Al-Ilmu Nuurun

Alfarabi Sang Guru Kedua

Oleh: Jay Akbar - 26 Juni 2017
Dibaca Normal 4 menit
Alfarabi dianggap sebagai filsuf Islam pertama yang secara sungguh-sungguh mengkaji filasafat Yunani klasik. Ia dijuluki terhormat: The Second Master atau Guru Kedua setelah Aristoteles.
tirto.id - Syahdan, Ibnu Sina hendak mempelajari buku Metafisika karya Aristoteles. Berulangkali ia membaca buku itu, tetapi tak kunjung mengerti. Secara tidak sengaja, Sina kemudian menemukan buku Fi Aghradh Kitab ma ba’da ath-Thabi’ah li Aristhu karya Al-Farabi. Melalui buku itu barulah Sina memahami uraian-uraian Aristoteles dalam Metafisika.

“.. Tatkala hendak mempelajari ilmu ketuhanan al-‘ilm al-ilahi, dan berusaha membaca buku Ma ba’da ath-Thabi’ah karya Aristoteles, saya tidak dapat memahaminya, bahkan saya samar terhadap maksud dari penulisan buku itu…” kata Sina dilansir dari M. Hadi Masruri dalam Ibn Thufail.

Alfarabi dianggap sebagai filsuf Islam pertama yang secara sungguh-sungguh mengkaji filasafat Yunani klasik. Kemampuannya memahami, menjabarkan, serta mengkomparasikan filsafat Yunani klasik Plato dan Aristoteles dengan filsafat Islam membentuk reputasinya sebagai salah satu filsuf kaliber dunia. Ia punya julukan terhormat: The Second Master atau Guru Kedua setelah Aristoteles.

“Karya ilmiah atau filsafat Alfarabi terutama mengenai komentar dan tafsirnya terhadap karya Plato dan Aristoteles membentuk reputasinya sebagai filsuf besar di samping Aristoteles. Alfarabi dikenal sebagai 'Guru Kedua',” tulis Muhsin Mahdi dalam pengantar buku Alfarabi Philosophy of Plato an Aristotle.

Kecemerlangan pemikiran Alfarabi membentang dalam berbagai bidang. Mulai dari bahasa, kimia, militer, astronomi, ketuhanan, ilmu alam, fiqih, musik, manthiq, dan filsafat. Dia seorang penulis yang sangat produktif. Bibliografer tradisional menyebut Alfarabi telah menghasilkan 100 karya dalam bentuk risalah, naskah, dan buku. Dia menulis setidaknya delapan belas buku tentang filsafat etika, politik, dan masyarakat.

Beberapa karyanya adalah Al-Jami’u Baina Ra’yani Al-Hkiman Afalatoni Al Hahiy wa Aristho-thails (pertemuan/penggabungan pendapat antara Plato dan Aristoteles). As Suyasatu Al Madinah (politik pemerintahan). Arro’u Ahli Al Madinati Al Fadilah (pemikiran-pemikiran utama pemerintahan), As Syiasyah (ilmu politik). Ihsha’u Al Ulum (kumpulan berbagai ilmu). Al-Madinah Al Fadhilah (Kota atau Negara Utama). Buku Alfarabi yang berjudul Ihsha’u Al Ulum merangkum berbagai teori keilmuan yang mencakup bahasa, matematika, mantik (logika), fisika politik, hukum, dan ketuhanan.

Tema-tema tersebut mungkin sudah muncul sebelumnya, tetapi yang membuat buku itu istimewa adalah kemampuan Alfarabi mengawinkan ilmu-ilmu tersebut dengan teori keislaman seperti fiqih (hukum Islam) dan ilmu kalam (aqidah) yang popular masa itu.

Ciri yang menonjol dari filsafat Alfarabi adalah penggabungan antara filsafat Aristoteles, Plato, dan Neoplatonisme dengan pemikiran Islam bermazhab Syiah Imamiyah. Aristoteles memengaruhinya dalam hal logika dan fisika. Plato memengaruhinya dalam pemikiran ahlak dan politik. Sedangkan dalam masalah metafisika ia dipengaruhi oleh Plotinus. Alfarabi percaya bahwa pada dasarnya berbagai aliran filsafat meskipun tampak berbeda tetap memiliki satu tujuan yakni kebenaran.

Infografik Al Farabi al ilmu


Pemikiran Alfarabi tentang Negara

Filsafat Alfarabi tentang negara banyak dipengaruhi oleh Plato, Aristoteles, dan Ibnu Rabi. Pada intinya Alfarabi berpendapat manusia adalah makhluk sosial yang memiliki kecenderungan bermasyarakat. Hal ini karena manusia tidak mampu memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bantuan atau kerjasama pihak lain.

Uraiannya dalam kitab Al-Madinah Al Fadhilah (Kota atau Negara Utama), menjelaskan masyarakat ibarat tubuh manusia, jika salah satu organ sakit maka bagian tubuh lain akan merasakan sakit. Oleh karena itu setiap individu di masyarakat harus mendapat bagian pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Pembagian tugas individu sangat ditentukan oleh kepala negara. Ibarat jantung dalam tubuh manusia, kepala negara menjadi sumber aktivitas, peraturan, teladan, informasi, dan petunjuk agama masyarakat.

Maka dari itu, negara yang baik bagaikan orang yang sehat karena pertumbuhan dan perkembangannya teratur di antara satu unsur dengan unsur lainnya. Sedangkan negara yang bangkrut adalah ibarat orang sakit karena kurang pertumbuhan dan perkembangan yang teratur.

Alfarabi percaya tujuan manusia bermasyarakat adalah untuk meraih kebahagiaan tertinggi. Yakni kebahagiaan yang tidak saja bersifat materiil (duniawi) tetapi juga spiritual (ukhrawi). Pendapatnya ini menyangkut tujuan hidup beragama sebagai seorang muslim di masyarakat.

Lantas siapa orang yang pantas memimpin negara? Alfarabi menyebut ada setidaknya tiga tipologi manusia yang berhak menjadi kepala negara. Mereka ialah filsuf, raja dan nabi. ketiganya dianggap Alfarabi sebagai orang pilihan.

Filsuf menurut Alfarabi ialah mereka yang tidak saja memiliki intelektualitas teori tapi praksis, rasional, dan kritis. Pandangan ini agaknya dipengaruhi oleh Plato yang menganggap masyarakat ideal adalah masyarakat yang dipimpin filsuf. Sebab filsuf mengerti makna hidup serta memahami hal-hal yang baik dan buruk. Masyarakat awam mungkin bisa membedakan baik dan buruk tetapi mereka tidak sekritis filsuf. Sehingga kepemimpinan masyarakat ataupun negara, menurut Plato, sebaiknya diserahkan kepada filsuf.

Tipologi pemimpin kedua menurut Alfarabi adalah raja yang memiliki garis keturunan penguasa dan loyalitas tentara. Raja yang menjadi kepala negara juga mesti memiliki ciri-ciri filsuf.

Ketiga, tipologi pemimpin negara menurut Alfarabi ialah nabi. Jika legitimasi kepemimpinan filsuf didapat dari kekuatan penalaran, raja dari kekuatan tentara dan garis keturunan, maka nabi meraih legitimasi kepemimpinan dari moral dan kecintaannya terhadap rakyat.

Terlepas dari tiga tipologi tersebut, Alfarabi percaya bahwa seorang pemimpin haruslah memiliki sejumlah syarat: tidak cacat fisik, memiliki daya pemahaman yang baik, memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi, orator yang pandai mengemukakan pendapat dan beretorika, mencintai pendidikan dan pendidik, tidak serakah terhadap makanan, minuman, dan wanita, mencintai kejujuran dan membenci kebohongan, berjiwa besar, tidak memandang penting kekayaan dan kesenangan dunia, mencintai keadilan dan membenci kezaliman, serta tanggap dan mudah diajak menegakkan keadilan.

Misteri Pribadi Alfarabi

Kendati memiliki pemikiran brilian dan karya yang gemilang melampaui zamannya, akan tetapi kehidupan pribadi Alfarabi cukup sulit untuk dilacak. Dibandingkan sejumlah filsuf besar Islam lainnya seperti Ibnu Sina dan Ibnu Khaldun, latar belakang keluarga, kehidupan awal, dan pendidikan Alfarabi lebih mendekati misteri.

Sukarnya melacak kehidupan pribadi Alfarabi terjadi karena ia tidak pernah menuliskan autobiografinya. Ini berbeda dengan Ibnu Sina yang mendiktekan autobiografinya kepada murid kesayangannya al Juzjani atau Ibnu Khaldun yang menulis sendiri otobiografinya.

Sumber-sumber yang menceritakan kehidupan Alfarabi akhirnya sukar divalidasi. Keabsahan, kebenaran, dan orisinalitas data tentangnya masih bersifat sementara dan sangat mungkin direvisi ketika ada data akurat yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Salah satu contoh kesimpang-siuran hidup Alfarabi adalah tentang tahun kelahirannya. Dr. Ahmad Daudy dalam Kuliah Filsafat Islam menyebut kelahiran Alfarabi adalah tahun 872 Masehi. Harun Nasution dalam Falsafat & Mistisisme dalam Islam menunjuk angka 870 Masehi. Sedangkan Osman Bakar dalam Hierarki Ilmu Membangun Rangka Pikir Islamisasi Ilmu Menurut Al-Farabi, Al-Ghazali, Quthb al-Din al-Syirazi menulis tahun kelahiran Alfarabi pada 890 Masehi.

Kontroversi itu pada akhirnya juga merembet ke asal-usul keturunan atau kebangsaan pemilik nama lengkap Abu Nashr Muhammad ibn Muhammad ibn Tharkhan ibn Auzalagh Alfarabi ini. Ada yang menyebut Alfarabi berkebangsaan Persia dan ada pula yang menyatakan ia keturunan bangsa Turki. Hal ini karena sang ayah Muhammad ibn Tharkhan adalah seorang Jenderal berkebangsaan Persia dan ibunya adalah wanita keturunan Turki.

Meski begitu, merujuk nama yang melekat pada dirinya, Alfarabi diduga lahir di Kota Farab, Provinsi Transoxiana, Turkistan. Tepatnya di desa kecil bernama Wasij. Konon ia menghabiskan masa remajanya di desa tersebut.

Sejak kecil Alfarabi digambarkan memiliki kecerdasan istimewa dan bakat besar dalam menguasai pelajaran. Ia disebut-sebut bisa berbicara dalam tujuh puluh macam bahasa dengan empat bahasa utama yakni Arab, Persia, Turki, dan Kurdi.

Kehausannya tentang ilmu membawanya ke Baghdad, Syiria, dan Mesir. Ia pernah mengajar di Aleppo. Alfarabi meninggal di Damaskus pada tahun 339 H atau 950 M. Beberapa karyanya mengenai pemikiran filsafat Aristoteles diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada zaman pertengahan.

Terlepas dari segala kontroversi hidup pribadinya, Akhmad Satori dan Sulaiman Kurdi dalam Sketsa Pemikiran Politik Islam menyebut ada setidaknya tiga alasan mengapa kontribusi Alfarabi di bidang filsafat pantas mendapat perhatian. Pertama, Alfarabi adalah filsuf politik Islam par excellence. Filsuf-filsuf Muslim yang datang setelahnya terbukti tak banyak beranjak dari apa yang telah dikembangkan oleh Alfarabi. Hal ini seperti diakui oleh para filsuf penerusnya baik dari kalangan Islam seperti Ibnu Sina, Al Razi, Al-Thusi maupun non-Islam seperti Maimonides dan Ibn Gabirol mengakui bahwa kualitas filsafat Al-Farabi khususnya di bidang politik sulit dilampaui.

Kedua, para peneliti percaya pemikiran Alfarabi cukup berhasil mengakomodasikan ajaran-ajaran Islam ke dalam filsafat klasik meski cukup kontroversial. Ketiga, pemikiran Alfarabi muncul di abad pertengahan namun seperti diungkapkan Ibrahim Madkour, seorang ahli filsafat Islam terkemuka – pemikiran Alfarabi mengandung pengertian-pengertian modern bahkan kontemporer.


Baca juga artikel terkait AL-ILMU NUURUN atau tulisan menarik lainnya Jay Akbar
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Jay Akbar
Penulis: Jay Akbar
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti