tirto.id - Tunjangan Hari Raya (THR) kerap digambarkan sebagai stimulus untuk menghidupkan denyut ekonomi nasional. Setiap tahun, jelang Hari Raya Idul Fitri, para pekerja di Indonesia menanti uang tambahan tersebut sebagai modal untuk mengungkit daya beli.
Dengan tambahan pendapatan yang cair serentak, perputaran uang diprediksi mengalir deras ke pasar, ritel, hingga UMKM. Namun, benarkah THR menjadi lokomotif penggerak konsumsi? Siapa yang menikmati tambahan likuiditas ini paling besar?
Pada Ramadan 1447 Hijriah ini, pemerintah dan pelaku usaha optimistis. Pasalnya, di program Belanja di Indonesia Aja (BINA) Lebaran 2026 pemerintah menargetkan transaksi hingga Rp53 triliun, naik 20 persen dari tahun lalu.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bahkan menyebut indeks keyakinan konsumen masih terjaga di level 127. BINA sendiri diharapkan dapat mendorong pertumbuhan konsumsi domestik selama ramadan.
“Saya monitor BINA targetnya sekarang Rp53 triliun, dan ini naik 20 persen dibandingkan tahun yang lalu,” kata Airlangga dalam konferensi pers di Senayan City, Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Meski demikian, Peneliti Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, Abdul Manap Pulungan, mengatakan bahwa fungsi THR di tahun ini lebih bersifat defensif ketimbang ofensif. Asumsi tersebut didasarkan pada tingginya inflasi tahunan di tengah prospek muram perekonomian.
Data inflasi yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2026 menunjukkan, Indeks Harga Konsumen (IHK) melonjak hingga 4,76 persen dibandingkan periode sama tahun sebelum.
Berdasarkan komponen pembentuknya, administered prices atau harga yang diatur pemerintah menjadi pendorong utama dengan kenaikan mencapai 12,66 persen secara tahunan, sementara kelompok volatile food mengalami inflasi 4,64 persen yoy.

Kombinasi inflasi pangan dan potensi kenaikan harga energi akibat gejolak geopolitik di Timur Tengah, menurut Abdul, akan membuat rumah tangga pekerja lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang THR.
Karena itu lah, gelontoran THR yang mencapai Rp205 triliun di tahun ini—Rp55 triliun untuk ASN dan TNI/Polri serta Rp150 triliun untuk pekerja di sektor swasta—diprediksi hanya akan berkontribusi minim pada perekonomian.
"Apakah THR ini berkontribusi terhadap peningkatan daya beli di tengah inflasi yang meningkat? Saya rasa tidak. THR ini bisa jadi hanya berguna agar daya beli tidak signifikan turun di kala inflasi cukup besar," kata Abdul dalam agenda Diskusi Publik "Ekonomi Lebaran di Tengah Gejolak Perang," beberapa waktu lalu.
Senada dengan INDEF, Peneliti Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS), Muhammad Anwar, menjelaskan bahwa dalam praktiknya, THR sering kali tidak sepenuhnya digunakan untuk konsumsi tambahan.
"Sebagian besar rumah tangga justru memanfaatkannya untuk menutup kebutuhan dasar yang tertunda, membayar cicilan, atau memenuhi kewajiban keluarga selama ramadan dan lebaran," ujarnya kepada Tirto, Jumat (13/3/2026).
Artinya, fungsi utama THR lebih banyak menahan agar daya beli tidak jatuh, daripada menciptakan lonjakan konsumsi baru yang besar. Apalagi, setelah Lebaran, masyarakat langsung dihadapkan pada kebutuhan musiman berikutnya: biaya masuk sekolah tahun ajaran baru. Hal ini semakin memperkuat kecenderungan untuk menahan belanja.
Terlebih, menurut Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, ketidakpastian global yang meningkat dan sulitnya lapangan kerja membuat orang jadi lebih hati-hati berbelanja.
"THR tahun ini lebih banyak di-saving. Sebagian ada yang belanja, tapi dampaknya tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya. Ada faktor perang, kekhawatiran naiknya harga BBM, cari pekerjaan sulit, pasca lebaran ada persiapan masuk tahun ajaran baru. Wajar banyak yang menabung uang THR untuk jaga-jaga," katanya kepada Tirto, Jumat (13/3/2026).
Ritel Modern Vs UMKM: Siapa Menikmati Kue Lebaran?
Meski daya beli tertahan, geliat konsumsi saat Lebaran tetap tak terelakkan. Namun pola belanja masyarakat telah bergeser secara sporadis. Jika dulu pasar tradisional dan pedagang kaki lima menjadi tujuan utama, kini ritel modern dan platform e-commerce menjadi primadona.
Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budihardjo Iduansjah, menyebut bahwa lebaran adalah event terbesar ritel di Indonesia. "Terutama ritel online. Kenaikannya bisa 20-30 persen dibandingkan bulan-bulan sebelum Lebaran," katanya kepada Tirto.
Program BINA Lebaran 2026 yang melibatkan 800 merek dan 80 ribu toko menjadi bukti bagaimana ritel modern mampu menyerap lonjakan permintaan. Dengan diskon hingga 70-80 persen, pusat perbelanjaan dan platform digital menarik minat kelas menengah perkotaan untuk berbelanja.

Lantas, mengapa ritel modern lebih diuntungkan?
Bhima Yudhistira membeberkan tiga alasan utama. Pertama, diskon di ritel modern lebih terlihat dibanding UMKM. Kedua, pembelian barang secara cicilan atau pinjaman dimungkinkan di ritel modern. Ketiga, pembelian dalam jumlah banyak karena pembagian THR cenderung terjadi di pusat perbelanjaan.
"Yang diuntungkan secara riil masih berkutat di sektor makanan minuman, pakaian jadi, alas kaki, platform e-commerce, jasa transportasi, dan dealer mobil bekas," jelas Bhima.
Namun, bukan berarti UMKM sama sekali tidak kebagian berkah. Anwar dari IDEAS menjelaskan bahwa mudik menjadi faktor kunci yang menggerakkan sektor informal dan UMKM di daerah.
“Ketika jutaan orang kembali ke daerah asal, konsumsi tidak hanya terjadi di pusat kota, tetapi menyebar ke kampung, kota kecil, hingga desa. Belanja makanan, oleh-oleh, pakaian sederhana, transportasi lokal, jasa kuliner, hingga kebutuhan acara keluarga sebagian besar dilayani oleh pedagang pasar tradisional, usaha rumahan, dan pedagang kaki lima," ungkapnya.
Dalam konteks ini, lebaran memang memiliki efek pemerataan ekonomi karena perputaran uang tidak hanya terkonsentrasi di kota besar. Namun, Anwar mengingatkan bahwa keuntungan UMKM sering bersifat sementara dan musiman, dengan margin tipis akibat keterbatasan modal, akses bahan baku, serta persaingan dengan produk ritel modern.
"Banyak pedagang kecil merasakan lonjakan penjualan, tetapi nilai tambah yang mereka nikmati tidak selalu sebesar volume transaksi yang terlihat di permukaan," imbuhnya.
Meski begitu, momentum ramadan dan Idul Fitri tahun ini disebut Abdul Manap memiliki dinamika berbeda dibanding tahun sebelumnya. Abdul menyoroti kondisi ekonomi global yang dibayangi ketidakpastian tinggi, seperti kebijakan tarif resiprokal dari AS hingga perang AS-Israel dengan Iran.
"Tantangan ketika terjadinya ramadan dan Idulfitri, terjadi peningkatan inflasi terutama bahan pangan karena stoknya yang terbatas. Tapi ini belum terselesaikan fundamentalnya. Lalu dampak perang dagang dan geopolitik kita menghitung melalui bagaimana akan mempengaruhi harga energi," papar Abdul.
Ketidakpastian global ini turut mempengaruhi nilai tukar rupiah dan berpotensi meningkatkan biaya impor. Jika harga energi dan bahan pangan impor naik, inflasi domestik akan semakin tertekan, dan pada akhirnya menggerogoti daya beli masyarakat yang sudah tipis.
Banjir di beberapa titik Jakarta dan sekitarnya menjelang lebaran juga menjadi faktor tambahan yang memaksa masyarakat mengeluarkan biaya tak terduga. Akibatnya, alokasi dana THR untuk konsumsi produktif berkurang, berganti menjadi biaya perbaikan rumah atau kebutuhan darurat lainnya.
“Kalau daya beli masyarakatnya rendah, potensi ini tidak bisa kita maksimalkan. Karena kalau kita pahami, sejak pandemi 2020, memang konsumsi masyarakat belum membaik terlihat dari pertumbuhannya yang tumbuh di bawah pertumbuhan ekonomi,” tutur Abdul.
Sementara itu, para pelaku usaha ritel modern tetap optimistis. Budihardjo memastikan stok barang tetap terjaga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode Lebaran. "Terpenting adalah konsumsi dalam negeri ini. Kita berusaha memenuhi stok. Stok yang ada dari lokal cukup terjaga," ucapnya.
Namun optimisme ritel modern tidak serta-merta mencerminkan kesehatan ekonomi secara keseluruhan. Jika THR lebih banyak ditabung dan konsumsi terpusat hanya di ritel modern dengan skema kredit, maka efek berganda (multiplier effect) bagi ekonomi kerakyatan menjadi terbatas.
Fenomena THR yang mandek di tabungan dan pola belanja yang terkonsentrasi di ritel modern menunjukkan perubahan struktur ekonomi musiman di Indonesia. Lebaran yang dulu dianggap sebagai momentum pemerataan ekonomi, kini perlahan berubah menjadi ajang akumulasi keuntungan bagi korporasi besar.
Anwar menekankan bahwa secara riil, momen lebaran menciptakan lonjakan konsumsi yang besar, tetapi manfaat ekonominya tidak terdistribusi secara merata. "Pihak yang paling diuntungkan biasanya adalah pelaku usaha yang memiliki kapasitas distribusi, modal, dan jaringan pasar yang kuat. Ritel modern, perusahaan transportasi, industri makanan dan minuman skala besar, serta platform perdagangan digital cenderung memperoleh keuntungan paling stabil," katanya.
Lantas, bagaimana dengan UMKM yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi rakyat? Mereka tetap mendapat berkah, terutama di daerah tujuan mudik, namun tantangan struktural seperti keterbatasan akses modal, bahan baku, dan teknologi masih membelenggu.
Pemerintah melalui program BINA Lebaran 2026 mengklaim telah melibatkan UMKM dalam kolaborasi dengan ritel modern. Airlangga menyebut program ini sebagai kolaborasi yang cukup bagus antara ritel modern, department store, mal, dan UMKM untuk saling menyediakan produknya.
Namun, Budihardjo Iduansjah dari Hippindo memberikan catatan realistis. Meski produk UMKM di minimarket bisa mencapai 80 persen, ia mengakui bahwa UMKM rumahan tidak bisa menggantikan perusahaan nasional skala pabrik.
"UKM hand-made, rata-rata pakai tangan, jadi kapasitas mereka segitu. Kopi, makanan UKM itu sudah tersebar dan cukup jalan, tapi ya begitu," ujarnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































