainnya yang mengangkut minyak mentah keluar dari Selat Hormuz pekan lalu dengan alat pelacak dimatikan guna menghindari serangan Iran. Hal itu menegaskan meningkatnya tren penggunaan cara tersebut demi menjaga kelangsungan ekspor minyak Timur Tengah.

Baca juga artikel terkait HARGA MINYAK DUNIA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fadrik Aziz Firdausi