tirto.id - Jimmy Lai (78), bos media Hong Kong dan pengkritik pemerintahan Cina divonis hukuman penjara selama 20 tahun pada Senin (9/2/2026). Siapa Jimmy Lai dan mengapa ia dijatuhi hukuman berat? Berikut profilnya.
Sebelumnya, Jimmy Lai divonis penjara selama 20 tahun usai Pengadilan Tinggi Hong Kong menyatakan bos media massa itu bersalah atas tuduhan konspirasi yang membahayakan keamanan nasional dengan kekuatan asing.
Dalam sidang putusannya, dikutip dari AP, hakim juga menyatakan Lai telah bersalah dalam konspirasi untuk menerbitkan artikel yang menghasut pihak asing, termasuk untuk menerapkan blokade dan sanksi ekonomi.
Pemberian vonis bagi Lai ini dikhawatirkan banyak pihak akan menjadi preseden buruk bagi kebebasan pers di kawasan Cina-Hong Kong yang terus memburuk. Seturut Reporters Without Borders, Hong Kong kini menjadi negara ke-140 dari 180 wilayah dalam indeks kebebasan pers dunia.
"Menawarkan dan menerbitkan kritik yang sah terhadap negara, yang sering kali melibatkan interaksi dengan platform dan audiens internasional, kini dapat dengan mudah ditafsirkan sebagai 'kolusi,'" kata Urania Chiu, dosen hukum Oxford Brookes University, mengungkapkan keheranannya atas vonis Liu seperti dikutip AP, Senin (9/2/2026).
Sementara itu, otoritas Hong Kong menyambut baik vonis atas Liu ini. Pemimpin Hong Kong John Lee menyatakan hal ini sebagai penegakan hukum yang "membawa kepuasan besar bagi rakyat".
Profil Jimmy Lai dan Rekam Jejaknya
Jauh sebelum divonis penjara kini, Jimmy Lai lebih dulu dikenal sebagai seorang taipan. Ia merupakan seorang pengusaha garmen kaya di Hong Kong. Bisnisnya dikenal lewat jenama Giordano yang didirikan pada 1981 dan kemudian mendunia.
Akan tetapi, tak seperti taipan lain yang berusaha untuk mempertahankan gaya hidup nyaman sepanjang usianya, Jimmy Lai juga dikenal sebagai taipan yang menggunakan kekayaannya untuk menentang kekuasaan.
Sejak medio 90-an, ia secara aktif menggunakan kekayaannya untuk mengkritik pemerintahan Cina dan Hong Kong sekaligus. Hal ini ia lakukan, setidaknya, lewat bisnis media massa.
Jimmy Lai dikenal keras terhadap Partai Komunis Cina karena ia semula adalah warga negara Cina. Lai lahir pada 1947 di Kanton (kini Guangzhou). Ia lahir dua tahun sebelum Mao Zedong memproklamasikan Republik Rakyat Cina (RRC) di bawah partai komunisnya.
Pada usia 12 tahun, Lai terpaksa harus menyelinap ke luar Cina demi mendapatkan hidup yang lebih baik. Ia kemudian memilih ikut sebuah kapal untuk menyelinap ke Hong Kong yang kala itu masih jadi wilayah Inggris.
Lai kemudian bekerja sebagai buruh anak di pabrik sarung tangan setiba di Hong Kong. Sejak itu, rekam jejaknya lekat dengan industri garmen.
Puncak kesuksesan Lai adalah ketika ia mendirikan Giordano pada 1981. Jenama ini kemudian berubah jadi jaringan merek dagang internasional dengan 1.600 gerai ritel di 30 negara.
Kesuksesan Giordano itu kemudian membuatnya memiliki kekayaan yang cukup untuk membuat suaranya didengar secara luas. Ketika unjuk rasa mematikan di Lapangan Tiananmen Beijing terjadi pada 1989, Lai menjadi salah satu pengkritik yang keras.
Tindakan keras pemerintah Cina terhadap pengunjuk rasa di Tiananmen membuat Lai menyebut Perdana Menteri Cina kala itu, Li Peng, sebagai "anak telur kura-kura" - sebuah makian dalam bahasa Mandarin. Tak hanya itu, Giordano juga kemudian mencetak kaus khusus untuk mendukung gerakan protes pro-demokrasi di Tiananmen.
Sejak saat itu, Pemerintah Cina menaruh perhatian kepada Lai dan menganggapnya sebagai gangguan. Hal ini kemudian membuat Lai menghadapi tekanan politik dari Beijing. Hal ini membuat Lai menjual saham Giordano pada 1996.
Akan tetapi, bukannya bungkam karena tekanan Beijing, Lai justru mendirikan Next Magazine pada 1990 dan Apple Daily pada 1995. Dua media itu kemudian jadi sarana Lai mengkritik RRC dan otoritas Hong Kong.
Menurut Direktur SOAS China Institute yang berbasis di Inggris, Steve Tsang, keberpihakan Lai itu kemudian membuatnya dianggap sebagai penentang Partai Komunis Cina dan pengkhianat.
"Dari perspektif Beijing, Jimmy Lai menonjol karena ia adalah taipan paling terkenal dan paling gigih yang menggunakan kekayaannya untuk mendukung gerakan demokrasi di Hong Kong, dan dengan demikian menantang otoritas PKT," kata Tsang, dikutip dari publikasi Al Jazeera, Kamis (28/8/2025).
Ketika gelombang protes pro-demokrasi pecah di Hong Kong pada 2014, Lai bahkan ikut turun ke jalan dalam barisan "Gerakan Payung" itu. Apple Daily juga rajin menerbitkan artikel yang simpatik terhadap gerakan itu.
Lai kembali turun ke jalan saat gelombang protes pro-demokrasi Hong Kong kembali terjadi pada 2019 lalu. Gelombang protes ini mengguncang pemerintah setempat, membuat kota itu jadi arena bentrokan massa aksi dengan petugas keamanan selama berbulan-bulan.
Dalam kapasitasnya sebagai pemilik Apple Daily, Lai mengkritik kekerasan aparat keamanan oleh otoritas Hong Kong dan Beijing, juga menyerukan Wakil Presiden AS Mike Pence dan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo untuk berbicara tentang situasi Hong Kong dalam sebuah pertemuan.
Pertemuan dan desakan itu kemudian jadi inti persoalan dalam sidang yang membuat Lai dihukum selama 20 tahun penjara.
Jalannya persidangan Lai dimulai pada 2020 saat Beijing memberlakukan undang-undang keamanan nasional di Hong Kong. Undang-undang ini telah digunakan untuk menangkap para aktivis pro-demokrasi di Hong Kong, Lai adalah salah satunya.
Lai ditangkap dan ditahan di penjara pada Desember 2020. Ia dipenjara tanpa proses peradilan terlebih dahulu. Sidang kasus Lai baru dilakukan pada Desember 2023, tiga tahun setelah ditangkap dan dibui.
Dalam sidang yang berlangsung panjang, jaksa menuduh Lai mendorong warga Hong Kong bergabung dalam protes anti-pemerintah pada 2019. Seruannya untuk AS agar menerapkan sanksi ekonomi juga dipersoalkan sebagai persekongkolan dengan kekuatan asing yang membahayakan negara.
Dugaan tuduhan itu, hukuman maksimal yang bisa dijatuhkan pada Lai sebenarnya adalah seumur hidup. Namun, pengadilan pada Senin (9/2/2026) telah menjatuhkan hukuman 20 tahun penjara. Meski begitu, pihak keluarga menganggapnya sebagai hukuman seumur hidup karena usia Lai yang telah menginjak 78 tahun.
Pada Juli 2020 lalu, sesaat setelah undang-undang keamanan nasional diberlakukan di Hong Kong, Lai mengkritiknya dan menyebut bahwa "Hong Kong telah mati".
"Jika saya harus masuk penjara, saya tidak keberatan. Saya tidak Peduli. Itu bukan sesuatu yang bisa saya khawatirkan, saya hanya akan rileks dan melakukan apa yang harus saya lakukan," katanya dalam pernyataan untuk AP.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































