tirto.id - Uni Emirat Arab (UAE) resmi umumkan keluar dari OPEC dan OPEC+ di tengah masih berkecamuknya Perang Iran. Ini disebut sebagai pukulan bagi organisasi negara pengekspor minyak itu lantaran UAE adalah salah satu produsen minyak terbesar di OPEC. Namun, mengapa UAE melakukan keputusan itu?
Seturut CNN, kantor berita milik negara UAE, Wam, merilis laporan bahwa keputusan UAE itu akan secara efektif berlaku mulai Jumat (1/5/2026) mendatang. Dalam laporan itu, WAM menyebut bahwa keputusan ini merupakan upaya untuk merealisasikan visi strategis dan jangka panjang UAE.
“Keputusan ini sejalan dengan visi strategis dan ekonomi jangka panjang Uni Emirat Arab dan pengembangan sektor energinya, termasuk mempercepat investasi dalam produksi energi domestik,” kata pernyataan itu.
Tak hanya keluar dari OPEC, keputusan ini juga disebut akan membuat UAE menarik keikutsertaannya pada OPEC+, organisasi kemitraan anggota OPEC dengan negara penghasil minyak non-OPEC, seperti Rusia dan Meksiko.
Dalam OPEC, UAE merupakan salah satu negara pengekspor utama. Negara ini ada di antara sepuluh produsen minyak terbesar dunia, menyumbang sekitar 3% hingga 4% dari produksi minyak dunia.
Keluarnya UAE diperkirakan akan menjadi pukulan bagi persekutuan negara penghasil ekspor tersebut. Hal ini dikarenakan jumlah produksi minyak negara OPEC merupakan alasan mengapa organisasi itu relevan.
Alasan Uni Emirat Arab Keluar dari OPEC dan OPEC+
OPEC atau Organisasi Negara Pengekspor Minyak dibentuk pada 1960 dalam Konferensi Baghdad. Ketika awal berdiri, OPEC merupakan organisasi dengan lima negara anggota, yakni Iran, Irak, Kuwait, Arab Saudi, dan Venezuela.
Organisasi ini semula dibentuk untuk menyaingi pengaruh produsen-produsen minyak dari Barat, yang dikenal sebagai “Tujuh Bersaudari”. Kelompok perusahaan dari Barat ini mengendalikan pasar saat itu, lewat kontrol produksi dan penetapan harga.
OPEC lalu didirikan sebagai poros baru untuk membuat persaingan pasar minyak dunia lebih adil. Oleh karenanya, laju produksi minyak negara OPEC jadi salah satu nilai tawar ketika mencoba menggeser pengaruh Tujuh Bersaudari.
Organisasi itu lalu berkembang, jumlah anggotanya kini mencapai 12 negara. Beberapa negara telah keluar masuk dalam daftar anggota, termasuk Indonesia yang jadi anggota aktif pada 1962-2009 dan 2015-2016.
Kemudian pada 2016, OPEC menjalin kerja sama kemitraan dengan lebih banyak negara penghasil minyak, seperti Rusia dan Meksiko, untuk membentuk OPEC+. Hal ini membuat OPEC dan OPEC+ merupakan kelompok dengan laju produksi minyak 41 persen dari pasokan global.
UAE sendiri merupakan anggota OPEC sejak 1967. Dan setelah 59 tahun, UAE memilih keluar dari organisasi tersebut.
Dalam keterangan yang diterbitkan WAM, Pemerintah UAE menyebut salah satu alasan mereka menarik diri dari OPEC adalah untuk menggenjot “produksi energi domestik”.
UEA memang telah lama mendorong kuota produksi OPEC yang lebih tinggi dari yang ditetapkan organisasi itu. Namun, dilihat dari situasi UAE di antara negara anggota lain, keputusan ini tampaknya punya dimensi alasan yang lain.
Seturut Al Jazeera, kebijakan luar negeri UAE dalam beberapa dekade terakhir telah mengisolasi mereka dari negara-negara anggota OPEC lainnya. Beberapa yang paling menonjol adalah ketegangan dengan Arab Saudi dan hubungan mereka dengan Amerika Serikat (AS)-Israel.
Ketegangan UAE dan Saudi terjadi karena perbedaan posisi kedua negara terhadap konflik di Yaman. Kedua negara tersebut memiliki musuh yang sama dalam konflik di Yaman, namun dukungan keduanya diberikan kepada pihak yang berlainan.
Selain itu, Abu Dhabi kini telah memiliki ruang lingkup pengaruhnya sendiri di kawasan Asia Barat dan Afrika. Dalam satu dekade terakhir, UAE telah mengintensifkan hubungan mereka dengan AS-Israel melaluinya. Puncaknya adalah melalui Perjanjian Abraham 2020.
Melalui perjanjian tersebut, UAE menormalisasi hubungan dengan Israel untuk memperluas pengaruh regional sembari “mengamankan” saluran unik ke Washington.
Sementara itu, Menteri Energi UAE Suhail Al Mazrouie menyebut bahwa keputusan keluar dari OPEC merupakan “evolusi” yang selaras “dengan fundamental pasar jangka panjang”. Mazrouie juga memastikan bahwa keputusan ini tidak akan mengurangi komitmen UAE untuk menyediakan pasokan minyak di pasar global.
“Kami tetap berkomitmen pada keamanan energi, menyediakan pasokan yang andal, bertanggung jawab, dan rendah karbon sambil mendukung pasar global yang stabil,” tulis Mazrouie dalam keterangannya di X.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id






























