Pembantaian Dukun Santet, Operasi Naga Hijau & Teror kepada NU

Oleh: Irfan Teguh - 20 Februari 2018
Dibaca Normal 4 menit
Serangan kepada beberapa ulama belakangan mengingatkan peristiwa yang terjadi di akhir Orde Baru dan awal reformasi.
tirto.id - Suatu Subuh di bulan September 1998, Untung Hadi dikagetkan oleh kabar kematian bapaknya.

“Paman, kakek meninggal,” kata keponakannya.

Tanpa sempat berganti pakaian, ia langsung menuju ke rumah bapaknya yang bernama Hasim dan mendapatinya telah tergeletak bersimbah darah. Hasim adalah seorang petani dan juga bertugas sebagai takmir masjid.

Untung Hadi menjelaskan, selain membunuh ayahnya para pelaku juga merusak rumah korban. Dan ketika suasana menjadi ruwet, tiba-tiba pondok yang berada di kebun pun dibakar. Dalam suasana genting itu ia tak mendapati aparat desa seorang pun.

“Mungkin sudah direncanakan,” katanya.

Peristiwa itu terjadi di Desa Pondoknongko, Kecamatan Kabat, Banyuwangi, Jawa Timur.

Masih di kecamatan yang sama, di waktu berbeda, Abdullah menjadi saksi peristiwa pembantaian saudaranya. Di Desa Sukojati, Arifin (kakaknya) beserta istri dan anaknya dibantai sekelompok warga.

“Mereka dijemput massa. Massa itu bukan orang jauh, warga sini saja. Saya juga tahu meninggalnya. Istrinya diseret, di depan warung ini dari selatan. Kakak saya, Arifin, dituduh punya ilmu santet,” ujarnya.

Menurut keterangan Abdullah, massa yang beringas menggunakan kayu, batu, dan pisau. Setelah kepalanya dihantam batu, istri Arifin kemudian diseret.

“[kulitnya] mengelupas seperti serpihan pinang,” tambah Abdullah.

Ia ikut memandikan ketiga korban pembantaian itu. Jenazah kemudian dimakamkan setelah Asar dengan posisi berjajar.

“Kang Arifin di utara, istrinya di tengah, Misdi (anaknya) di selatan,” ujarnya.

Sementara Ainnurohim—korban penyerangan beberapa orang yang tampil dengan pakaian ala ninja, menceritakan bahwa pada suat malam ia melihat sesosok bayangan. Awalnya ia belum yakin terhadap bayangan itu, apakah manusia atau karena penglihatannya terganggu.

Namun setelah dilihat secara saksama, bayangan itu ternyata betul manusia. Ainnurohim lalu mendekatinya, dan tiba-tiba bayangan itu sudah membacoknya. Ia mencoba melawan karena kebetulan sedang membawa senjata sepulang siskamling, dan terjadilah perkelahian.

“Ndak tahu waktu itu dari sebelah kiri saya juga ada, tahu-tahu udah mbacok saya. Di sebelah lagi mbacok sebelah kanan saya. Setelah itu saya gak inget lagi,” kenang Ainurrohim

Tiga kejadian tersebut adalah contoh kecil dari ratusan kasus serupa yang terjadi di Banyuwangi dan beberapa daerah lain pada 1998. Secara nasional peristiwa ini kemudian dikenal dengan sebutan “Dukun Santet” dan “Ninja”. Resonansi pemberitaan semakin meluas dan sampai ke luar negeri.

Jason Brown yang melakukan penelitian tentang topik ini, mula-mula mendengar peristiwa ini malah dari beberapa media luar seperti The Sydney Morning Herald edisi Sabtu, 7 November 1998 dengan tajuk berita “Indonesia’s New Wave of Terror”. Ia juga membaca dua laporan BBC News Online edisi 13 dan 24 Oktober 1998, dengan judul berita “Macabre Murders Sweep Java” dan “Indonesia’s Ninja War”. Penelitian Jason kemudian terbit menjadi Perdukunan, Paranormal, dan Peristiwa Pembantaian (Teror Maut di Banyuwangi, 1998).

Santet di Banyuwangi

Menanggapi ratusan peristiwa kasus pembunuhan “Dukun Santet” oleh “Ninja”, Afton Ilman Huda (tokoh NU Jember) menyebutkan bahwa hal ini mungkin berkaitan dengan psiko-culture di masyarakat setempat. Menurutnya, di daerah Tapal Kuda memang ada pemahaman tentang santet, meski persepsinya berbeda-beda. Beliau mencontohkan santet dalam konteks percintaan.

“Ada orang seneng dengan perempuan. Bagaimana caranya perempuan itu seneng. Begitu-begitu itu biasanya upayanya ke dukun-dukun. Untuk meng-counter yang seperti itu datang ke kiai-kiai. Perilaku kiai yang semula menolong santet, ini kemudian menjadi terancam dengan isu ini,” ujar Afton.

Ihwal santet yang dekat dengan kehidupan masyarakat daerah Tapalkuda, khususnya Banyuwangi yang mayoritas warganya beretnis Osing/Using, Hasan Ali—penggiat budaya Banyuwangi, seperti dikutip Sukidin dalam disertasinya di Universitas Airlangga tahun 2005 menjelaskan bahwa santet bagi masyarakat Banyuwangi adalah realitas. Ada dan keberadaannya sangat diyakini (Pembunuhan Dukun Santet di Banyuwangi: Studi Kekerasan Kolektif dalam Perspektif Konstruktivistik, hlm. 333).

“Mayoritas mereka mempercayai dan sudah menjadi bagian yang menyatu dalam keseharian masyarakat Using. Santet telah menjadi kosa kata harian masyarakat Using. Bagaimana tidak, segala hal yang terkait dengan kehidupan sehari-hari yang dianggap penting, selalu saja kebanyakan masyarakat using akan mendatangi orang pintar hanya sekadar untuk berkonsultasi,” terangnya.

Hasan Ali menambahkan bahwa masyarakat Using akan mendatangi dukun untuk selametan pindahan rumah, dan di hampir setiap aktivitas sehari-hari seperti membangun rumah, menyongsong panen, hajaran khitan, pernikahan, dll.

Sistem sosial yang terbangun seperti itulah yang menjadi bahan bakar yang menyulut berbagai pembantaian. Masyarakat Banyuwangi menyerang sesuatu yang telah hidup dalam kesehariannya.

Siapa Dalang di Balik Layar?

Secara nasional peristiwa di Banyuwangi dan sekitarnya ini sempat mencuatkan kecurigaan kepada beberapa pihak. Tahun 2003 ketika terjadi penganiayaan terhadap KH. Ahmad Asmuni Ishaq hingga wafat di Desa Kaliboto Lor, Kecamatan Jatiroto, Lumajang, yang dilakukan komplotan ala ninja, Gus Dur mengaitkannya sebagai modus operandi yang sama dengan peristiwa di Banyuwangi tahun 1998.

“Tujuannya, menggagalkan Pemilu 2004,” kata Gus Dur.

Sementara temuan Jason Brown menjelaskan bahwa peristiwa berdarah Banyuwangi 1998 sebenarnya adalah kejadian yang berulang yang bisa disebut biasa, karena terkait dengan keadaan sosial masyarakat Using yang akrab dengan budaya dukun santet dalam keseharian.

Anggapan ini didukung catatan Saiful Rahim dalam Merah Darah Santet di Banyuwangi yang mengabarkan bahwa peristiwa pembantaian terhadap dukun santet di Banyuwangi pernah terjadi tujuh (1991) dan dua tahun sebelumnya (1996).


“Pada tahun 1996 pun terjadi aksi pembantaian terhadap dukun santet (sihir). Peristiwa yang terjadi pertengahan 1996 itu meminta korban sekitar 30-an orang yang diduga dukun santet. Karena itu, ketika pertama kali terjadi pembantaian atas beberapa orang yang diperkenalkan sebagai sukun santet tidak diambil pusing oleh orang Bannyuwangi,” tulis Saiful Rahman (hlm. 6).

Untuk mengantisipasi kejadian serupa terulang —berdasarkan laporan Jason Brown dalam Perdukunan, Paranormal, dan Peristiwa Pembantaian (Teror Maut di Banyuwangi, 1998, hlm. 51), tanggal 6 Februari 1998 Bupati Banyuwangi, Purnomo Sidik, mengeluarkan instruksi kepada seluruh Camat agar mendata paranormal, dukun pengobatan tradisional, dan tukang sihir agar memudahkan penanganan jika terjadi kasus serupa.

Namun rupanya daftar yang dibuat oleh para Kepala Desa atas instruksi Camat sebagai perintah Bupati tersebut kemudian bocor dan berubah menjadi daftar target pembunuhan.

infografik teror alam gaib


Dalam skala yang lebih besar, peristiwa Banyuwangi 1998, serupa dengan peristiwa di Tasikmalaya dan Situbondo menjelang Pemilu 1997, atau yang lebih dikenal dengan sebutan "Operasi Naga Hijau".

Zed Abidien dan Abdul Manan dalam Majalah D&R (Detektif & Romantika) edisi 970125-023, hlm. 14, Rubrik Peristiwa & Analisa, menulis bahwa Operasi Naga Hijau mula-mula menjadi berita saat KH. Hasyim Muzadi (Ketua PWNU Jatim waktu itu) menyebutkan dengan jelas informasi tersebut kepada wartawan Kantor Berita Antara.

“Kami telah menemukan lima pancingan yang disebut Operasi Naga Hijau yang berusaha mengaduk-aduk warga NU di Jatim,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa semua sasaran pancingan-pancingan tersebut adalah warga NU dengan tujuan merusak bangsa Indonesia.

Dalam tulisan bertajuk Naga Hijau: Antara Ada dan Tiada, kedua jurnalis D&R tersebut mengutip seorang sumber NU Jatim lain yang menyatakan bahwa tujuan operasi ini adalah memecah-belah warga NU agar tidak solid mendukung organisasi politik tertentu.

Motif dan Modus

Tokoh intelektual peristiwa “Dukun Santet” dan “Ninja” di Banyuwangi secara hukum belum menemui titik terang. Kejadian ini masih tertutupi selimut kabut. Namun di luar cara berpikir umum yang selalu menghadirkan imajinasi dalang di hampir setiap kejadian yang bergaung secara nasional, Sukidin menawarkan pendekatan lain.

Dalam disertasi yang dipertahankan di Universitas Airlangga, Sukidin menyebut setidaknya ada empat hal yang bisa dipakai untuk mengurai benang kusut yang terjadi di Banyuwangi, yaitu (1) motif dendam sosial, (2) motif iri hati dan fitnah, (3) modus massa terorganisir, dan (4) modus pembunuhan massa spontan. Poin-poin ini didapat setelah Sukidin menggali informasi dari sebagian besar pelaku pembunuhan. (hlm. 208)

Dalam disertasi berjudul Pembunuhan Dukun Santet di Banyuwangi: Studi Kekerasan Kolektif dalam Perspektif Konstruktivistik, Sukidin menjelaskan bahwa masyarakat Using pada banyak hal terkesan sangat hati-hati dalam menyikapi peristiwa pembunuhan pada dukun santet. Jika pernah terjadi pembunuhan secara terbuka, hal itu jarang terjadi pada masyarakat Using. Kalau ada kasus warga Using yang terbunuh secara tidak wajar, maka kasus tersebut akan dianggap sebagai akibat dari korban ilmu santet.

“Pembunuhan terhadap korban yang bermotifkan dendam yang dirasakan oleh masyarakat ini selalu terjadi pada orang yang diduga sebagai dukun santet. Terlepas apakah korban pembunuhan tersebut menemui kematian atau masih hidup, yang jelas motif ini hampir semuanya terjadi pada dukun santet,” tulisnya.

Baca juga artikel terkait PEMBANTAIAN MASSAL atau tulisan menarik lainnya Irfan Teguh
(tirto.id - Politik)

Reporter: Irfan Teguh
Penulis: Irfan Teguh
Editor: Zen RS