Menuju konten utama
Mozaik

Teror Mistis dan Histeria Massal Menjelang Krisis

Teror yang dibalut mistisisme bukanlah hal baru di Indonesia. Itu berkelindan dengan krisis di masyarakat, sejak dahulu, dari teror kolor ijo hingga ninja.

Teror Mistis dan Histeria Massal Menjelang Krisis
Header Mozaik Teror Mistis Menjelang Krisis. tirto.id/Tino
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kalau saja harga minyak tanah tidak naik, Petruk—tokoh Punakawan yang jadi karakter utama komik Petruk Gareng: Memedi di Siang Bolong karya Tatang Suhendra—tak mungkin masuk ke hutan guna mencari kayu bakar. Apes, dia bertemu perempuan jadi-jadian jelmaan pocong.

Salah satu ciri khas Tatang S. dalam membuat rekaan cerita Petruk dan Gareng adalah penyisipan krisis ekonomi. Karakternya digambarkan sebagai rakyat jelata nan kere dan gundah gulana sebab tersandung krisis. Kisahnya sangat dekat dengan marginalitas sebab ia lantaran lihai memotret realitas masyarakat Indonesia.

Dalam kajian antropologi, antara mistis dan ekonomi memang acap kali bersinggungan. Clifford Geertz, antropolog yang meneliti Mojokuto (Pare) pada 1952-1954, bahkan secara khusus membedakan mistik yang berkaitan langsung dengan masalah ekonomi.

“Seorang tukang kayu muda, yang lebih sistematis dalam menguraikan hal-hal itu daripada orang Jawa pada umumnya, mengisahkan kepada saya bahwa ada tiga jenis makhluk halus yang utama: memedi (secara harfiah berarti tukang menakut-nakuti), lelembut (makhluk halus), dan tuyul,” tulisnya, dalam Agama Jawa: Abangan, Santri, Priyayi dalam Kebudayaan Jawa (2014: 9).

Dari tiga jenis makhluk halus di atas, tuyul paling unik. Geertz meyakini, tuyul tidak mengganggu, menakut-nakuti, atau berbahaya, sebagaimana memedi dan lelembut, tetapi justru disenangi manusia. Itu karena tuyul membantu manusia menjadi kaya.

Dia membeberkan ada tiga orang yang ditengarai pemilik tuyul di Mojokuto. Mereka adalah seorang jagal kaya, perempuan tengkulak tekstil yang mendadak kaya sejak pendudukan Jepang, dan haji kawakan sekaligus saudagar kaya di masa sebelum perang.

Namun seiring berangsurnya waktu, kepercayaan terhadap tuyul justru bisa menjatuhkan legitimasi orang kaya di Jawa. Sejarawan Ong Hok Ham pernah menyinggungnya lewat Dari Soal Priyayi sampai Nyi Blorong (2002). Orang yang sinis terhadap kekayaan sesamanya, boleh jadi akan mengecap orang kaya punya tuyul.

Justifikasi itu berkonotasi negatif, karena orang kaya tersebut dicela berkompromi dengan setan. Lebih hinanya lagi, karena memelihara tuyul, mereka juga dicap pencuri. “Dan yang mencuri tentu tuyulnya,” kata Ong.

Kepercayaan mendulang kekayaan di jalur mistis bukan hanya lewat tuyul saja, melainkan juga Nyi Blorong dan babi ngepet. Karakter mistis tersebut dianggap menyesatkan karena menjerumuskan manusia ke pesugihan dan menjadi “budak” setan.

Ada benang merah yang dapat diurai dari kajian antropologi di atas, bahwa mistisisme ternyata berkelindan dengan tingkah laku ekonomi-politik. Menariknya, pola semacam itu kerap muncul menjelang krisis tertentu.

Kolor Ijo (Pasca-1998)

Walaupun Soeharto telah didongkel dari kursi presiden pada 21 Mei 1998, urusan ekonomi masyarakat tak ujug-ujug membaik. Krisis moneter, salah satu penyebab lengsernya Soeharto, masih menjadi momok di tahun-tahun selanjutnya.

Kasus kriminal, mulai dari perampokan, kerusuhan berbau SARA, hingga pemerkosaan, marak terjadi di tengah krisis. Namun, ketika itu menghunjam Jakarta pada 2003-2005, masyarakat justru heboh karena pelaku pemerkosaan dan perampokan disinyalir adalah hantu bernama kolor ijo.

Endi Aulia Garadian, dalam “Urban Legend Kolor Ijo: Konstruksi Ketakutan di Jakarta, 2003-2005” (2022), mendeskripsikan kolor ijo dengan gambaran, “tampang seperti babi, bulu lebat di badannya, bisa menghilang, bertubuh manusia, kuping lebar, dan paling penting hanya memakai kolor berwarna hijau ... seperti sosok ogre.”

Kasus kolor ijo pertama kali, menurut Kompas edisi Rabu, 28 Januari 2004, menimpa Onih (saat itu 60 tahun) di Kampung Cijengkol, RT 03 RW 08, Desa Cijengkol, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, pada malam 20 Oktober 2003. Setelah diselidiki dan diringkus polisi, pelakunya adalah laki-laki (betul-betul manusia), tetapi hanya bercelana dalam warna hijau.

Isunya lantas meluas. Kasus-kasus serupa dilaporkan di beberapa tempat.

Endi mengira, isu itu langgeng karena masyarakat menganggap pelakunya hantu kolor ijo. Padahal, pelakunya kriminal "jadi-jadian". Mereka bukan hanya memerkosa, melainkan juga menggasak harta benda korbannya.

Kolor ijo itu pun “bermigrasi”, dan mulai meneror wilayah selain Bekasi. Perumahan elite di Cengkareng, Jakarta Barat, seperti Ciputra Garden dan Taman Palem, sering menjadi sasaran pencurian.

Patroli satpam di siang hari menjadi sering dilakukan. Taman-taman di perumahan menjadi terbatas aksesnya hanya untuk orang perumahan. Banyak pohon bambu ditanam di depan rumah-rumah yang ada di dalam komplek perumahan. Kawat-kawat berduri mulai dipasang, menyusul pemasangan pagar tajam yang dilakukan pasca peristiwa Mei 1998.

“Alasan lain mengapa Cengkareng dipilih karena menjadi sebuah wilayah di Jakarta yang sedang transisi dari kota kecil (town) menjadi besar (city) kala itu,” tulis Endi, dalam catatan studi kasusnya di Cengkareng, Jakarta Barat, sekaligus menggambarkan betapa lebarnya ketimpangan di daerah tersebut.

Ketakutan terhadap kolor ijo lantas menjadi histeria massal, meluas sampai Jabodetabek. Dampaknya kelewat sial karena, “banyak juga kasus salah tangkap atau salah pukul orang-orang yang diduga sebagai Kolor Ijo,” tutup Endi menyimpulkan analisisnya.

Skalanya masif. Media televisi ikutan mengamplifikasi rumor kolor ijo, membuatnya seolah menjadi persoalan nasional.

Geger Dukun Santet dan Ninja (1998-1999)

Teror mistis yang menyelubungi kriminalitas juga terjadi di wilayah lain. Sejak Februari 1998, dampak krisis ekonomi-politik turut menjangkit masyarakat Banyuwangi. Sesama rakyat kala itu diadu domba dengan isu dukun santet hingga kemunculan ninja.

Aristayanu Bagus dkk., dalam Mereka Hilang Tak Kembali: Sejarah Kekerasan Orde Baru 1966-1998 (2025: 156), menyebut bahwa pembunuhan pertama tertuduh dukun santet terjadi pada 4 Februari 1998 di Banyuwangi. Korbannya adalah seorang petani bernama Adi Soemarno. Sejak itu, kematian seperti Adi berulang di beberapa kelompok warga lain di desa berbeda-beda.

Demi “meredam”, Bupati Banyuwangi saat itu, Kolonel (Pol) Turyono Purnomo, mengedarkan imbauan pada 6 Februari melalui radiogram. Isinya memerintahkan para camat dan kades mendata warganya yang diduga dukun santet. Dengan begitu, pihak kepolisian dapat “melindungi” orang-orang di daftar tersebut dari ancaman pembunuhan.

Namun, radiogram dan daftar tertuduh dukun santet bocor pada Juli. Mereka yang harusnya dilindungi justru jadi sasaran amuk massa. Lebih dari itu, wawancara Beka Ulung Hapsara dengan BBC membeberkan, daftar nama yang bocor justru menjadi bahan massa untuk menuduh calon korban yang tidak mereka sukai supaya dihabisi, dengan cap menyesatkan dan bersekutu dengan setan.

Histeria massal itu lantas menjamur sporadis, dan tuduhan macam-macam berkembang liar. “Sebagian berkeyakinan pasukan brutal ini [orang yang menghabisi dukun santet] adalah sebagai penerus PKI,” tulis Aristayanu.

Kendati geger dukun santet akhirnya meredam di Banyuwangi setelah beberapa waktu, teror masih bermunculan. Isunya bergeser ke sosok misterius yang disebut ninja. Kompas menulis, para ninja menggunakan pakaian serba hitam, bertubuh kekar, bergerak gesit, bersenjata, terlatih, bermobil, dan membawa handy-talkie. Ada dugaan ninja merupakan pasukan taktis khusus yang dimobilisasi ABRI.

Namun, dalam kasus di Polsek Karangharjo, Banyuwangi, pada 12 Oktober 1998, ninja yang dijumpai adalah seorang lelaki berusia 50 tahun, dan kerap cekikikan tanpa sebab. Indikasi proses “tukar guling” ninja dengan ODGJ di sel penjara pun mencuat.

Majalah D&R edisi 31 Oktober 1998 menyebut, ninja yang ditangkap oleh masyarakat dan diserahkan ke polisi itu berperawakan muda dengan tubuh basah lantaran hujan lebat. Sementara itu, yang ada di sel adalah lelaki paruh baya sebagaimana digambarkan di atas.

Eskalasi geger dukun santet dan ninja meluas sampai ke skala nasional, sampai berpengaruh terhadap kontestasi politik. Sebab, kini pelaku menargetkan orang-orang NU dan kalangan agamawan.

“GP Ansor Surabaya mencatat seribu lebih kiai dan guru mengaji mendapat teror. Ada yang disatroni langsung ke rumahnya atau diancam lewat telepon. Seperti telepon untuk Ustad Ali Fatchurrahman: ‘Anda dukun santet.’ Sesudah itu, telepon langsung dimatikan,” ungkap Tempo dalam laporan edisi 19 Oktober 1998.

Demi mengentaskan histeria massal itu, para lebih dari 2.000 kiai NU duduk bersila di halaman Pondok Pesantren Langitan, Tuban, pada 14 Oktober 1998. Salah satu kesepakatannya, mereka mengganti istilah gerakan antisantet, yang diyakini cuma dalih, menjadi Aksi Teror (Aliansi Kejahatan dengan Sasaran Islam dan Indonesia secara Terorganisir). Para kiai NU sampai pada kesimpulan: aksi itu dilakukan dengan sasaran memecah belah umat Islam.

Penyelidikan geger dukun santet dan ninja yang berhasil dihimpun Komnas HAM pada pada 2015 menyebut, setidaknya ada 194 orang tewas di Banyuwangi, 108 di Jember, dan 7 di Malang. Total nyawa melayang ada 309 orang. Sedangkan korban penganiayaan yang mendapat luka ringan sampai berat juga tak kalah banyak jumlahnya.

Aristayanu menduga, “Eskalasi kerusuhan di Banyuwangi dinilai strategis sebab wilayah ini merupakan basis NU yang lekat dengan sosok Gus Dur. Sedari awal, popularitas Gus Dur yang naik menjelang Reformasi dianggap menjadi gangguan untuk Orde Baru.”

Gus Dur, yang saat itu menjabat sebagai Ketua PBNU, mengafirmasi bahwa isu tersebut terkonsolidasi dan terorganisasi sistematis. Gus Dur sempat menceletuk, “Otaknya [aktor intelektual] ada di Jakarta.” Dia juga tidak ragu menyebut dalangnya adalah Kabinet Reformasi Pembangunan.

Artinya, geger dukun santet dan ninja berlangsung sejak masa Soeharto, mewaris sampai ke zaman Habibie. Bahkan, konklusi kasusnya masih menjadi tanda tanya sampai saat ini, tentang motif dan tujuan, dalang di baliknya, dan banyak lagi.

Baca juga artikel terkait KRISIS EKONOMI atau tulisan lainnya dari Abi Mu'ammar Dzikri

tirto.id - Mozaik
Penulis: Abi Mu'ammar Dzikri
Editor: Fadli Nasrudin