tirto.id - Human Right Manager Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia, Luthfian Haekal, menyebutkan 66 persen pengurus Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) mengaku belum pernah menerima pelatihan dari pemerintah. Kesimpulan ini didapat dari survei yang dilakukan DFW pada Oktober-November 2025.
"Sebagian besar pengurus [Koperasi Desa], sekitar 66 persen yang menjadi responden belum pernah mendapatkan pelatihan dari pemerintah sama sekali," ucapnya saat konferensi pers via virtual, Selasa (6/1/2026).
Haekal menyatakan, sebanyak 62,8 persen di antara 34 persen responden yang telah menerima pelatihan belum pernah menerima pelatihan teknis terkait manajemen kooperasi, keuangan, dan lainnya.
Ia menilai, hal itu menandakan dukungan peningkatan kapasitas dari Pemerintah Pusat yang masih terbatas dan belum merata. Sebab, pendirian Koperasi Desa disebut masih sangat sporadis.
Sementara itu, masih berdasar catatan DFW, sebanyak 30,9 responden Koperasi Desa Merah Putih tidak memiliki anggaran dasar/anggaran rumah tangga (AD/ART). Lalu, sebanyak 42,3 persen menganggap AD/ART hanya sebagai pelengkap.
Di satu sisi, Haekal berujar, sebanyak 92 persen responden telah mengantongi rencana bisnis. Akan tetapi, sebanyak 56 persen responden tidak memiliki mitra pemasaran.
"Mayoritas responden menyatakan pertimbangan utama dalam memilih jenis Kooperasi Desa adalah potensi sumber daya alam, tetapi terdapat dua responden yang menyatakan hanya sebagai penggugur secara administratif saja," tuturnya.
DFW, kata Haekal, merekomendasikan Pemerintah Pusat agar mengembangkan sumber daya manusia Koperasi Desa. Pemerintah Pusat diminta juga berorientasi kepada substansi Koperasi Desa.
"Memang ada beberapa pelatihan-pelatihan yang harus dipetakan, jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Tapi jangan hanya berhenti pada jangka pendek administratif saja, tapi juga harus jangka panjangnya," urai Haekal.
"Bagaimana kemudian membentuk ekosistem ekonominya, bagaimana kemudian membentuk pasarnya dan infrastruktur pendukung lainnya," lanjutnya.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































