tirto.id - Presiden Prabowo Subianto menargetkan penyelenggaraan bursa mineral dan komoditas pada 1 Januari 2027. Untuk memuluskan rencana tersebut, dia telah meminta dukungan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.
Dengan dukungan tersebut, dia akan menerbitkan aturan mengenai bursa komoditas dan mineral dalam waktu singkat.
“Rencana kita dengan dukungan DPR, kita rencanakan 1 Januari 2027 kita akan memiliki bursa komoditas sendiri. Kita targetkan penyelenggaraan bursa mineral dan komoditas strategis segera dibahas oleh DPR RI dan mohon diterbitkan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya,” ujar dia dalam Pidato Nota Keuangan, di Komplek Parlemen, Jakarta Pusat, Jumat (14/8/2025).
Selain DPR, pemerintah juga sudah membahas rencana pembentukan bursa komoditas dan mineral ini dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang nantinya akan berperan sebagai pengawas lembaga tersebut.
“Kita akan segera opersionalkan bursa mineral dan komoditas strategis di bawah pengawasan otoritas jasa keuangan dan cara kita, apabila OJK bekerja dengan baik, dan saya yakin OJK bekerja dengan baik,” tambahnya.
Prabowo mengatakan, selama puluhan tahun menjadi salah satu produsen besar berbagai komoditas strategis dunia, mulai dari kelapa sawit, nikel, batu bara, emas, kopi hingga karet. Namun, penentuan harga komoditas tersebut justru banyak dilakukan di negara lain.
Menurut dia, kondisi tersebut tidak masuk akal karena negara yang tidak memiliki komoditas justru ikut menentukan harga komoditas yang dihasilkan Indonesia.
“Terlalu sering harga kekayaan kita yang keluar dari bumi dan keringat rakyat Indonesia justru harganya ditentukan di luar negeri, di negara lain, di bursa komoditas negara lain. Mereka yang tidak punya komoditas, ini masa mereka menentukan harga komoditas itu? Ini tidak masuk akal” ujarnya.
Prabowo menilai Indonesia harus berani mengubah kondisi tersebut. Prabowo bahkan menegaskan Indonesia tidak perlu memaksakan penjualan komoditas apabila pembeli tidak bersedia menerima harga yang ditetapkan melalui mekanisme bursa Indonesia.
“Kalau mereka tidak mau bayar harga yang kita pasang, nggak usah beli,” tegasnya.
Menurut Prabowo, komoditas seperti nikel, timah, dan emas masih dapat disimpan di dalam negeri untuk kepentingan generasi mendatang apabila harga yang ditawarkan tidak sesuai.
“Lebih baik komoditas itu, nikel itu, timah itu, emas itu semuanya ada di tanah untuk anak cucu kita,” kata dia.
Hal serupa, lanjut Prabowo, berlaku untuk batu bara, gas, dan minyak. Dia mengatakan Indonesia tidak perlu terburu-buru menjual sumber daya alam jika harga yang terbentuk tidak menguntungkan.
“Batu bara kita, gas kita, minyak kita biar di tanah. Kopi kita biar kita minum sendiri,” ujarnya.
Meski demikian, Prabowo menekankan bahwa pemerintah tetap memahami mekanisme pasar. Menurutnya, penetapan harga juga harus mempertimbangkan kewajaran agar tidak terlalu tinggi.
“Tentunya kita juga mengerti mekanisme pasar. Kalau harga terlalu tinggi itu juga tidak masuk akal. Tapi yang penting bursanya ada di bumi Republik Indonesia,” tegasnya.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































