Menuju konten utama

Mindful Living Bukan soal Lambat, tapi Kesadaran Penuh

Mindful living juga berarti menyadari bahwa keresahan yang dirasakan bukan hanya miliknya seorang sehingga perlu diikuti tindakan yang harus dilakukan.

Mindful Living Bukan soal Lambat, tapi Kesadaran Penuh
Penulis sekaligus pendiri festival literasi Patjar Merah, Windy Ariestanty dalam sesi diskusi “Mindful Living, Bergerak di Tengah Dunia yang Serba Tergesa-gesa”, di Kopi Kina Kemang, Sabtu (8/8/2026). FOTO/Khaila Adinda
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Konsep mindful living menjadi salah satu perbincangan dan digaungkan di media sosial. Meski mulai dikenal publik, konsep mindful living, atau dikaitkan dengan slow living, ternyata masih belum dipahami sepenuhnya publik. Sebab, tidak sedikit publik menganggap mindful living sebagai anjuran untuk memperlambat ritme hidup sebagaimana slow living.

"Slow living itu apa? Hidup pelan itu apa? Kalau aku jawab hidup pelan itu sangat berarti buat aku, aku tuh kesannya bohong sekali teman-teman," kata penulis sekaligus pendiri festival literasi Patjar Merah, Windy Ariestanty, dalam sesi diskusi “Mindful Living, Bergerak di Tengah Dunia yang Serba Tergesa-gesa”, di Kopi Kina Kemang, Sabtu (8/8/2026).

Dalam sesinya, Windy justru mengerjakan banyak hal dalam satu waktu hingga tidak jarang berpindah tempat dengan tempo cepat untuk keperluan pekerjaannya.

Meski dengan ramainya deretan aktivitas yang ditekuni, Windy justru menilai inti dari mindful living. Dia menyatakan mindful living bukan terletak pada kecepatan atau kelambatan seseorang menjalani hidup, tetapi kesadaran penuh atas setiap tindakan yang dipilih.

"Oh kamu nggak apa-apa bergerak cepat asal satu, kamu hadir penuh dan sadar utuh," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa hal yang acap kali luput dari kesadaran orang adalah kehadiran yang utuh di suatu tempat. "Itu yang kadang-kadang kita tidak lakukan, kita bergerak lambat tapi kita nggak pernah hadir di sebuah tempat dengan kesadaran penuh," katanya.

Senada dengan Windy, musisi Lintang Larasati, turut menambahkan. Lintang mengatakan, hidup mindful adalah soal niat di balik setiap keputusan.

"Hidup lebih pelan itu buat aku adalah mempunyai niat dalam melakukan apa pun yang kamu lakukan," kata Lintang. "The most important question is always about why," tambahnya.

Pemahaman soal mindful living itu turut menyentuh soal relevansinya bagi warga negara di tengah situasi yang dinilai represif, termasuk perihal bagaimana bersikap saat merespon pernyataan yang dikeluarkan oleh pejabat publik. Di sisi lain, Windy mengaku pertanyaan itu memantik keresahannya sendiri.

"Setiap hari saya bertanya kenapa saya masih bertahan jadi warga negara Indonesia," katanya.

Meski begitu, Windy menilai upaya untuk tetap menjadi orang baik di tengah kondisi sulit patut diapresiasi. Dia beralasan, mindful living juga berarti menyadari bahwa keresahan yang dirasakan bukan hanya miliknya seorang.

"Menjadi mindful di sini berarti menyadari bahwa saya bukan satu-satunya orang yang sedang cemas. Ibu cemas, saya cemas, saya nggak tahu Indonesia besok seperti apa," ujarnya.

Kesadaran itu, kata Windy, kemudian perlu diikuti dengan pertanyaan mengenai hal apa yang bisa dilakukan untuk menghadapi situasi tersebut. Ia merasa setiap orang tetap dapat mengambil peran, sekecil apa pun, untuk menjaga harapan bagi sesama warga sipil.

"Hal yang paling bisa kita lakukan saat ini adalah satu, menyadari apa yang bisa saya lakukan supaya kondisi ini berubah berarti saya harus punya kontribusi untuk membuat orang lain merasa masih ada harapan," katanya jabar.

Sementara itu, Lintang melihat hal serupa dari sisi yang lebih dekat dengan keseharian. Baginya, menghadapi kabar buruk tentang negara tak berarti seseorang harus berhenti menjalani rutinitasnya. Hal yang terpenting, kata Windy, menyadari bahwa tindakan sehari-hari pun memiliki konsekuensi terhadap orang-orang di sekitar.

"Bagaimana cara tetap mindful ketika kita mendapatkan berita-berita tentang negara ini adalah dengan tetap melakukan apa yang ibu lakukan sehari-hari, tapi tahu bahwa apa pun yang Ibu lakukan itu ada dampaknya. Selalu ada dampaknya ke keluarga, ke teman, ke tetangga. Itu semua political," tutur Lintang.

Baca juga artikel terkait GAYA HIDUP atau tulisan lainnya dari Khaila Adinda

tirto.id - Flash News
Reporter: Khaila Adinda
Penulis: Khaila Adinda
Editor: Andrian Pratama Taher