Menuju konten utama

Survei IPI: Sjafrie hingga Purbaya Masuk Bursa Bakal Capres 2029

Rendahnya elektabilitas sejumlah tokoh populer menegaskan popularitas semata tidak cukup, di tengah pemilih yang semakin rasional dan kontekstual.

Survei IPI: Sjafrie hingga Purbaya Masuk Bursa Bakal Capres 2029
Peneliti IPI Abdan Sakura dalam konferensi pers rilis hasil survei bertajuk "Peta Elektabilitas Calon Presiden 2029", di Jakarta, Senin (9/2/2026). ANTARA/HO-Indonesian Public Institute
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Hasil survei terbaru lembaga Indonesian Public Institute (IPI) menunjukkan sejumlah wajah baru masuk dalam bursa bakal calon presiden 2029. Nama-nama yang masuk antara lain Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin; Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa; dan sejumlah gubernur.

Peneliti IPI, Abdan Sakura, mengungkapkan munculnya para wajah baru tersebut tidak terlepas dari sejumlah faktor mempengaruhi elektabilitas mereka. Antara lain kepemimpinan, ketokohan, rekam jejak, publikasi media, integritas, visi-misi, dan program kerja.

Abdan mencontohkan empat indikator yang memperkuat elektabilitas Sjafrie berupa kepemimpinan dan ketokohannya pada angka 44 persen. Selain itu, rekam jejak kepemimpinan 17 persen, rekomendasi lingkungan dan media 12 persen, serta integritas 10 persen.

"Tokoh-tokoh seperti Pramono Anung, Dedi Mulyadi, dan Syafrie tampil sebagai figur potensial yang memperoleh penilaian kelayakan cukup kuat, meski belum sepenuhnya terkonversi menjadi dukungan elektoral," ujar Abdan dalam keterangan persnya, Selasa (10/2/2026) dikutip dari Antara.

Celah itu, kata dia, yang membuka ruang bagi dinamika politik baru, terutama jika terjadi krisis, perubahan peta koalisi, atau absennya "pemain utama".

Sementara itu, dirinya menyebutkan rendahnya elektabilitas sejumlah tokoh populer menegaskan popularitas semata tidak lagi cukup di tengah pemilih yang semakin rasional dan kontekstual.

Dia membeberkan para gubernur yang masuk dalam bursa bakal capres 2029 dalam hasil survei, seperti Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung; Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda; serta Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

"Wajah-wajah baru tersebut masuk dalam 10 besar tokoh untuk menjadi bakal capres 2029. Sjafrie berada di urutan ke-7 dengan tingkat elektabilitas di angka 7,5 persen, disusul Purbaya 4,9 persen dan Sherly Tjoanda 3,8 persen," ucap dia.

Dia menuturkan elektabilitas Sjafrie bersaing ketat dengan sejumlah tokoh kepala daerah, seperti mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, yang berada di urutan ke-4 dengan elektabilitas 8,5 persen. Disusul oleh Dedi Mulyadi di urutan ke-5 dengan elektabilitas 7,9 persen, serta Pramono Anung di urutan ke-6 dengan elektabilitas 7,8 persen.

Lebih lanjut, Abdan mengatakan di puncak elektabilitas dikuasai Presiden Prabowo Subianto dengan angka 22,3 persen, yang jauh melampaui tokoh lainnya. Elektabilitas Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka, berada di urutan kedua dengan angka elektabilitas 12,2 persen dan mantan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, di angka 9 persen.

Dengan demikian, menurut dia, berbagai nama besar masih mendominasi persepsi publik, baik dalam penilaian kelayakan maupun elektabilitas, yang menunjukkan kuatnya pengaruh kekuasaan, kontinuitas elite, dan eksposur media dalam imajinasi pemilih.

"Namun, jarak antara tingkat kelayakan yang tinggi dan elektabilitas yang relatif moderat mengindikasikan satu hal penting, publik mengenal dan menilai, tetapi belum sepenuhnya menjatuhkan pilihan," ucap Abdan.

Survei Indonesian Public Institute digelar 30 Januari 2026 hingga 5 Februari 2026 terhadap 1.241 responden yang merupakan masyarakat berusia 17-65 tahun dan berasal dari 35 provinsi di Indonesia.

Teknik sampel yang digunakan pada riset ini adalah sampel acak bertingkat atau multistage random sampling. Metode tersebut merupakan teknik di mana pemilihan sampel dilakukan dalam beberapa tahap dari unit besar ke unit yang lebih kecil, dan setiap tahap dilakukan secara acak.

Berdasarkan teknik itu, sampel berasal dari 35 provinsi di Indonesia yang terdistribusi secara proporsional. Sementara tingkat kesalahan alias margin of error dari ukuran sampel tersebut sebesar 2,78 persen pada tingkat kepercayaan ± 95 persen.

Baca juga artikel terkait BURSA CALON PRESIDEN

tirto.id - Flash News
Sumber: Antara
Editor: Siti Fatimah