tirto.id - Harga minyak dunia pada perdagangan Rabu (1/4/2026) pagi kembali mengalami kenaikan imbas volatilitas di Timur Tengah. Kondisi ini membuat pasar gelisah, meskipun ada laporan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai menegosiasikan akhir perang.
Berdasarkan data Reuters, harga minyak Brent memperpanjang reli di bulan Maret dengan kenaikan sebesar 66 sen atau 0,63 persen menjadi 104,63 dolar AS per barel untuk pengiriman Juni. Dalam 31 hari, kontrak berjangka Brent tercatat mencapai rekor penguatan bulanan sebesar 64 persen sepanjang Maret, menjadi yang tertinggi sejak Juni 1988.
Sementara itu, minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) untuk bulan Mei naik 96 sen atau 0,95 persen menjadi 102,34 dolar AS per barel. Sedangkan kontrak berjangka WTI untuk bulan Juni naik 46 sen atau 0,49 persen menjadi 93,62 dolar AS per barel.
"Bahkan dengan jalur diplomatik yang dilaporkan masih aktif dan pernyataan sporadis dari pemerintahan AS yang memprediksi konflik akan segera berakhir, kombinasi dari minimnya kemajuan diplomatik yang nyata, berlanjutnya serangan maritim, serta ancaman terbuka terhadap aset energi tetap membuat risiko pasokan cenderung meningkat,” kata analis LSEG dalam sebuah catatan.
Kenaikan ini menjadi sinyal pemulihan harga minyak setelah pada perdagangan Selasa, kontrak Brent sempat anjlok lebih dari 3 dolar AS per barel. Penurunan itu dipicu laporan dari sumber yang tidak jelas yang menyebut Presiden Iran memutuskan mengakhiri perang dengan AS dan Israel.
Di sisi lain, sehari sebelumnya Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada wartawan bahwa AS dapat mengakhiri eskalasi militer dalam dua hingga tiga minggu, serta menyebut Iran tidak perlu membuat kesepakatan untuk menghentikan konflik. Pernyataan ini menjadi sinyal paling tegas sejauh ini terkait keinginannya mengakhiri perang yang telah berlangsung sekitar satu bulan.
Namun, analis menilai bahwa bahkan jika konflik benar-benar mereda, kerusakan infrastruktur energi berpotensi membuat pasokan minyak global tetap ketat.
Tekanan terhadap pasokan juga datang dari sisi produksi. Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dilaporkan memangkas produksi hingga 7,3 juta barel per hari pada Maret dibandingkan bulan sebelumnya. Survei Reuters yang dirilis Selasa menunjukkan penurunan ini dipicu oleh pemotongan ekspor paksa akibat penutupan Selat Hormuz.
Selain itu, jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom dan analis menunjukkan bahwa gangguan distribusi dan produksi di kawasan tersebut telah mendorong kenaikan proyeksi harga minyak tahunan, bahkan mencapai level tertinggi dalam periode Februari hingga Maret.
Dalam survei Maret, harga minyak Brent diperkirakan rata-rata mencapai 82,85 dolar AS per barel pada 2026, atau sekitar 30 persen lebih tinggi dibandingkan proyeksi Februari sebesar 63,85 dolar AS per barel—yang disusun sebelum perang dimulai.
Kenaikan sekitar 19 dolar AS per barel ini menjadi lonjakan tahunan paling tajam dalam data jajak pendapat bulanan Reuters sejak pertama kali dihimpun pada 2005.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id


































