tirto.id - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat, terdapat 262.927 investor yang menempatkan dana pada delapan seri surat Berharga negara (SBN) ritel yang diterbitkan pemerintah di sepanjang 2025. Dari total investor tersebut, sekitar 102 ribu di antaranya merupakan investor yang baru mengoleksi SBN.
“Itu tentu pertama menunjukkan bahwa instrumen ini makin banyak dikenal. Di sisi lain juga dari sisi literasi keuangan masyarakat, artinya semakin masyarakat Indonesia ter-literate secara finansial, itu artinya ya mereka akan terbuka dengan instrumen-instrumen investasi yang ada,” jelas Plt. Direktur Surat Utang Negara (SUN) Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Novi Puspita Wardani, di Kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat, Senin (26/1/2026).
Dari total jumlah investor tersebut, investor muda mendominasi pembelian SBN ritel di 2025, dengan porsi generasi milenial dan generasi Z mencapai 57 persen. Kemudian, diikuti oleh kepemilikan SBN ritel oleh generasi X yang lahir di rentang tahun 1965-1979 sebanyak 26,51 persen; pembelian oleh generasi Baby Boomers yang lahir di rentang tahun 1946-1964, dengan porsi 14,38 persen; dan generasi tradisionalis (1928-1945) dengan porsi kepemilikan mencapai 1,19 persen.
Dengan dominasi kepemilikan SBN ritel oleh generasi muda ini, Novi menilai ke depan peluang obligasi negara masih bisa terus berkembang.
Sementara itu, jika dilihat dari sisi gender, sekitar 58 persen SBN ritel dimiliki oleh investor perempuan, sementara 42 persen lainnya dimiliki oleh investor laki-laki. Menurutnya, ini perkembangan yang positif karena berdasarkan data kependudukan yang dirilis Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), jumlah penduduk Indonesia 50,4 persennya merupakan laki-laki, sedangkan jumlah penduduk perempuan hanya sebanyak 49,6 persen.
“Tapi in fact, ketika kita melihat pembelian SBN Ritel 2025 itu perempuan 58 persen. Tentu kita bisa expect, ya perempuan kan yang pegang duit, terutama yang sudah menikah biasanya yang me-manage uang keluarga perempuan, salah satunya itu,” jelas Novi.
Secara psikologis, perempuan juga lebih memilih untuk menempatkan modalnya pada instrumen investasi yang lebih aman, dengan imbal hasil pasti.
“Nah, makanya kelihatan di sini, kenapa demikian? Karena instrumen SBN Ritel ini adalah instrumen yang aman dan bisa memberikan kepastian. Kenapa memberikan kepastian? Karena fixed income, kuponnya tetap. Sehingga di sini kita lihat bahwa akhirnya 58 persen adalah perempuan di sini,” tutupnya.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id




































