Apa Kata Pakar Ledak dan Forensik soal Ledakan Pabrik Kembang Api

Oleh: Aqwam Fiazmi Hanifan - 31 Oktober 2017
Dibaca Normal 3 menit
Mengapa ledakan di pabrik kembang api pekan lalu tidak menimbulkan efek serupa bom—padahal menyimpan ± 1.440 barium nitrat dan bahan baku bubuk ledak lain?
tirto.id - "Khusus produksi kembang api kawat, bukan mercon atau petasan," ujar Andri Hartanto, manajer operasional PT Panca Buana Cahaya Sukses, mengklarifikasi pemberitaan sebelumnya bahwa pabrik itu memproduksi petasan.

Peristiwa ledakan besar pada Kamis pagi pekan lalu itu telah memerangkap sedikitnya 103 buruh di dalam pabrik. Sedikitnya 48 orang tewas serta 46 orang lain luka-luka.

Secara hukum petasan memang dilarang di Indonesia. Landasannya adalah Undang-Undang Bunga Api tahun 1932 dan Perkap Polisi No. 2 tahun 2008 tentang pengawasan, pengendalian, dan pengamanan bahan peledak komersial.

Kembang api kawat memang tak masuk kategori barang ilegal ini. Meski begitu, bukan berati bahan baku kembang api kawat tidaklah berbahaya.

Bahan Baku Kembang Api Kawat

Jika diurai, ada tiga komponen utama kembang api kawat: bahan bakar bubuk logam, oksidator, dan pengikat reaksi (binder).

Bahan bakar bubuk logam yang biasa dipakai adalah serbuk besi, sulfur, tembaga, aluminium, magnesium, barium, stronsium, atau titanium. Pemilihan bahan tergantung warna yang diinginkan saat bunga api terbakar: apakah putih, kuning keemasan, merah, hijau, atau biru, dan sebagainya.

Proses oksidasi berperan penting. Oksidator yang sering dipakai adalah kalium klorat, kalium nitrat, atau kalium perklorat. Hampir 50-60 persen dari setiap satu batang kembang api kawat adalah oksidator.

Saat dipanaskan, senyawa pengoksidasi ini membusuk alias dekomposisi. Proses ini memicu reaksi terbakarnya bubuk logam, menimbulkan efek cipratan bunga api akibat bereaksi dengan oksigen.

Baca juga:

Efek Ledakan

Sebagai pabrik kembang api kawat, PT Panca Buana Cahaya Sukses sangat mungkin memiliki bahan baku kalium klorat atau kalium nitrat, senyawa bahan peledak berkekuatan rendah.

“Walaupun masuk kategori low power, bahan ini resisten terhadap panas, baik matahari atau api,” kata Ali Fauzi, mantan terpidana kasus terorisme yang dipandang ahli bom kelompok Jamaah Islamiyah.

“Sekalipun low power, tapi dengan jumlahnya yang banyak, bisa mengakibatkan ledakan besar,” katanya. lagi.

Kalium klorat identik dipakai sebagai bahan baku bom oleh kelompok Taliban sejak perang melawan Uni Soviet dekade 1980-an. Di Indonesia, bahan baku pentul korek api ini lazim dipakai kelompok teroris.

“Saya sempa wawancara Mas Ali Imron dan Ali Gufron (pelaku Bom Bali 2002 yang telah dieksekusi pada 2008). Hampir 1,25 ton kalium klorat dicampur dengan bahan baku lain saat Bom Bali I,” katanya.

Sepanjang aksi teror kelompok Jamaah Islamiyah dekade 2000-2010, senyawa ini ditemukan pada tiap aksi teror. Misal, 300 kilogram pada Bom Marriot 2003 atau 400 kilogram saat Bom Kedubes Australia 2004.

Reaksi peledak berdaya rendah hanya lewat proses pembakaran. Ini berbeda dari peledak berdaya tinggi seperti trinitrotoluena (TNT) yang menyulut reaksi menghancurkan struktur molekul kimianya. Itulah sebabnya efek gelombang ledakan (blast wave) kalium nitrat tak sebesar seperti senyawa kimia nitrogliserin, TNT, nitroselulosa, atau RDX.

“Kenapa sering dipakai kelompok teror? Karena begitu meledak, ia membakar, beda dengan TNT yang memberikan tekanan lebih besar,” kata Ali.

Saat bom meledak, area di sekitar ledakan menjadi overpressurized. Artinya, ledakan menghasilkan partikel udara yang sangat terkompresi dan bergerak lebih cepat ketimbang kecepatan suara. Istilah ini disebut blast wave atau gelombang ledakan.

Blast wave akan menghilang seiring waktu dan jarak serta hanya muncul dalam hitungan milidetik, menimbulkan kerusakan luar biasa. Dan ketika blast wave mengenai struktur atau orang, ia memicu hempasan.

Bom juga menghasilkan ledakan angin. Udara seketika bergerak cepat dan mendadak kosong. Sebentar kemudian udara terisi kembali. Ia mendorong benda-benda terfragmentasi; kaca dan puing-puing ditarik kembali ke arah sumber ledakan.

Dalam kasus ledakan pabrik kembang api di Kosambi, pekan lalu, Profesor Irwandy Arif, ahli peledak dari Institut Teknologi Bandung, menyebut bahwa ledakan ini tidak terhitung dalam kategori high explosive.

“Saya pikir ledakannya itu tidak terlalu kuat. Penyebabnya, tumbukan api dengan bahan baku, kemudian terbakar. Tidak meledak seperti bom,” katanya.

Jika memang ada high explosive, konstruksi tiang-tiang pancang penyangga atap di dalam pabrik sudah ambruk seluruhnya akibat tak kuasa menahan gelombang ledakan dan gelombang kejut. Begitu juga bakal menghancurkan beton pembatas pabrik dan gerbang utama. Selain itu, bakal tampak kawah akibat bekas ledakan.

Berdasarkan pengakuan narasumber di sekitar lokasi pabrik, mereka hanya mendengar suara ledakan besar—bahana yang menggelegar dengan sedikit getaran.

Baca juga:

Infografik HL Kembang Api Kawat

Efek Korban

Selain gelombang ledakan dan angin, ketika bom meledak muncul juga gelombang kejut alias shockwaves.

Gelombang kejut berkecepatan tinggi atau gelombang stres akan terus beruntun dan menggetarkan organ dalam serta jaringan tubuh manusia, acapkali merusak neurologis organ dalam seperti otak, paru, dan jantung. Saat ini tak ada cara efektif untuk mencegah gelombang kejut ini selain mengenakan pakaian pelindung sebagaimana lazim dipakai tim penjinak bom.

Lantaran menghantam organ dalam, kerusakan akibat gelombang kejut supersonik ini sulit didiagnosis mengingat korban mungkin sekali tidak kelihatan terluka. Itulah kenapa, meski sama-sama terbakar, ada perbedaan kondisi mayat korban ledakan bom dan kebakaran biasa.

Misalnya pada Bom Bali I. Ledakan besar di depan Paddy's Cafe di Jalan Legian ini membikin kebakaran hebat di sekeliling lokasi. Alhasil, banyak korban terpanggang.

“Kalau bom itu akan meremukkan tulang kita. Saat udara itu lewat, tubuh seperti mengembang akibat ada ruang hampa udara. Lalu setelah hilang, akan kembali ke semula. Itu yang membuat tubuh seperti diperas,” kata ahli forensik dari Universitas Gadjah Mada, dr. Dewanto Yusuf Priambodo.

Jika ledakan berkekuatan besar dan si korban dekat di pusat lokasi ledakan bom, efek kerusakan organ dalam ini bisa terasa jelas. Kehancuran otak membuat kepala seperti balon yang kekurangan angin atau daging tanpa tulang. Tapi, dalam beberapa kasus, kerusakan macam ini tak bisa terdeteksi.

“Harus diotopsi organ dalamnya seperti jantung, paru-paru, dan otaknya,” kata Dewanto.

Dalam kasus ledakan kembang api di Kosambi, Dewanto tidak melihat ada dampak seperti efek bom terhadap para korban. Meski gosong akibat terbakar, mayoritas organ tubuh para korban terlihat masih utuh, tidak terburai seperti korban bom.

“Untuk detailnya, harus disinkronkan dengan data polisi yang mengolah TKP,” katanya.

Dari video evakuasi korban, terlihat banyak buruh pabrik berlarian dengan kondisi pakaian terbakar. Ini mengindikasikan: ledakan menimbulkan gelombang api dan suhu tinggi—yang mencapai 1.000-1.600˚C.

Dewanto menilai, penyebab banyak kematian bukanlah ledakan. Namun karena asap tebal—ekses terbakarnya bahan baku kembang api.

Apalagi partikel logam dalam asap yang dipancarkan oleh kembang api berbeda dari asap lain. Riset penelitian toksikologi dari Institute of Environmental Assessment and Water Research (IDAEA-CSIC) menyebut bahwa partikel logam asap dari bahan baku kembang api bersifat bioaktif, dan mempercepat sesak napas.

“Kematian kebakaran istilahnya A-B-C: air, breathing, circulation. Kalau air (udara) kena, maka saat breathing (bernafas) akan susah. Saat abu masuk kerongkongan, tenggorokan jadi menyempit, lalu menutup pernafasan,” ucap Dewanto.

Baca juga artikel terkait LEDAKAN GUDANG PETASAN atau tulisan menarik lainnya Aqwam Fiazmi Hanifan
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Aqwam Fiazmi Hanifan
Penulis: Aqwam Fiazmi Hanifan
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight