tirto.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, meminta masyarakat tidak melakukan panic buying bahan bakar minyak (BBM) di tengah kabar mengenai penutupan Selat Hormuz pasca serangan Amerika Serikat (AS)-Israel ke Iran.
Bahlil mengatakan pemerintah telah menghitung kapasitas penyimpanan minyak nasional dan memastikan bahwa stok yang tersedia masih berada dalam batas aman. Menurutnya, informasi yang beredar soal stok BBM yang hanya tersisa 20 hari kerap menimbulkan kekhawatiran berlebihan di masyarakat.
"Sekarang [stok] minyak kita 23 hari. Jadi itu artinya bahwa standar kepemilikan kita, minyak kita, itu aman. Jadi, nggak perlu ada panik, nggak perlu. Suplai lancar,” kata Bahlil saat ditemui di kantor DPP Partai Golkar, Palmerah, Jakarta Barat, Jumat (6/3/2026).
Bahlil menjelaskan, kapasitas penyimpanan minyak tanah air mampu menampung kebutuhan selama 25 hari. Menurutnya, kapasitas penyimpanan tersebut memang sudah menjadi kondisi yang berlangsung sejak lama, bukan situasi baru yang terjadi belakangan ini.
“Jadi tempat storage-nya itu hanya 25 hari. Dari dulu ini, bukan baru sekarang, dari dulu,” ujarnya.
Bahlil menyebutkan standar minimal ketersediaan stok minyak nasional adalah di atas 20 hari. Saat ini, menurut dia, stok minyak nasional masih berada di angka 23 hari sehingga masih berada di atas batas minimal tersebut.
Ia juga menjelaskan bahwa selama ini sebagian pasokan minyak mentah Indonesia berasal dari kawasan Timur Tengah. Namun, pemerintah telah menyiapkan alternatif sumber pasokan dari negara lain untuk mengantisipasi gangguan distribusi akibat konflik di kawasan tersebut.
“Kita itu ambil dari Middle East itu minyak mentahnya, bukan minyak jadi, crude-nya, bahan bakunya. Itu 20 sampai 25 persen. Tapi saya sudah dapat penggantinya. Kami dengan Pertamina sudah switch dari Middle East kita ambil di Amerika, kemudian dari Nigeria, dan dari Brasil. Jadi tidak perlu ada panic buying,” tutur Bahlil.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa untuk kebutuhan solar, Indonesia sudah mampu memproduksinya secara penuh di dalam negeri. Karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir mengenai ketersediaannya.
Sementara untuk bensin, impor Indonesia tidak berasal dari Timur Tengah, melainkan dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Selain itu, pemerintah juga terus membangun industri kilang di dalam negeri untuk memperkuat kemandirian energi.
“Bensin ini tidak kita impor dari Middle East, tidak juga kita impor dari Amerika atau dari Afrika. Impor bensin kita itu dari Singapura sama Malaysia, dan sebagian kita bangun industri kilang kita dalam negeri,” kata dia.
Ia kembali menegaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi sehingga kondisi pasokan energi nasional tetap terjaga meskipun terjadi konflik di Timur Tengah.
“Jadi insyaAllah sekalipun terjadi peperangan di Timur Tengah, kondisi kita aman. Sekali lagi saya katakan aman. Jadi nggak perlu, jangan dengar ada provokasi-provokasi atau misinformasi yang keliru," tutupnya.
Penulis: Naufal Majid
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id




































