Menuju konten utama

Daftar Negara yang Diizinkan Iran Lintasi Selat Hormuz

Iran beri izin khusus bagi kapal tanker China, India, hingga Malaysia untuk lintasi Selat Hormuz di tengah ketegangan global.

Daftar Negara yang Diizinkan Iran Lintasi Selat Hormuz
selat hormuz. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pemerintah Iran secara resmi memberikan akses khusus bagi kapal-kapal tanker dari sejumlah negara sahabat untuk melintasi Selat Hormuz di tengah blokade jalur perdagangan minyak dunia. Kebijakan ini mencakup negara-negara besar seperti China, Rusia, hingga negara tetangga Indonesia, yakni Malaysia, yang kini mendapatkan jaminan keamanan saat melewati perairan strategis tersebut.

Konsulat Jenderal Iran di Mumbai yang mengutip pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, membagikan informasi melalui media sosial X bahwa sejumlah negara diberikan akses Selat Hormus. Dalam unggahan itu disebutkan ada lima negara yang diberikan izin untuk melintasi Selat Hormuz.

“Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi: Kami mengizinkan pelayaran melalui Selat Hormuz bagi negara-negara sahabat termasuk China, Rusia, India, Irak, dan Pakistan,” ucap unggahan itu sebagaimana dilansir The Economic Times, Jumat (27/3/2026).

Pakistan

Melansir Reuters, kapal tanker Aframax Karachi yang dioperasikan Pakistan National Shipping Corporation melintasi Selat Hormuz sekitar 15 Maret 2026 setelah memuat minyak mentah di Das Island, Abu Dhabi. Berdasarkan data pelacakan kapal LSEG, kapal tersebut diperkirakan tiba di Karachi pada 17 Maret.

Data juga menunjukkan kapal itu sempat berlayar di sisi perairan Iran sebelum berbelok ke arah timur menuju Pakistan. Pakistan sangat bergantung pada impor minyak mentah dan bahan bakar olahan dari negara-negara Teluk, yang sebagian besar dikirim melalui Selat Hormuz.

Di sisi lain, Islamabad memiliki hubungan baik dengan Iran, sekaligus menjaga kedekatan dengan Washington dan Arab Saudi, yang terikat pakta pertahanan bersama, sehingga menempatkan Pakistan dalam posisi diplomatik yang serba sulit di tengah eskalasi ketegangan.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Senin menyampaikan terima kasih kepada Pakistan atas “solidaritasnya” dalam unggahan di X.

Pekan lalu, Angkatan Laut Pakistan meluncurkan operasi untuk mengamankan jalur pelayaran, termasuk mengawal kapal-kapal niaga. Seorang sumber militer kepada Reuters menyebut pihaknya telah berkomunikasi dengan otoritas Iran.

“Tidak diperlukan pengawalan, karena ini adalah kapal Pakistan,” kata sumber tersebut.

Hingga kini, angkatan laut dan militer Pakistan, serta kementerian luar negeri, perminyakan, dan informasi belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Sementara itu, kapal tanker lain milik Pakistan National Shipping Corporation, Lahore, yang memuat minyak mentah di pelabuhan Yanbu, Arab Saudi, tercatat berjarak sekitar tiga hari pelayaran dari Pakistan, menurut data LSEG.

Malaysia

Selain itu, Malaysia juga merupakan negara yang mengantongi izin dari Iran agar kapal-kapalnya melintasi Selat Hormuz.

Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim menyampaikan terima kasih kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian atas pemberian akses bagi kapal tanker minyak Malaysia untuk melintasi Selat Hormuz.

“Sekarang kita dalam proses untuk melepaskan kapal minyak Malaysia dan pekerja yang terlibat agar dapat melanjutkan perjalanan mereka pulang,” kata Anwar sebagaimana dilansir Bernama, Jumat.

Anwar menjelaskan, sebelumnya ia telah menghubungi Pezeshkian serta Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi guna membahas ketegangan yang terjadi di kawasan Asia Barat.

Selain itu, ia juga berbicara dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif untuk ketiga kalinya guna memperoleh penjelasan terkait langkah-langkah menuju perdamaian konflik yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

“Namun, tidak mudah karena Iran berpandangan mereka telah berulang kali tertipu dan sulit menerima langkah-langkah menuju perdamaian tanpa adanya sesuatu yang dapat mengikat perjanjian serta jaminan keamanan bagi negara mereka,” ucapnya

“Dampaknya juga meluas ke Lebanon, lebih dari satu juta orang kehilangan tempat tinggal dan harta benda. Dan jangan lupa, akar masalah di Palestina dan Gaza belum terselesaikan, bahkan bencana tersebut membuat mereka semakin menderita,” tambah Anwar.

Lebih lanjut, Anwar menyebut pembatasan di Selat Hormuz serta gangguan pasokan minyak dan gas global berpotensi berdampak pada Malaysia. Meski demikian, ia menilai negaranya berada dalam posisi yang relatif lebih baik berkat kemampuan perusahaan energi nasional Petronas dalam menjaga pasokan dan stabilitas energi.

Ia menegaskan Malaysia akan terus memainkan peran aktif dalam mendukung upaya perdamaian kawasan, sembari memastikan kepentingan serta keamanan rakyat dan perekonomian nasional tetap terjaga.

“Pemerintah telah menyatakan sikap tegas menentang kezaliman, penindasan, dan agresi yang dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat. Namun, situasi menjadi lebih rumit ketika respons Iran tidak hanya berdampak pada Israel, tetapi juga dirasakan oleh negara-negara Teluk,” kata dia.

Anwar menambahkan, Malaysia bersyukur tetap berada dalam kondisi aman dan stabil, meskipun tidak sepenuhnya terlepas dari dampak konflik mengingat hubungan erat negara tersebut dengan Iran dan negara-negara Teluk dalam sektor perdagangan, investasi, pendidikan, serta kebudayaan.

Thailand

Sebuah kapal tanker minyak asal Thailand yang berhasil melintasi Selat Hormuz dilaporkan tidak dikenai biaya apa pun oleh Iran. Informasi tersebut disampaikan oleh sumber di Kementerian Luar Negeri Thailand.

Kapal tanker milik perusahaan energi yang tercatat di bursa, Bangchak Corporation, melintasi jalur perairan strategis itu pada Senin setelah adanya pembicaraan antara Menteri Luar Negeri Thailand, Sihasak Phuangketkeow dan Duta Besar Iran untuk Thailand. Pihak Bangchak juga menyatakan tidak perlu membayar biaya untuk bisa melewati blokade tersebut.

“Saya meminta bahwa jika kapal-kapal Thailand perlu melintasi selat itu, apakah mereka dapat membantu memastikan jalur yang aman?” ujar Sihasak dikutip dari Bangkok Post, Jumat.

“Mereka merespons bahwa mereka akan mengurusnya dan meminta kami untuk memberikan nama-nama kapal yang akan melintas,” tambahnya.

Untuk memastikan kelancaran pelayaran kapal tanker Bangchak, Kedutaan Besar Thailand di Muscat turut bekerja sama dengan otoritas Oman serta berkoordinasi dengan Iran melalui kedutaannya di Bangkok, kata sumber Kementerian Luar Negeri Thailand yang enggan disebutkan namanya karena sensitivitas isu tersebut.

Sementara itu, satu kapal Thailand lainnya milik SCG Chemicals masih menunggu izin untuk melintasi Selat Hormuz, kata Sihasak.

India

Duta Besar Iran untuk India, Mohammad Fathali menyatakan Teheran telah mengizinkan sejumlah kapal India melintasi Selat Hormuz. Kebijakan ini menjadi pengecualian langka di tengah blokade yang telah mengganggu pasokan energi global.

Fathali tidak mengonfirmasi jumlah kapal yang diizinkan melintas. Namun, pada hari yang sama, pemerintah India menyebut dua kapal tanker berbendera India yang mengangkut gas petroleum cair menuju pelabuhan di wilayah barat negara tersebut telah melewati selat itu.

“Mereka melintasi Selat Hormuz pada dini hari dengan aman dan sedang dalam perjalanan menuju India,” ujar Sekretaris Khusus Kementerian Pelabuhan, Perkapalan, dan Jalur Air India, Rajesh Kumar Sinha, dalam konferensi pers di New Delhi, sebagaimana dikutip dari Aljazeera.

Turki

Sebuah kapal milik perusahaan Turki yang sempat menunggu di dekat perairan Iran akhirnya diizinkan melintasi Selat Hormuz setelah otoritas setempat memperoleh izin dari Teheran. Hal ini disampaikan Menteri Transportasi dan Infrastruktur Turki Abdulkadir Uraloglu kepada media Turki pada Jumat.

Uraloglu menjelaskan terdapat sejumlah kapal milik Turki yang berada di kawasan tersebut, namun hanya satu yang telah mendapatkan izin untuk melintas setelah melalui proses koordinasi dengan pihak Iran.

“Ada lima belas kapal [milik pemilik Turki] di sana. Kami memperoleh izin dari otoritas Iran untuk salah satunya yang telah menggunakan pelabuhan Iran, dan kapal itu pun melintas,” ujar Uraloglu dilansir dari Aljazeera.

Bagaimana dengan Kapal dari Indonesia?

Indonesia menjadi negara yang tak masuk dalam daftar negara yang diizinkan melintasi Selat Hormuz. Pemerintah Indonesia mulai mengalihkan strategi pasokan energi dengan mencari sumber minyak dari luar kawasan konflik.

Komisaris PT Pertamina, Hasan Nasbi, memastikan pemerintah telah mengantisipasi dampak konflik geopolitik tersebut, terutama terhadap pasokan energi nasional.

Menurutnya, salah satu langkah utama yang dilakukan adalah mengalihkan sumber impor minyak ke wilayah yang tidak terdampak penutupan Selat Hormuz.

“Kami mencari sebanyak mungkin sumber pasokan yang tidak tertahan di Selat Hormuz, seperti dari Afrika dan Amerika. Ini untuk memastikan distribusi energi ke Indonesia tetap berjalan lancar,” ujar Hasan saat ditemui di Surakarta, Rabu (25/3/2026).

Sebelumnya, PT Pertamina menyiapkan strategi untuk memenuhi kebutuhan minyak mentah nasional usai dua kapal milik anak perusahaan mereka, PT Pertamina International Shipping (PIS), yang terjebak di Selat Hormuz. Sebab, Pertamina mengimpor sebanyak 19 persen minyak mentah untuk kebutuhan nasional melalui Selat Hormuz.

VP Corporate Communication PT Pertamina Persero, M Baron, menyebutkan sejatinya ada empat kapal yang berada di perairan Timur Tengah. Dua di antara empat kapal itu berada di kawasan Selat Hormuz, sedangkan dua kapal sisanya berada di luar selat tersebut.

Menurut Baron, Pertamina terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan keselamatan kru di kedua kapal PT PIS tersebut. Salah satu pihaknya, yakni Kementerian Luar Negeri (Kemlu).

Baca juga artikel terkait TELUK HORMUZ atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Siti Fatimah