Menuju konten utama

Tak Didukung Parpol, Nadiem Sempat Ragu saat Ditawari Mendikbud

Nadiem Makarim dalam sidang korupsi Chromebook mengaku awalnya ragu jadi menteri, namun yakin setelah lihat visi Jokowi soal pendidikan dan teknologi.

Tak Didukung Parpol, Nadiem Sempat Ragu saat Ditawari Mendikbud
Terdakwa kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook dalam program digitalisasi pendidikan di Kemendikbudristek, Nadiem Anwar Makarim memberikan keterangan kepada wartawan sebelum menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa (9/6/2026). Sidang tersebut beragendakan pembacaan replik atau tanggapan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap pledoi atau nota pembelaan Nadiem Anwar Makarim. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Terdakwa kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Google Chromebook dan Chrome Device Management (CDM), Nadiem Makarim mengaku mulai mempertimbangkan tawaran menjadi Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi setelah melihat ketulusan Presiden ke-7 Joko Widodo dalam membicarakan masa depan teknologi dan pendidikan Indonesia.

Hal itu disampaikan Nadiem saat menyampaikan duplik pribadinya dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Selasa (23/6/2026).

Mulanya, Nadiem menjelaskan bahwa pada 2019 dirinya tidak pernah membayangkan akan bergabung ke dalam pemerintahan. Kata dia, saat itu dirinya masih memimpin Gojek yang tengah berkembang.

“Pada masa itu, sama sekali tidak terlintas dalam pikiran saya bahwa saya akan bergabung dalam pemerintahan,” kata Nadiem.

Nadiem mengaku sempat merasa ragu ketika mengetahui namanya masuk dalam bursa menteri di kabinet. Sebab, dia merasa usianya yang saat itu 35 tahun terlalu muda untuk memimpin sebuah kementerian.

“Bapak Presiden mempertimbangkan saya bukan untuk Kementerian Komunikasi atau Informatika, bukan pula untuk sektor investasi atau bidang-bidang lain yang mungkin terasa lebih dekat dengan latar belakang saya, tapi untuk sektor pendidikan,” jelas Nadiem.

Keraguan itu juga berasal dari berbagai masukan dari keluarga dan koleganya. Nadiem mengatakan hampir semua orang terdekatnya menyarankan agar dia tidak menerima jabatan tersebut karena tingginya risiko politik.

“Dan bahwa tanpa dukungan partai politik, posisi seorang menteri akan rentan dari berbagai arah,” kata Nadiem.

Meski demikian, dia akhirnya mulai mempersiapkan diri setelah melihat kesungguhan Jokowi dalam membicarakan transformasi pendidikan dan teknologi.

“Namun melihat ketulusan Bapak Joko Widodo dalam membicarakan peran teknologi baik masa depan Indonesia, saya merasa yakin bahwa visi beliau tidak akan bergeser,” katanya.

“Atas dasar itulah saya mulai melakukan persiapan dan mempelajari sektor pendidikan secara lebih mendalam,” tutur Nadiem

Dia juga menuturkan, keputusan menerima jabatan menteri juga didorong oleh keyakinannya bahwa sistem pendidikan Indonesia membutuhkan perubahan besar agar mampu menghadapi perkembangan teknologi yang semakin cepat.

Baca juga artikel terkait NADIEM MAKARIM atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - Flash News
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Hendra Friana