Menuju konten utama

Situasi Iran Terkini & Jumlah Korban Serangan AS-Israel

Simak situasi Iran terkini karena serangan Amerika Serikat (AS)-Israel. Ratusan orang tewas akibat perang AS-Israel vs Iran ini.

Situasi Iran Terkini & Jumlah Korban Serangan AS-Israel
Tiga warga membentangkan poster saat mengikuti aksi solidaritas untuk Iran di depan Kedutaan Besar Iran, Jakarta, Minggu (1/3/2026). Aksi tersebut sebagai bentuk solidaritas untuk rakyat Iran dan bela sungkawa atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dalam serangan yang dilakukan Amerika Serikat-Israel. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/rwa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan militer ke Iran dalam operasi yang oleh Pentagon dinamai Operation Epic Fury pada Sabtu (28/2/2026). Bagaimana situasi Iran terkini dan berapa jumlah korban yang jatuh?

Dalam Operation Epic Fury, beberapa kota besar di Iran menjadi sasaran, termasuk ibu kota Teheran, Qom, dan Kermanshah. Target utama adalah fasilitas militer, sistem pertahanan udara, lokasi peluncuran rudal dan drone, serta pusat komando Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Pada 1 Maret 2026, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menulis di akun Truth Social bahwa Khamenei telah tewas dan menyebutnya sebagai “salah satu orang paling jahat dalam sejarah”.

Ia mengatakan kematian tersebut merupakan bentuk keadilan dan menyatakan bahwa pemboman berat dan terarah akan terus dilanjutkan selama diperlukan untuk mencapai “perdamaian di Timur Tengah dan dunia”.

Trump juga mengklaim sebagian anggota militer Iran dan IRGC tidak lagi ingin bertempur dan membuka kemungkinan pembicaraan dengan kepemimpinan baru Iran.

Jumlah Korban Serangan AS-Israel ke Iran

Situasi keamanan di kawasan Teluk semakin memburuk dalam beberapa jam terakhir. Setelah terdengar sekitar setengah lusin dentuman keras di Doha, laporan Al Jazeera terbaru menyebutkan ledakan juga terdengar di Abu Dhabi, ibu kota Uni Emirat Arab.

Di Bahrain, Kementerian Dalam Negeri mengaktifkan sirene serangan udara dan mendesak warga segera menuju tempat aman terdekat.

Pemerintah juga menutup Jembatan Shaikh Khalifa bin Salman yang menghubungkan Manama dengan kota-kota di sekitarnya, serta mengimbau warga hanya menggunakan jalan utama jika benar-benar diperlukan. Ini menjadi sinyal bahwa ancaman serangan udara dianggap serius oleh otoritas setempat.

Sebelumnya, sirene juga telah berbunyi beberapa kali di Kuwait, di mana sistem pertahanan udara dilaporkan mencegat sebagian besar drone yang mendekati ibu kota. Militer Israel juga menyatakan Iran kembali meluncurkan rudal ke wilayahnya.

Media pemerintah Iran, seperti dikutip The Straits Times, melaporkan bahwa sebuah sekolah dasar khusus perempuan di kota Minab, Provinsi Hormozgan, ikut terkena serangan dan menewaskan sedikitnya 140 orang.

Serangan itu juga menewaskan sejumlah tokoh penting Iran, termasuk Menteri Pertahanan Amir Nasirzadeh, Komandan Garda Revolusi Mohammad Pakpour, dan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Pemerintah Iran kemudian mengonfirmasi kematian Khamenei dan menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.

Korban juga berjatuhan dari sisi AS. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan bahwa tiga personel militer Amerika tewas dan lima lainnya luka serius dalam operasi tersebut.

Sebagai balasan atas serangan 28 Februari, Iran meluncurkan serangan rudal ke Israel dan ke negara-negara Timur Tengah yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, termasuk Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, dan Bahrain. Rudal Iran menghantam sejumlah bangunan di Tel Aviv.

Di UEA, Bandara Internasional Dubai ikut terkena dampak serangan dan menyebabkan empat orang terluka. Pecahan drone yang berhasil dicegat juga memicu kebakaran kecil di bagian luar hotel Burj Al Arab. Beberapa ikon Dubai seperti Palm Jumeirah mengalami kerusakan akibat ledakan. Gedung-gedung tinggi di Abu Dhabi juga terdampak.

Serangan AS dan Israel ke Iran ini ditanggapi oleh Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, yang bersumpah akan melakukan “balas dendam dan pembalasan setimpal”.

Tak hanya Pezeshkian, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menulis di akun X miliknya @araghchi jika Iran punya pengalaman untuk bertahan dan menyerang.

“Pemboman di ibu kota kita tidak berdampak pada kemampuan kita untuk berperang. Pertahanan Mosaik Terdesentralisasi memungkinkan kita untuk memutuskan kapan—dan bagaimana—perang akan berakhir,” tandasnya.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra