tirto.id - Harga minyak mentah dunia kembali melonjak pada perdagangan Jumat (8/5/2026) pagi, menyusul pecahnya bentrokan antara pasukan Amerika Serikat (AS) dan Iran di Selat Hormuz. Harga minyak mentah Brent terpantau rebound ke level AS$101 per barel, seiring kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global akibat eskalasi militer di jalur pelayaran vital tersebut.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 2,58 persen atau sekitar 2,45 dolar AS ke posisi 97,26 dolar AS per barel. Ini menjadi titik balik karena pada perdagangan sesi sebelumnya kontrak berjangka WTI telah turun 27 sen, menjadi 94,81 dolar AS per barel.
Sementara itu, harga minyak berjangka Brent tercatat naik 1,41 dolar atau 1,41 persen, menjadi 101.47 dolar AS per barel pada pukul 01.23 waktu setempat.
Dalam keterangannya, militer AS mengatakan pihaknya melakukan serangan balasan terhadap Iran pada Kamis (6/5/2026), dengan menargetkan situs-situs yang bertanggung jawab untuk menyerang pasukan AS. Menurut Komando Pusat AS, serangan ini dilakukan setelah Iran menembaki tiga kapal perusak Angkatan Laut AS yang sedang berlayar di Selat Hormuz.
Meski demikian, komando tersebut menegaskan bahwa mereka “tidak menginginkan eskalasi,” namun tetap siap melindungi pasukan Amerika.
Berdasarkan unggahan media sosial, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa ketiga kapal perang tersebut berhasil keluar dari perairan itu tanpa mengalami kerusakan setelah serangan terjadi. Namun, menanggapi serangan ini, dia menyatakan, “Kami akan menghantam mereka jauh lebih keras dan jauh lebih brutal di masa mendatang jika mereka tidak segera menandatangani kesepakatan mereka!” katanya, dikutip Bloomberg.
Sebaliknya, militer Iran menuduh AS telah melanggar perjanjian gencatan senjata antara kedua negara, dengan mengatakan bahwa AS telah menargetkan dua kapal di Selat Hormuz dan menyerang wilayah sipil.
Sementara itu, fokus pasar minyak masih tertuju pada Selat Hormuz, yang praktis telah tertutup sejak perang dimulai pada akhir Februari. Kondisi ini memicu guncangan pasokan energi yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan aliran minyak mentah tersendat dan sumur-sumur minyak di berbagai wilayah terpaksa menghentikan produksi.
Jalur perairan tersebut kini berada di bawah blokade ganda. Teheran menghambat lalu lintas pelayaran, sementara Amerika Serikat mencegah kapal-kapal yang menuju atau meninggalkan pelabuhan Iran.
"Pasar minyak saat ini diperdagangkan di antara dua risiko: diplomasi di satu sisi dan eskalasi lebih lanjut di sisi lainnya,” kata Charu Chanana, kepala strategi investasi di Saxo Markets Singapura.
“Pasar masih memberi peluang bagi proposal perdamaian untuk berhasil, tetapi peluang itu belum cukup besar untuk menghilangkan premi risiko perang dari harga minyak," imbuhnya.
Bentrokan terbaru ini semakin meningkatkan ketegangan di kawasan, di tengah upaya Amerika Serikat untuk keluar dari perang yang kian membebani konsumen akibat melonjaknya harga bensin dan diesel eceran. Pekan ini, pemerintahan Presiden Donald Trump masih menunggu respons Teheran terhadap proposal pembukaan kembali jalur perdagangan, sementara para pemimpin Iran belum menunjukkan apakah mereka akan menerima syarat-syarat tersebut.
Trump mengatakan kepada para wartawan pada Kamis malam bahwa gencatan senjata dengan Iran masih tetap berlaku, meskipun terjadi aksi saling serang. Ia juga menyatakan bahwa tidak perlu ada pembatasan terhadap ekspor minyak mentah maupun bahan bakar jet dari AS untuk mengatasi kekurangan pasokan global yang dipicu oleh perang tersebut. “Kami memiliki cadangan minyak dalam jumlah yang sangat besar,” ujarnya.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id



































