tirto.id - Ketegangan konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) memberikan dampak nyata bagi para Warga Negara Indonesia (WNI) yang menetap di Qatar. Lia Herlin, salah satu WNI yang tinggal di Doha, Qatar, membagikan pengalaman mencekamnya saat sebuah misil jatuh di wilayah Al Wukair, yang tak jauh dari tempat tinggalnya.
Suasana tenang di pagi hari seketika berubah saat Lia baru saja menyelesaikan aktivitas hariannya. Suara dentuman keras mulai terdengar terus-menerus, memicu kewaspadaan tinggi bagi warga setempat.
“Kalau aku kan posisinya lokasinya itu memang nggak jauh sih dari yang kejadian misil jatuh itu, kan. Jadi sekitar 20 menit lah. Kalau aku di Doha, nah kalau itu tuh di Al Wukair, nama daerahnya. Nah terus, jadi suara dentumannya tuh ada terus, Mbak,” ujar Lia kepada Tirto, Sabtu (28/2/2026) malam.
Lia pun mengungkapkan bahwa ponsel milik seluruh warga di Qatar berbunyi secara serentak. Katanya, pemerintah setempat mengirimkan sinyal darurat melalui notifikasi berbahasa Arab yang memerintahkan warga untuk tetap berada di dalam rumah.
“Alarm di handphone. Jadi kayak mereka ngasih tau bahwa ini loh ada alert nih untuk persiapan kalian jangan keluar rumah dulu. Jadi pemerintah Qatar ini memberi tau. Jadi bunyinya tuh bener-bener kencang. Semua handphone yang ada di sini bakal bunyi terus gitu,” tutur Lia.
Tak lama setelah alarm berbunyi, lanjut Lia, dentuman besar menyusul hingga getarannya terasa secara fisik ke dalam hunian apartemennya, meskipun jarak ledakan mencapai puluhan kilometer.
“Walaupun jaraknya berapa puluh kilometer tapi berasa sampai ke apartemen mbak. Karena kan kaca mungkin jadi kayak gegar gitu,” tuturnya.
Kejadian tersebut sempat membuat Lia tak percaya. Ia sebelumnya bahkan sempat mengira video-video misil berterbangan yang dikirimkan oleh teman-temannya di wilayah pinggiran adalah hasil rekayasa teknologi.
“Saya kira juga tadi itu kayak AI ya saya pikir. Tapi benar nyata. Alamatnya juga ada. Dan saya cek di Google juga alamat map saya nggak jauh dari lokasi itu. Dan bangunannya pun saya tahu gitu,” jelas Lia.
Ia menceritakan bahwa beberapa rekannya bahkan sempat mengabadikan momen tersebut saat sedang bersiap berbuka puasa. “Itu dekat rumah teman-teman saya. Jadi mereka lagi buka puasa tuh sambil videoan. Ini warga-warga yang di pinggiran itu mereka sambil videoin misil-misil lagi berterbangan gitu,” lanjutnya.
Meski situasi di pusat kota Doha masih terlihat berjalan normal secara natural, kecemasan warga tidak dapat disembunyikan. Lia menyebut adanya fenomena panic buying yang mulai terlihat di berbagai pusat perbelanjaan.
“Tadi aku lihat di sebelah rumah aku. Jadi udah banyak banget sampe belanja tuh. Stroller-stroller itu bener-bener penuh. Cuman aku sih nggak segitunya. Mungkin nggak tau kenapa ada yang kayak gitu sih,” terangnya.
Bukan hanya warga yang datang langsung, layanan pesan antar atau kurir online juga mengalami lonjakan permintaan yang luar biasa. Lia melihat banyak warga yang memilih tetap tinggal di dalam rumah dan mengandalkan aplikasi untuk belanja kebutuhan sehari-hari.
“Di luar tuh yang saya lihat tadi tuh orang-orang kayak Gojek online tuh yang belanja. Jadi mereka tuh belanja... banyak. Jadi kayak untuk pesanan sampe Gojek online itu bener-bener ngantri di depan supermarket,” ceritanya.
Lebih jauh, dampak konflik juga menyasar sektor pendidikan dan perkantoran. Untuk menjamin keamanan, pemerintah mulai mengimbau aktivitas belajar dilakukan secara daring. Lia menyebutkan bahwa mulai esok hari, Minggu (1/3/2026), anak-anak sekolah kemungkinan besar tidak akan menghadiri kelas fisik.
“Sebenarnya besok juga anak-anak udah pada nggak sekolah sih. Udah dari rumah gitu belajarnya. Ataupun ya online gitu lah. Atau diliburin lah gitu,” jelas Lia.
Sementara untuk sektor pekerjaan, Lia mengamati adanya kebijakan yang bervariasi bagi para pekerja migran termasuk WNI, di mana sebagian sudah mulai diminta bekerja dari rumah (WFH).
Terkait kebijakan keamanan, Lia menyebutkan bahwa Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) terus memantau sekitar 27 ribu hingga 28 ribu WNI di sana. Saat ini, status keamanan di Qatar ditetapkan pada tingkat Siaga 3.
“Kalau tadi hasil meeting sama Pak Dubes tuh dia menyarankan ini baru siaga 3 gitu. Jadi nggak usah terlalu yang panik kayak gimana, karena yang diserang itu emang pertama markas Amerika kan, militernya,” kata Lia.
Lia pun menyebut hingga saat ini, akses publik seperti listrik, sinyal ponsel, dan transportasi umum masih berjalan normal. Namun, warga melalui koordinasi KBRI telah diminta untuk melakukan persiapan mandiri, terutama terkait ketersediaan bahan makanan dan air minum di kediaman masing-masing.
Sebelumnya, melansir Reuters, Iran meluncurkan rudal ke sejumlah kota di kawasan Teluk Arab pada Sabtu, memicu rentetan ledakan, mengguncang kaca-kaca bangunan, dan membuat warga berhamburan mencari tempat berlindung.
Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Bahrain, yang seluruhnya memiliki base militer Amerika Serikat, menyatakan telah mencegat rudal-rudal Iran setelah Teheran bersumpah membalas serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Yordania juga dilaporkan turut mencegat rudal tersebut.
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Farida Susanty
Masuk tirto.id

































