Menuju konten utama

Sekjen PBB Kecam AS-Israel dan Iran, Serukan Deeskalasi

Guterres menegaskan kembali bahwa Piagam PBB menjadi landasan utama bagi pemeliharaan perdamaian dan keamanan internasional.

Sekjen PBB Kecam AS-Israel dan Iran, Serukan Deeskalasi
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres berpidato di depan Dewan Keamanan PBB dalam pertemuan darurat di markas besar PBB, Minggu, 14 April 2024. (AP Photo/Yuki Iwamura)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), António Guterres, secara tegas mengutuk eskalasi militer besar-besaran yang terjadi di kawasan Timur Tengah, termasuk serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Bahkan, dia juga mengecam serangan balasan yang dilancarkan Iran ke beberapa negara di kawasan tersebut.

Dalam pidato kepada Dewan Keamanan PBB, Guterres menegaskan kembali bahwa Piagam PBB menjadi landasan utama bagi pemeliharaan perdamaian dan keamanan internasional. Ia mengingatkan semua negara anggota untuk menahan diri dalam hubungan internasional mereka dari ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap integritas wilayah atau kemerdekaan politik suatu negara.

Pernyataan itu, kata Guterres, mencerminkan tekanan PBB terhadap tindakan militer yang dianggap mengancam stabilitas dunia.

“Itulah sebabnya sejak pagi ini saya telah mengecam serangan militer besar-besaran oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Saya juga mengecam serangan balasan Iran yang melanggar kedaulatan dan integritas wilayah Bahrain, Irak, Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab,” ujar Guterres dalam pidatonya, dikutip Minggu (1/3/2026).

Menurut Guterres, tindakan militer semacam itu membawa risiko serius terhadap perdamaian dan keamanan internasional. Ia pun memperingatkan bahwa konflik yang terus meluas dapat menciptakan rangkaian peristiwa yang tidak dapat dikendalikan, terutama di kawasan paling rentan di dunia.

Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa masyarakat internasional kini menghadapi potensi konflik yang lebih besar dari hanya sekadar bentrokan regional.

Guterres juga menekankan bahwa tidak ada jalan alternatif selain penyelesaian sengketa secara damai. Ia menyerukan agar semua pihak segera menghentikan permusuhan dan kembali ke meja perundingan sebagai satu-satunya jalan keluar untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

“Perdamaian yang berkelanjutan hanya dapat dicapai melalui cara-cara damai, termasuk dialog yang sungguh-sungguh dan perundingan,” tegasnya.

Guterres juga mengungkapkan bahwa situasi di lapangan akibat eskalasi konflik di Timur Tengah berkembang sangat cepat dan penuh ketidakpastian. Ia menegaskan bahwa banyak laporan yang masih belum dapat diverifikasi secara independen, namun menunjukkan tingkat kekerasan yang mengkhawatirkan.

“Kedua, fakta. Situasi di lapangan sangat dinamis. Terdapat banyak laporan yang belum terkonfirmasi. Inilah yang kita ketahui,” ujar Guterres.

Menurut Guterres, sekitar 20 kota di Iran dilaporkan menjadi sasaran serangan, termasuk Teheran, Isfahan, Qom, Shahriar, dan Tabriz. Di ibu kota Teheran, ledakan besar dilaporkan terjadi di distrik yang mencakup istana kepresidenan dan kompleks Pemimpin Tertinggi Iran.

“Beberapa pejabat tinggi dilaporkan tewas, termasuk menurut sumber Israel. Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang belum dapat saya konfirmasi,” kata Guterres.

Ia menambahkan bahwa wilayah udara Iran telah ditutup dan negara tersebut berada dalam kondisi pemadaman internet hampir total. Serangan-serangan itu dilaporkan menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar.

Menurut media Iran, kata Gutteres, satu serangan udara menewaskan sedikitnya 85 orang dan melukai warga lainnya di sebuah sekolah perempuan di Minab, Provinsi Hormozgan,Iran. Sementara itu, sebuah sekolah di Teheran juga dilaporkan terkena serangan dan menyebabkan dua korban jiwa. Guterres memperingatkan bahwa tindakan militer telah dengan cepat meluas ke seluruh kawasan.

“Tindakan militer dengan cepat meluas di seluruh kawasan, menciptakan situasi yang semakin tidak stabil dan tidak terduga serta meningkatkan risiko salah perhitungan,” ujarnya.

Ia menyebutkan bahwa menurut sumber Israel, 89 orang mengalami luka-luka akibat serangan balasan Iran terhadap Israel, dengan dampak yang juga dilaporkan terjadi di Tepi Barat yang diduduki. Iran, kata Guterres, mengumumkan bahwa sebagai respons atas serangan udara AS dan Israel, Iran menargetkan aset militer AS.

Serangan-serangan tersebut dilaporkan menghantam wilayah sipil dan infrastruktur di sejumlah negara. Dampak tidak langsung akibat puing-puing yang jatuh juga dilaporkan terjadi di Lebanon dan Suriah.

Sebagian besar negara Teluk berhasil mencegat serangan Iran, namun Uni Emirat Arab melaporkan satu warga sipil tewas akibat puing-puing dari rudal yang berhasil dicegat. Di Irak, terdapat laporan serangan drone dan rudal dari kedua belah pihak.

Guterres juga mengungkapkan adanya laporan bahwa Iran menutup Selat Hormuz bagi pelayaran internasional, yang berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap stabilitas kawasan dan ekonomi global.

Ia menyesalkan bahwa eskalasi ini terjadi setelah putaran ketiga perundingan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi oleh Oman.

“Persiapan telah dilakukan untuk pembicaraan teknis di Wina minggu depan, yang akan diikuti oleh putaran baru pembicaraan politik. Saya sangat menyesalkan bahwa peluang diplomasi ini telah disia-siakan,” tekan Guterres.

Di akhir pidatonya, Guterres menyerukan penghentian segera permusuhan dan langkah de-eskalasi.

“Ketiga, kawasan dan dunia membutuhkan jalan keluar sekarang. Saya menyerukan de-eskalasi dan penghentian segera permusuhan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa alternatif dari langkah tersebut adalah konflik yang lebih luas dengan konsekuensi serius bagi warga sipil dan stabilitas kawasan. Oleh karena itu, ia seluruh negara anggota PBB untuk menegakkan hukum internasional, melindungi warga sipil, dan memastikan keselamatan nuklir.

“Marilah kita bertindak secara bertanggung jawab dan bersama-sama untuk menarik kawasan ini, dan dunia kita, menjauh dari jurang bahaya,” pungkas Guterres.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Farida Susanty