Menuju konten utama

Danantara Jelaskan Alasan Penempatan Dividen BUMN di SBN

Strategi ini dinilai akan menjaga ruang fleksibilitas Danantara dalam mendanai proyek-proyek strategis tanpa mengorbankan likuiditas jangka pendek.

Danantara Jelaskan Alasan Penempatan Dividen BUMN di SBN
Sejumlah karyawan keluar dari Gedung Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) di Jakarta, Jumat (7/2/2025). BPI Danantara telah dibentuk melalui pengesahan RUU tentang perubahan ketiga atas UU Nomor 19 tahun 2003 tentang BUMN menjadi UU akan mengelola dan mengoptimalkan seluruh aset dan investasi BUMN. ANTARA FOTO/Reno Esnir/app/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) berencana menempatkan sekitar 30 hingga 40 persen modalnya pada aset-aset likuid, seperti Surat Berharga Negara (SBN), sebagai strategi menjaga stabilitas keuangan dan fleksibilitas pendanaan.

Managing Director Treasury Danantara Indonesia, Ali Setiawan, menjelaskan langkah tersebut merupakan bagian dari kebijakan diversifikasi portofolio yang mengombinasikan investasi jangka panjang dengan instrumen pasar yang mudah dicairkan.

“Kalau kita menerima dana 100, tentu tidak semuanya langsung digunakan untuk proyek berisiko tinggi. Sebagian perlu disimpan di instrumen yang likuid agar bisa dimanfaatkan sewaktu-waktu,” ujar Ali dalam keterangan resminya, seperti dikutip Antara, Minggu (19/10/2025).

Ia menjelaskan, portofolio Danantara ke depan akan dibagi dalam dua kategori besar, yakni investasi langsung (private investment) dan investasi publik (public investment). Porsi investasi langsung diproyeksikan mencapai 60–70 persen, sementara sisanya dialokasikan untuk aset likuid di pasar modal, termasuk SBN.

Menurut Ali, strategi tersebut akan menjaga ruang fleksibilitas Danantara dalam mendanai proyek-proyek strategis tanpa mengorbankan likuiditas jangka pendek. Selain itu, penempatan dana pada instrumen pasar modal juga diharapkan dapat memperkuat stabilitas sistem keuangan domestik.

Ia menambahkan, karakter Danantara Indonesia berbeda dari sovereign wealth fund di negara lain karena sumber dananya berasal sepenuhnya dari dividen BUMN dan dalam denominasi rupiah.

“Pendanaan kami seluruhnya bersumber dari dividen BUMN dan dalam rupiah. Jadi sifatnya lebih domestik, tidak seperti Sovereign Fund yang berasal dari hasil minyak atau dollar,” ujar Ali.

Lebih jauh, sekitar 60 persen dari alokasi investasi langsung Danantara akan diarahkan ke proyek-proyek besar dan berdampak jangka panjang, sementara sebagian lainnya dialokasikan untuk proyek “quick win” bersama sektor swasta.

Adapun delapan sektor menjadi fokus utama Danantara, antara lain hilirisasi, energi (termasuk energi terbarukan), kesehatan, dan teknologi. Beberapa proyek kini tengah memasuki tahap studi kelayakan bersama pemerintah daerah dan mitra strategis.

Salah satu proyek yang sedang dipertimbangkan adalah pengembangan fasilitas *waste-to-energy* (WtE) sebagai solusi pengelolaan sampah perkotaan sekaligus upaya transisi menuju energi bersih.

“Proyek-proyek ini membutuhkan waktu. Misalnya pembangunan hydropower plant saja bisa empat hingga lima tahun. Karena itu, ekspektasi hasil harus realistis,” kata Ali.

Ali menegaskan bahwa kombinasi investasi langsung dan pasar modal diharapkan dapat memberikan efek berganda terhadap perekonomian nasional, terutama pada sektor energi, pangan, dan kapital nasional.

“Kami memastikan investasi yang dilakukan bukan hanya terlihat di atas kertas, tetapi benar-benar memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat,” tutupnya.

Baca juga artikel terkait DANANTARA

tirto.id - Insider
Sumber: Antara
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana