Menuju konten utama

8 Tokoh Cendekiawan Islam di Bidang Ilmu Filsafat dan Karyanya

Berikut ini 8 tokoh cendekiawan Islam di bidang ilmu filsafat dan karyanya yang memiliki pengaruh besar, beserta profil singkat mereka.

8 Tokoh Cendekiawan Islam di Bidang Ilmu Filsafat dan Karyanya
Ibnu Sina. tirto.id/Sabit

tirto.id - Perkembangan ilmu pengetahuan di peradaban Islam pernah mengalami puncak kemajuan selama lima abad. Masa itu disebut sebagai periode klasik. Harun Nasution dalam buku Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya (1985) mencatat periode kejayaan peradaban Islam berlangsung pada 650-1250 Masehi.

Periode klasik tersebut merupakan masa kekuasaan Dinasti Umayyah yang kemudian digantikan Dinasti Abbasiyah. Kemajuan ilmu pengetahuan di dunia Islam mencapai puncaknya pada era pemerintahan dua khalifah dari Daulah Abbasiyah, yakni Harun Al-Rasyid dan Al Ma’mun.

Perhatian dua penguasa Dinasti Abbasiyah tersebut pada kemajuan ilmu pengetahuan terlihat dengan adanya lembaga perpustakaan bernama Baitul Hikmah. Lembaga ini menjadi semacam pusat riset yang secara aktif menerjemahkan teks-teks Yunani, Persia, dan India ke dalam bahasa Arab.

Baitul Hikmah yang berdiri selama abad 9-13 Masehi mencetak banyak sarjana muslim yang mahir di bidang matematika, astronomi, kedokteran, kimia, geografi, hingga filsafat. Lembaga yang sama pun membuka diri kepada para ilmuwan dan pembelajar dari kalangan Yahudi dan Kristen.

Di antara bidang-bidang keilmuan tersebut, filsafat memegang peranan paling penting. Kemajuan ilmu filsafat mendorong perkembangan bidang-bidang studi lainnya. Banyak filsuf Islam kala itu tidak hanya menguasai filsafat, tetapi juga berbagai bidang ilmu lainnya.

Selain Baghdad dan kota lain di sekitarnya, Andalusia (Spanyol) juga menjadi tempat lahirnya banyak ilmuwan filsafat Islam, terutama pada masa Daulah Umayyah II (756-1031 M) berkuasa di semenanjung tersebut. Kota Cordoba menjadi salah satu pusat kemajuan ilmu pengetahuan di Andalusia masa itu.

Tokoh Cendekiawan Islam di Bidang Ilmu Filsafat

Sebenarnya cukup banyak tokoh cendekiawan islam di bidang ilmu filsafat dari periode klasik, baik dari wilayah Daulah Abbasiyah (Baghdad, Persia, Asia Tengah, Arab, Afrika Utara) maupun Andalusia di masa Daulah Umayah II.

Di antara nama filsuf Islam yang populer dan berpengaruh besar pada periode klasik adalah Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan masih banyak lagi.

Namun, daftar tokoh filsafat islam dan karyanya berikut ini hanya berisi sebagian saja dari para ilmuwan muslim tersebut, terutama yang pemikirannya masih berpengaruh hingga saat ini.

Berikut profil 8 tokoh cendekiawan muslim di bidang ilmu filsafat beserta karya-karya besarnya:

1. Al-Kindi (801-873 M)

Abu Yusuf Ya'qub bin Ishaq al-Kindi dianggap sebagai pelopor generasi filsuf Islam pada periode klasik. Al-kindi merupakan filsuf muslim pertama yang menyusun pemikiran filsafat Islam dengan sistematis.

Selain dikenal sebagai ilmuwan filsafat Islam, Al-kindi juga aktif menerjemahkan teks-teks Yunani Kuno, terutama karya Aristoteles, Plato, dan sejumlah pemikir neoplatonis. Semasa hidup, al-Kindi menekuni kajian filsafat, logika, astronomi, politik, ilmu jiwa, kedokteran, musik, dan matematika.

Salah satu karya besar al-Kindi adalah Al-Falsafah al-Ula. Karya ini merupakan persembahan al-Kindi untuk khalifah al-Mu`tashim (833-842 M) dari Dinasti Abbasiyah. Al-Falsafah al-Ula sekaligus juga istilah untuk pemikiran metafisika al-Kindi yang didasarkan pada konsep filsafat Aristoteles.

2. Al-Farabi (870-950 M)

Al-Farabi dianggap sebagai filsuf Islam pertama yang secara sungguh-sungguh mengkaji filsafat Yunani klasik. Nama filsuf Islam ini lengkapnya adalah Abu Nasr Muhammad bin Muhammad bin Lharkhan bin Uzalagh Al-Farabi.

Kapasitas Al-Farabi dalam menerangkan filsafat Yunani sekaligus mengomparasikannya dengan falsafah Islam membuat ia meraih reputasi tinggi. Al-Farabi bahkan mendapat julukan The Second Master atau Guru Kedua setelah Aristoteles.

Kecemerlangan pemikiran Alfarabi membentang di berbagai bidang keilmuan, mulai dari bahasa, kimia, militer, astronomi, ketuhanan, ilmu alam, fiqih, musik, manthiq, dan tentu saja filsafat. Al-farabi tercatat menghasilkan 100 karya dalam bentuk risalah, naskah, dan buku.

Dari sekian banyak karya Al-Farabi, salah satu yang terpopuler dan berpengaruh adalah kitab Ar-Royu Ahlul al-Madinah wa al-Fadilah (pemikiran tentang penduduk negara utama).

3. Ibnu Sina (980-1073 M)

Abu Ali al Husain bin Abdullah bin Sina atau Ibnu Sina tidak hanya populer di dunia Islam. Nama filsuf Islam ini pun sejak berabad-abad lampau telah masyhur di dunia sains barat.

Para ilmuwan barat menyebut Ibnu Sina dengan nama Avicenna. Pengaruh Ibnu Sina tidak hanya besar di bidang filsafat, tapi juga kedokteran dan farmasi. Namun

Dua karya Ibnu Sina yang paling populer, yaitu ensiklopedia filsafat Kitab al-Shifa (Buku Penyembuhan) dan The Canon of Medicine, menjadi warisan bagi dunia kedokteran yang diakui oleh dunia Barat.

The Canon of Medicine (Al Qanun fi Tibb) menjadi buku kedokteran eksperimental paling penting yang pernah ditulis dalam sejarah dan menjadi kanon pengobatan dalam dunia Muslim maupun Eropa hingga abad ke-17.

Ibnu Sina masyhur sebagai tokoh filsafat peripatetik Islam. Dia dinilai piawai menggabungkan pemikiran filsafat ilmiah dengan teologi Islam. Berkat penggabungan ini, ia menghasilkan sebuah pemikiran teologi yang rasional. Namun, pemikiran Ibnu Sina di bidang filsafat Islam juga sempat memicu kontroversi dan perdebatan sengit.

4. Ibnu Rusyd (1126-1198 M)

Ibnu Rusyd memiliki nama lengkap Abu al-Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd. Di dunia barat, nama Ibnu Rusyd biasa pula disebut dengan langgam latin, yakni Averroes.

Pemikir kelahiran Cordoba, Andalusia (Spanyol) berdarah arab ini tumbuh di keluarga ahli hukum (fiqih). Ayah Ibnu Rusyd, yakni Abu Al Qasim merupakan hakim di Cordoba.

Kejeniusan Ibnu Rusyd tampak dari karya-karyanya. Di banyak karyanya, Ibnu Rusyd selalu membagi pembahasan menjadi 3 bagian, yakni komentar, kritik, dan pendapat. Dia komentator sekaligus kritikus ulung.

Ulasannya terhadap karya-karya filsuf besar, termasuk Aristoteles, cukup banyak. Dalam ulasannya itu, Ibnu Rusyd tidak hanya memberi komentar melainkan juga menyampaikan pandangan filosofis miliknya. Kualitas kritik dan komentar Ibnu Rusyd membuat karya-karyanya populer, termasuk di Eropa.

Ermest Renan (1823-1892), seorang filsuf Prancis mencatat ada 78 judul karya Ibnu Rusyd. Dari jumlah tadi, karya Ibnu Rusyd dalam bidang filsafat sebanyak 39 buku, 5 buku ilmu alam, 8 buku tentang fikih, 4 buku ilmu falak, matematika dan astronomi, 20 buku kedokteran, serta dua buku tentang nahwu dan sastra.

Namun, sebenarnya masih banyak karya-karya Ibnu Rusyd lainnya. Sebagian besar karya Ibnu Rusy tak bisa bertahan karena lenyap akibat penindasan politik yang ia alami.

Karyanya yang berjudul Kuliyat Fi At-Tib, buku tentang kedokteran, pernah menjadi pegangan bagi para mahasiswa kedokteran di Eropa. Tahafut At Tahafut juga merupakan karya Ibnu Rusyd di bidang filsafat yang paling populer. Isinya mengomentari dan mengkritik karya Al-Ghazali yang berisi kritikan terhadap filsafat (Tahafut al-Falasifah).

Karya-karya Ibnu Ruysd lainnya yang berpengaruh dan dipelajari hingga kini ialah Jauhar Al Ajram As Samawiyah (Struktur Benda-benda Langit), Ittishal Al 'Aql Al Mufarriq bi Al Insan (Komunikasi Akal yang Membedakan dengan Manusia), Maqalah fi Ar Radd 'ala Abi Ali bin Sina (Makalah Jawaban untuk Ibnu Sina), serta Syuruh Katsirah 'ala Al Farabi fi Masa'il Al Manthiqi Aristha (Beberapa Komentar terhadap Pemikiran Aristoteles),

5. Al-Ghazali (1058-1111 M)

Nama lengkap Al-Ghazali adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i. Di kalangan muslim sunni, ia amat dihormati sehingga kerap disebut Imam al-Ghazali.

Al-Ghazali dapat dikatakan sebagai ahli filsafat Islam, teolog, dan tasawuf yang memiliki pengaruh luas di dunia Islam. Karya-karya Al-Ghazali bahkan masih sering dikaji di pesantren-pesantren Indonesia.

Tidak hanya itu, Al-Ghazali adalah ulama yang sangat berpengaruh sehingga ia mendapat gelar Hujjatul Islam (bukti kebenaran Islam).

Al-Ghazali termasuk pengkritik paling keras terhadap para filsfuf era periode klasik. Terkait kritiknya itu, Al-Ghazali memiliki karya yang sangat populer, berpengaruh, sekaligus kontroversial, yakni Tahafut al-Falasifah (kerancuan para filsuf).

Di antara karya Al-Ghazali yang terkenal, yaitu Ihya’ Ulumuddiin yang membahas perkara ilmu akidah, ibadah, akhlak, dan tasawuf berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis. Hingga kini, buku itu masih kerap dikaji, termasuk di Indonesia.

6. Al-Razi (865-925 M)

Al-Razi adalah salah satu filsuf Islam yang memiliki gagasan komprehensif tentang metafisika. Konsep metafisika Al-Razi yang disebut "teori lima kekal" sering diperbandingkan dengan pemikiran Al-Farabi tentang emanasi.

Nama lengkap Al-Razi adalah Abu Bakr Muhammad ibn Zakariyya al-Rāzī. Namanya masyhur di dunia barat dengan sebutan Rhazes.

Ilmuwan filsafat Islam yang lahir di Rayy, kawasan Iran bagian selatan, tersebut juga dikenal sebagai ahli kedokteran penemu penyakit cacar. Al-Razi bahkan pernah menerima mandat dari penguasa Dinasti Abbasiyah, Khalifah Al-Muktafi yang memintanya menjadi pimpinan rumah sakit terbesar di Baghdad.

Merujuk publikasi jurnal Annals of Saudi Medicine (2007), Al-Razi menulis 224 buku yang berisi ulasan di pelbagai bidang keilmuan, terutama kedokteran, kimia, dan filsafat.

Di antara karya Al-Razi di bidang kedokteran yang paling populer adalah Al-Hawi fi al-Tibb yang dikenal di Eropa sebagai Liber Continens, Kitab Al Mansuri Fi al-Tibb, Kitab Man la Yahduruhu Al-Tabib, Kitab Būr' al-Sā'ah, dan Kitab al-Judari wa al-Hasbah (Kitab Cacar dan Campak).

Adapun karya-karya Al-Razi di bidang filsafat yang punya pengaruh besar berjudul Kitab Sirr Al-Asrar, Al Syrah al-Falsafiah, dan Kitab al-Tibb ar-Ruhani.

7. Fakhruddin Ar-Razi (1149–1210 M)

Fakhruddin Ar-Razi juga lahir di Rayy (kini wilayah Iran), tetapi beberapa abad setelah Abu Bakr al-Razi. Filsuf Islam dari abad ke-12 ini tidak termasuk ilmuwan muslim dari periode klasik. Fakhruddin Ar-Razi termasuk generasi awal ilmuwan muslim pascaklasik, demikian mengutip dari publikasi laman Stanford Encyclopedia of Philosophy.

Sebagaimana para filsuf Islam dari abad 12 M, seperti Abul Barakat al-Baghdadi dan al-Suhrawardi, Fakhruddin Ar-Razi getol mengkritik pemikiran filsafat Ibnu Sina. Selain menekuni filsafat, Fakhruddin Ar-Razi juga mendalami ilmu fisika, hukum Islam, teologi, kedokteran, matematika, astronomi, hingga tafsir Al-Quran.

Karya Fakhruddin Ar-Razi di bidang filsafat yang cukup berpengaruh adalah al-Mulakhash fil Filsafah, al-Mathalib al-'Aliyah fil Hikmah, al-Mabahits al-Masyraqiyyah, Mulakhkhaṣ al-ḥikma, serta al-Maṭalib al-ʿaliya min al-ʿilm al-ilahi. Pemikiran filsafat Fakhruddin Ar-Razi paling final dapat ditemukan dalam kitab al-Maṭalib al-ʿaliya min al-ʿilm al-ilahi.

8. Al-Suhrawardi (1154–1191 M)

Shihab al-Din Yahya ibn Habash al-Suhrawardi adalah filsuf Islam yang identik dan bahkan menjadi eponim dari tradisi pemikiran aliran filsafat Iluminasi (ishraqi). Di barat, Suhrawardi agak telat dikenal dan baru menjadi pembahasan setelah Henry Corbin menyunting dan menerbitkan terjemahan karya-karyanya pada pertengahan abad 20.

Sama halnya dengan Fakhruddin Ar-Razi, Suhrawardi memberi banyak kritik terhadap filsafat peripatetik Ibnu Sina yang masih punya pengaruh dominan pada abad 12.

Karya-karya Suhrawardi menguraikan konsep epistemologi di filsafat ishraqi (logika dan psikologi) dan metafisika (ontologi dan kosmologi). Suhrawardi membagi logika menjadi tiga bagian, menolak definisi esensialis Peripatetik Ibnu Sina, dan mengurangi jumlah bentuk silogisme.

Di antara karya Suhrawardi yang cukup berpengaruh dan populer adalah Hikmah al-Isyraqy, al-Talwihat (kedekatan), al-Muqawamat (tambahan), dan al-Masyari' wal Mutharahat (jalan dan tempat berlabuh).

Tak banyak catatan tentang riwayat hidup Suhrawardi yang lahir di Suhraward, dekat Arbarjian, Persia. Hanya saja, ia diyakini meninggal akibat penindasan penguasa sehingga mendapat julukan Suhrawardi Al-Maqtul.

Baca juga artikel terkait ILMUWAN MUSLIM atau tulisan lainnya dari Auvry Abeyasa

tirto.id - Pendidikan
Kontributor: Auvry Abeyasa
Penulis: Auvry Abeyasa
Editor: Addi M Idhom
Penyelaras: Addi M Idhom