Menuju konten utama

Temui Purbaya, Bos BGN Lapor Pengurangan SPPG & Penerima MBG

Kepala BGN Sudaryono sebut 80 sekolah swasta elit telah dikecualikan dari daftar penerima MBG. Penajaman program dan anggaran BGN terus dilakukan.

Temui Purbaya, Bos BGN Lapor Pengurangan SPPG & Penerima MBG
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono memberikan keterangan pers terkait penutupan dapur SPPG bermasalah di Jakarta, Senin (27/7/2026). BGN telah menutup sebanyak 833 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di sejumlah wilayah di Indonesia. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/nz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menemui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Kementerian Keuangan, Jumat (28/8/2026). Pertemuan tersebut salah satunya membahas sinkronisasi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sudaryono mengatakan koordinasi dengan Kementerian Keuangan diperlukan karena BGN mengelola anggaran MBG yang menjadi salah satu alokasi terbesar di antara kementerian dan lembaga.

"Intinya kita ingin sinkronisasi semua. Saya kira ini kolaborasi," kata Sudaryono kepada wartawan seusai pertemuan, Jumat (28/8/2026).

Pembahasan anggaran BGN, jelas Sudaryono, mencakup pelaksanaan anggaran tahun berjalan 2026 serta rencana anggaran tahun depan. Dalam hal ini, salah satu agenda yang dibicarakan adalah penajaman penerima manfaat MBG yang telah dimulai sejak beberapa bulan kebelakang.

BGN sendiri telah menyisir sekolah-sekolah swasta elite yang dinilai tidak membutuhkan program tersebut. Ia menyebut, sekitar 80 sekolah swasta di berbagai daerah—seperti Jakarta International School (JIS), Sekolah Cikal hingga Taruna Nusantara—telah dikeluarkan dari penerima alokasi MBG.

"Ada pengurangan, jadi ada pengurangan, tapi bukan hanya karena ada sekolah yang tidak dapat," jelasnya.

Selain penajaman penerima, BGN juga menemukan potensi duplikasi data penerima. Sudaryono mengatakan terdapat sekitar 6 juta penerima yang datanya masih perlu disisir karena tercatat di lebih dari satu institusi pendidikan, misalnya terdaftar di pesantren sekaligus sekolah formal.

Ada pula pembahasan mengenai penyaluran anggaran untuk dapur MBG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi/SPPG) yang, berdasarkan hasil pemeriksaan BGN, belum beroperasi tetapi telah menerima alokasi dana—sekitar 414 dapur. "Uangnya sudah diambil, kita kembalikan ke negara Rp311 miliar," kata Sudaryono.

Ia menegaskan, penyisiran program dan anggaran tersebut akan terus dilakukan untuk memastikan dana MBG digunakan secara lebih tepat sasaran. Penajaman anggaran, menurutnya, jug tidak semata-mata dilakukan karena pengurangan penerima dari sekolah swasta elite, tetapi juga melalui perbaikan dan pembersihan data penerima serta evaluasi penyaluran dana ke dapur MBG.

"Insyaallah so far so good, manageable, mohon doanya," ujar Sudaryono.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana