Menuju konten utama

Sri Mulyani Sebut Tarif Impor 0% untuk AS Bisa Bikin BBM Murah

Meski berpotensi menguntungkan, pemerintah akan tetap mencermati risiko rambatan yang mungkin ditimbulkan dari kebijakan tarif perdagangan ini.

Sri Mulyani Sebut Tarif Impor 0% untuk AS Bisa Bikin BBM Murah
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (tengah) bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy (kanan) dan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo (kiri) bersiap mengikuti rapat kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (22/7/2025). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/foc.

tirto.id - Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani, menilai tarif impor 0 persen terhadap produk-produk Amerika Serikat (AS) akan mendorong harga produk minyak dan gas (migas)—termasuk BBM dan LPG—serta pangan Indonesia menjadi lebih rendah.

Di sisi lain, tarif resiprokal yang ditetapkan Gedung Putih sebesar 19 persen untuk Indonesia diperkirakan dapat mendorong kinerja sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki dan furnitur.

“Keberhasilan dari negosiasi tarif resiprokal untuk Indonesia menjadi 19 persen diperkirakan dapat mendorong kinerja sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki dan furniture. Di sisi lain impor dengan tarif 0 persen atas produk AS diperkirakan mendorong harga produk migas dan pangan Indonesia menjadi lebih rendah,” paparnya, dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), di Kantor Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Jakarta Selatan, Senin (28/7/2025).

Meski begitu, pemerintah akan tetap mencermati risiko rambatan yang mungkin ditimbulkan dari kebijakan tarif perdagangan ini. Apalagi, sektor manufaktur terus mengalami kontraksi, dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Juni 2025 hanya sebesar 46,9, turun dari posisi Mei 2025 yang masih berada di level 47,4.

“Dalam hal ini, kinerja sektor manufaktur yang masih menunjukkan kontraksi PMI manufaktur yaitu 46,9 posisi Juni 2025 perlu untuk terus menjadi perhatian,” aku Ani, sapaan Sri Mulyani.

Karenanya, untuk mendorong kinerja industri manufaktur, peranan sektor swasta sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi domestik akan terus didorong melalui kebijakan dan percepatan deregulasi. Pada saat yang sama, pemerintah juga akan mendorong agar peran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) agar semakin optimal.

“Berbagai perkembangan dan kondisi strategi kebijakan akan terus ditingkatkan untuk mendorong multiplayer efek yang lebih besar, sehingga ekonomi Indonesia tahun 2025 diproyeksikan masih akan tumbuh di sekitar 5 persen,” tegas Ani.

Baca juga artikel terkait TARIF TRUMP atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana