Menuju konten utama

Harga Minyak Dunia Turun Jelang Pertemuan Trump dan Xi Jinping

Minyak Brent turun 0,76 persen, menjadi 106,95 dolar AS per barel. Sedangkan, harga minyak WTI susut 0,65 persen, menjadi 101,52 dolar AS per barel.

Harga Minyak Dunia Turun Jelang Pertemuan Trump dan Xi Jinping
kilang minyak.foto/shutterstock
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Harga minyak mentah dunia jatuh pada perdagangan Rabu (13/5/2026) usai mengalami kenaikan selama tiga sesi berturut-turut.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent turun sekitar 82 sen atau 0,76 persen, menjadi 106,95 dolar AS per barel pada pukul 00.51 waktu setempat. Sedangkan, minyak mentah acuan AS West Texas Intermediate (WTI) anjlok 66 sen atau 0,65 persen, menjadi 101,52 dolar AS per barel.

Kedua harga minyak acuan tersebut sebagian besar bertahan di sekitar atau di atas level 100 dolar AS per barel sejak Amerika Serikat dan Israel mulai melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari dan Teheran secara efektif menutup Selat Hormuz setelahnya.

Penurunan harga minyak mentah dunia hari ini terjadi di tengah menurunnya ekspektasi gencatan senjata antara AS-Iran, serta rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertolak ke Cina untuk menghadiri pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden Xi Jinping.

Donald Trump mengatakan pada Selasa (12/5/2026) bahwa ia tidak yakin akan membutuhkan bantuan Cina untuk mengakhiri perang dengan Iran, bahkan ketika harapan terhadap kesepakatan damai jangka panjang semakin memudar dan Teheran memperketat cengkeramannya atas Selat Hormuz.

Sebagai informasi, Cina merupakan pembeli terbesar minyak Iran meskipun mendapat tekanan dari pemerintahan Trump, dan Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada Kamis serta Jumat, 14-15 Mei 2026.

“Lamanya gangguan serta besarnya kehilangan pasokan—yang sudah melebihi 1 miliar barel—berarti harga minyak kemungkinan akan tetap berada di atas 80 dolar AS per barel hingga sisa tahun ini,” tulis Eurasia Group dalam catatan kepada kliennya, sebagaimana dilaporkan Reuters, Rabu (13/5/2026).

Perang dengan Iran mulai memberikan dampak terhadap perekonomian Amerika Serikat, karena kenaikan harga minyak menyebabkan bahan bakar menjadi lebih mahal. Para ekonom juga memperkirakan dampak lanjutan akan mulai terlihat dalam beberapa bulan mendatang.

Pada April, Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat naik tajam 3,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dan secara bulanan (month-on-month/mom), CPI naik 0,6 persen. Ini menjadikan CPI naik selama dua bulan beruntun, sehingga menghasilkan kenaikan inflasi tahunan terbesar dalam hampir tiga tahun terakhir. Sementara inflasi inti (core CPI) AS, yang tidak memasukkan harga pangan dan energi, naik 2,8 persen secara tahunan dan 0,4 persen secara bulanan.

Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tetap stabil untuk sementara waktu.

“Kenaikan inflasi yang signifikan di negara-negara maju sejauh ini belum menyebabkan kontraksi belanja riil, tetapi penurunan luas dalam sentimen konsumen dan niat perekrutan tenaga kerja mengindikasikan kondisi yang lebih buruk akan datang,” tulis Capital Economics dalam catatan kepada kliennya.

Suku bunga yang tinggi membuat biaya pinjaman menjadi lebih mahal, yang berpotensi menekan permintaan minyak.

Di tengah berlanjutnya perang Iran, persediaan minyak mentah AS turun untuk pekan keempat berturut-turut pada pekan lalu dan stok distilat juga mengalami penurunan, menurut sumber pasar yang mengutip data American Petroleum Institute (API).

Baca juga artikel terkait MINYAK atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana