tirto.id - Harga minyak dunia sedikit mengalami penurunan pada perdagangan Kamis (23/4/2026), setelah di sesi sebelumnya naik cukup signifikan di tengah terhentinya pembicaraan damai antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Karena tidak ada perkembangan terkait rencana pembicaraan damai tersebut, arus perdagangan minyak dan gas alam cair global di Selat Hormuz masih terhenti.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent turun 15 sen, menjadi 101,76 dolar AS per barel, setelah menetap di atas level 100 dolar AS untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua minggu pada Rabu (22/4/2026).
Sedangkan, minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) turun 14 sen menjadi 92,82 dolar AS per barel.
Kedua minyak mentah acuan tersebut ditutup turun lebih dari 3 dolar AS pada perdagangan kemarin, setelah penurunan stok bensin dan distilat di AS yang lebih besar dari perkiraan serta karena tidak adanya kemajuan dalam perundingan perdamaian AS-Iran.
Sementara, Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan senjata antara kedua negara setelah adanya permintaan dari mediator Pakistan. Kondisi ini membuat Iran dan AS masih membatasi lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz.
Padahal, selat tersebut sebelumnya menyalurkan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global setiap hari hingga perang dimulai pada akhir Februari, yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran.
Sementara itu, pada Rabu (23/4/2026), Iran menyita dua kapal di Selat Hormuz, memperketat cengkeramannya atas jalur perairan strategis tersebut. Di sisi lain, Trump juga tetap mempertahankan blokade Angkatan Laut AS terhadap perdagangan laut Iran.
Menurut sumber di bidang pelayaran dan keamanan, militer AS telah mencegat setidaknya tiga kapal tanker berbendera Iran di perairan Asia dan mengalihkan mereka dari posisi di dekat India, Malaysia, dan Sri Lanka.
Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Baqer Qalibaf, mengatakan bahwa gencatan senjata penuh hanya masuk akal jika blokade tersebut dicabut.
Dengan perpanjangan gencatan senjata pada Selasa (21/4/2026), Trump kembali mundur pada saat-saat terakhir dari ancaman untuk membombardir pembangkit listrik dan jembatan di Iran.
Namun, kata Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, Trump juga belum menetapkan tanggal berakhir untuk perpanjangan gencatan senjata tersebut.
Dengan dinamika yang terjadi, kinerja ekspor minyak AS justru mendapatkan berkah. Total ekspor minyak mentah dan produk minyak bumi dari Amerika Serikat naik sebesar 137.000 barel per hari menjadi rekor 12,88 juta barel per hari (bpd), seiring negara-negara di Asia dan Eropa memborong pasokan setelah gangguan yang terkait dengan perang Iran.
Namun, karena itu Badan Informasi Energi AS (EIA) menyebut persediaan minyak mentah AS meningkat, di saat stok bensin dan distilat menurun.
Persediaan minyak mentah naik sebesar 1,9 juta barel, dibandingkan dengan ekspektasi dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan penurunan sebesar 1,2 juta barel. Sedangkan, stok bensin AS turun sebesar 4,6 juta barel, sementara para analis sebelumnya memperkirakan penurunan sebesar 1,5 juta barel.
Pada saat yang sama, persediaan distilat turun sebesar 3,4 juta barel, dibandingkan dengan ekspektasi penurunan sebesar 2,5 juta barel.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id


































