Tak Sekadar Tradisi Tionghoa: Impor Kembang Api dari Cina

Oleh: Frendy Kurniawan - 30 Oktober 2017
Dibaca Normal 2 menit
Sejak 2012 hingga 2016, Indonesia mengimpor rata-rata petasan dan kembang api senilai 25,56 juta dolar per tahun.
tirto.id - Dalam buku Nusa Jawa Silang Budaya, Bagian Kedua: Jaringan Asia (2005), Dennys Lombard menuliskan kutipan dari Edmund Scoot, bangsawan yang memimpin loji Inggris di wilayah Banten (1603-1604). Kutipan ini tentang perayaan besar di Banten saat seorang raja muda disunat. Lombard menilai Scoot mengungkap secara apik peristiwa yang terjadi selama sebulan suntuk, sekitar Juni-Juli pada 1605.

Sebuah panggung besar didirikan, dan di atas panggung itu setiap pagi raja muda tadi ditempatkan untuk menerima penghormatan dan berbagai hadiah dari semua vasal,” catat Scoot.

Berbagai hadiah persembahan diserahkan, dari binatang buas harimau, kerbau-kerbau, dan boneka, serta beras ataupun uang kepeng Cina. Setiap utusan tampil dengan tertib, beberapa ratus orang, laki-laki dan perempuan, berjalan berurutan satu demi satu.

Hingga Scoot menuliskan, “[…] Akhirnya, kelompok kecil itu mulai berjalan, diikuti pencanang yang harus mengucapkan pujian di depan raja, seorang anak yatim Cina, "yang diambil oleh Juragan Towerson sebagai pelayan dan yang didandani dengan elok benar untuk kesempatan itu," begitu pula juru bahasa Agustin Spalden yang membawa beberapa petasan untuk disulut pada saat yang baik […]”.

Kutipan cerita ini adalah informasi soal kehadiran petasan sebagai salah satu dari barang hadiah. Lombard bahkan menyebut peristiwa di Banten itu sebagai catatan penting bagaimana petasan hadir dalam peristiwa perayaan di satu kepulauan.

Kisah soal perayaan sunat seorang raja muda di Banten awal abad 17 ini bahkan diyakini Lombard sebagai penanda penting perayaan perkotaan, yang nantinya berkembang hingga akhir abad 19 dan abad 20.

Arak-arakan atau pawai di Banten ini menjadi wajar dalam pelbagai perayaan besar sejenis seperti hari Maulid (hari lahir) Nabi Muhammad di dua kota Pesisir, yaitu upacara panjang jimat di Cirebon dan besaran di Demak; serta perayaan orang Cina yang mengiringi Tahun Baru (Cap Go Meh), hari ke-15 dari masa perayaan Tahun Baru Imlek bagi komunitas Tionghoa di seluruh dunia.

Sekalipun petasan dan kembang api sudah menyatu dalam tradisi dalam berbagai kebudayaan di wilayah yang kemudian disebut Indonesia, bahan peledak berkekuatan lemah ini bukan berasal dari wilayah kita.

Dalam The Genius of China: 3000 years of Science, Discovery and Invention (2007), petasan atau kembang api adalah bagian dari tradisi budaya orang Cina sejak Dinasti Tang. Bahkan pada masa itu pembuatan petasan dan sejenisnya telah berkembang menjadi pekerjaan mandiri. Orang-orang percaya pada mitos bahwa petasan mampu mengusir iblis, bahkan bisa membawa keberuntungan dan kebahagiaan.

Sekalipun petasan dan kembang api digunakan dalam perayaan dan momen tradisi, adonan antara asam nitrat, belerang, dan arang kayu ini berpotensi mematikan bila tidak ditangani secara hati-hati. Bila tidak, pengguna petasan dan kembang api bisa jadi korban.

Dan menariknya, rasa cemas atau khawatir soal bahaya petasan atau kembang api bukanlah baru-baru ini saja.

Cerita dari Edmund Scoot menggambarkan soal pandangan senada. Dalam satu keterangan, raja muda Banten senang sekali dengan hadiah petasan. Tapi para pengikutnya mengkhawatirkan kalau-kalau bisa bikin kebakaran. Beberapa petasan yang tersisa sebagai hadiah itu segera disulut dalam sebuah bungker bata.

Komoditas Jutaan Dolar

Meski mengkhawatirkan, petasan dan kembang api adalah komoditas bernilai jutaan dolar. Data dari UN Comtrade menunjukkan, nilai impor barang berkategori HS 360410 ke Indonesia ini jauh lebih besar dari nilai ekspor.

Sejak 2012 hingga 2016, Indonesia mengimpor rata-rata petasan senilai 25,56 juta dolar per tahun. Impor tertinggi pada 2013 senilai 32,48 juta dolar, tetapi menurun hingga 19,57 juta dolar pada 2016.

Infografik Periksa Data Petasan


Di sisi lain, nilai ekspor petasan dan kembang sejak 2012 hingga 2016 tak pernah menyentuh 1 juta dolar. Pada 2012, nilai ekspornya hanya 104,31 ribu dolar dan menurun menjadi 2,63 ribu dolar pada 2016. Bahkan, pada 2014, nilai ekspor kembang api dan produk pyrotechnic dari Indonesia adalah 0 dolar.

Sangat timpang perbedaan antara nilai impor dan ekspor ini menggambarkan permintaan pasar Indonesia yang tinggi atas kembang api dan produk sejenis seperti petasan, indikasi bahwa barang ini memang laku di pasaran.

Cina tercatat importir utama komoditas kembang api dan petasan ke Indonesia. Pada 2015, seluruh impor kembang api dan produk pyrotechnic berasal dari Cina dengan nilai 21,43 juta dolar. Pada 2016, Indonesia juga mengimpor produk ini dari Hong Kong senilai 116.445 AS dolar.

Infografik Periksa Data Petasan

Bahan Peledak Petasan Diimpor dari Korsel & Australia

Untuk bahan utama pembuat petasan, yaitu bubuk peledak, Indonesia mengimpor dari Korea Selatan dan Australia. Terekam dalam UN Comtrade, nilai impor Indonesia untuk barang berkode HS 3601 ini pada 2015 senilai 5,28 juta dolar dengan 49,4 persennya, atau setara 2,61 juta dolar, diimpor dari Korea Selatan.

Pada 2016, nilai impor Indonesia untuk bubuk peledak meningkat 29,34 persen ketimbang tahun sebelumnya, menjadi 6,83 juta dolar. Korea Selatan tetap jadi importir utama sebesar 5,32 juta dolar. Sementara Australia menjadi importir bubuk peledak senilai 1,43 juta dolar.

Infografik Periksa Data Petasan


Melihat data-data ini, petasan dan kembang api serta barang sejenis tetap jadi komoditas ekonomi besar. Pasar impor yang lapar bahan peledak hiburan ini sangat mungkin seirama dengan citrawi petasan dan kembang api sebagai penyemarak pada setiap perayaan, dalam pesta peresemian gedung maupun tahun baru.

Indonesia, dengan demikian, bukan saja menyerap tradisi Cina. Bahan-bahan baku peledak untuk kembang api dan petasan pun sangat tergantung pada negara-negara mancanegara itu.

Sebagai gambaran, Indra Liono, pemilik pabrik kembang api di Kosambi, Tangerang, yang meledak itu, juga memiliki perusahaan importir kembang api. Dan menurut pengakuan Andri Hartanto, kolega kerjanya, perusahaan bernama PT Panca Global Kharisma ini mengimpor kembang api dari Cina.

Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan menarik lainnya Frendy Kurniawan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Frendy Kurniawan
Penulis: Frendy Kurniawan
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight